
☆☆☆
Nenek memandangi Satria yang sepertinya sedang tidak bergairah.
"Kamu ada masalah apa Satria? Nenek lihat kamu sedang tidak senang?" tegur Nenek.
"Tidak apa-apa Nek, Satria cuma sedikit kesal, supirku menyetir ugal-ugalan, dan tidak patuh sama Satria!" ucap Satria asal.
"Supir? memangnya kamu bawa supir? bukannya kalian cuma datang berdua?" tanya Nenek sambil memelorotkan kacamatanya.
Satria menunjuk ke arah Julia, "Itu Nek supirnya!"
Nenek memandang Julia, Nenek tertawa terbahak-bahak.
"Betul Julia?" tanya Nenek kemudian, masih saja tertawa.
"Tidak Nek,,, Julia ngebut tapi ugal-ugalan tidak. penumpangnya aja yang rewel Nek." sungut Julia.
Satria melotot ke arah Julia, bisa-bisanya dia minta dukungan Nenek.
"Sudah sudah,,,, tidak perlu bertengkar dengan masalah sekecil itu. Lebih baik kita sarapan!" sahut Nenek tak ingin dibantah.
Ketiganya menuju ruang makan yang berada di tengah rumah. Suasana hening saat mereka makan, karena Nenek tidak suka ada yang makan sambil mengobrol. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, itupun lirih.
Julia menyelesaikan makannya, dan minum segelas air putih hangat.
"Enak sekali Nek rica-ricanya, bisa gemuk aku kalau makan seperti ini terus." puji Julia.
"Kamu harus bisa masak itu Julia, Satria sangat menyukai rica-rica." jawab Nenek tersenyum.
"Tapi bukan buatan orang lain Nek, cuma rica-rica buatan Nenek!" selonong Satria.
"Besok Nenek ajari Julia bikin rica-rica, Satria, Nenek minta Julia menginap disini seminggu saja. Boleh?" tanya Nenek.
"Julia harus kerja Nek,,,, tidak bisa ia bolos!" ucap Satria tegas.
"Kamu kan Presdirnya Satria, kamu bisa memberi ijin!" sahut Nenek keras kepala.
"Neneeeekkk,,, Julia baru kerja dua hari, bagaimana pandangan karyawan lain?! bisa-bisa yang lainya iri Nek,,, dan itu sudah aturan baku di kantor." jawab Satria.
Ia tidak bisa membayangkan, tidak bertemu Julia, sehari saja rasanya lama. Julia diam saja.
__ADS_1
"Nenek mohon Satria, dua hari saja ya?" pinta Nenek. "Nenek masih ingin mengobrol dengan Julia lebih lama."
Terdengar desahan dari bibir Satria.
"Baiklah,,,, dua hari." jawab Satria dingin.
Susah memang menjelaskan aturan sama Nenek, Satria pasti mengalah. Wajah Satria jadi sendu. Sementara Julia malah merasa senang. Julia mencium pipi Nenek.
Satria melihat itu dengan gusar, awas saja kau Julia, akan aku balas nanti. bathinnya mengancam.
Seharian Satria dibiarkan sendiri oleh Nenek, ia malah asyik dengan Julia, dari menyiapkan makan siang, lalu mengobrol di teras, kadang terdengar suara tawa dari keduanya. Satria merasa tersisih, biasanya ia yang bermanja-manja dengan Neneknya.
Sore harinya Satria memanfaatkan waktu dengan jalan-jalan sendiri di sekitar rumah. Di dapur Nenek dan Julia bikin cemilan untuk teman minum teh. Keduanya terlihat kompak.
Jam 4 sore sebelum mereka mengobrol di teras, Nenek pamit mandi. Moment itu Satria manfaatkan untuk mendekati Julia.
Satria menundukkan kepala ke wajah Julia.
"Pintar sekali aktingmu Julia!" ejek Satria.
"Akting? apa maksudmu Mas?!" tanya Julia.
"Kalau memang Mas ga suka aku dekat sama Nenek, tidak apa. Aku akan bilang dan pamit sama Nenek." tegas Julia.
"Iisshhh jangan seperti itu Julia!!! Nenek bisa memarahiku!" ucapnya kesal.
Julia tertawa lebar, ternyata Satria takut sama Nenek. Julia baru berhenti tertawa saat Satria menjitak kepala Julia.
"Auwww!! Sakit tau,,,, !! Julia meninju lengan Satria, keduanya seperti itu tak ada habisnya, seperti anak kecil yang sedang berkelahi. Sampai tak tahu malu, mereka berkejar-kejaran di taman belakang, yang satu ingin membalas yang lainnya. Sampai Julia terpeleset, Satria berusaha menangkap Julia yang akan jatuh ke turunan menuju kolam ikan Nenek. Keduanya bergulingan di rumput,,,, dan berhenti di rumputan datar, Julia berada di bawah Satria, Satria menahan punggung Julia. Mereka bertatapan cukup lama,,,, sambil terengah-engah. Tak sadar Julia merasa nyaman berada di bawah Satria, Ia menatap Satria diambilnya rumput kering yang menempel di pipi Satria. Begitupun sebaliknya Satria memandang Julia dengan pandangan penuh cinta. Keduanya hampir saja berciuman, tapi gagal, saat sayup-sayup mereka mendengar teriakan Nenek memanggil. Ketika akan berdiri, Satria sedikit modus, setengah menjatuhkan diri dan mencium bibir Julia sekilas, membuat Julia tersentak kaget. Ia mendorong keras tubuh Satria yang masih berada diatasnya. Satria berdiri dan meraih tangan Julia, membantunya berdiri.
Setelah Julia berdiri, ia iseng mendorong Satria ke arah kolam ikan. Dan,,,,
Byuuuuurŕrrr,,,,,,!!
Satria tercebur kedalam kolam. Sontak wajah Satria memerah karena marah.
"Juliaaaaaaa!!!!" teriaknya,,,,
Julia berlari ke arah Nenek sambil tertawa senang. Sampai di depan Nenek, Julia terengah-engah.
"Ada apa Julia? mana Satria?" tanya Nenek. Julia menunjuk kearah Satria yang berjalan cepat ke arah mereka. Nenek memandang Satria penuh tanda tanya, tapi seketika itu juga Nenek ikutan tertawa.
__ADS_1
Julia sembunyi dibelakang Nenek. Satria mengejar Julia, ditariknya tangan Julia, dipeluknya sampai Julia ikutan basah. Nenek memukul Satria,,,,
"Stop Satria!!!! tidak sopan, main peluk-peluk!!" hardik Nenek sambil memukul Satria dengan kemoceng.
Keduanya berhenti. Nenek melototi Satria.
"Sudah sana pergi mandi semuanya!!" ucap Nenek galak. Satria dan Juliapun berhamburan pergi ke kamar mandi di dalam kamar masing-masing.
Di kamar mandi, Julia tersenyum puas sudah mengerjai Satria. Sedangkan Satria ia menggerutu dan membuat rencana balas dendam pada Julia.
***
Malam minggu, Nenek mengajak Satria dan Julia mengadakan Barbeque di taman belakang. Nenek dan Julia menyiapkan semua bahan, ada daging kambing yang dipotong kecil, paprika hijau dan merah, bawang bombay, dan sosis. Satria menyiapkan api diatas perapian, dan meletakkan panggangan diatasnya.
Satria bolak balik melirik Julia yang sibuk bersama Nenek, tak lama bi eroh dan anak perempuannya membawa seteko besar es teh, dan beberapa gelas yang sudah terisi es teh. Seru sekali malam minggu ini,,, terlihat rona bahagia di wajah Nenek, dan juga Julia. Satria merasa senang karena Julia bisa membuat Nenek menyayanginya. Satria ingat betul, Nenek tidak begitu menyukai Srianti mantan istrinya dulu.
Satria memanggang semua bahan, ia begitu semangat melakukan semuanya untuk orang-orang yang ia cintai.
Nenek menyomot daging kambing yang telah matang, lalu menyuapkan ke mulut Julia, pemandangan yang begitu menyenangkan, kadang Satria merasa iri pada Julia, karena Nenek amat sangat perhatian padanya.
"Uh Nenek, belum aja matang semua, sudah nyomot terus?! buat Satria mana Nek?!" Satria bersungut manja pada sang Nenek.
"Oh kamu mau disuapin juga Satria? hmmm ini makan,,,,." Nenek menyuapi Satria juga dengan penuh kasih.
"Oaaahhmm udah jam berapa ini Julia? Nenek mengantuk,,,,,." ucap Nenek sambil terus menguap, mata Nenek jadi berair.
"Jam 9 lebih Nek,,, Nenek mau tidur? yuk aku temani Nenek." ucap Julia.
"Sudah Nenek masuk sendiri saja, kamu mengobrollah dengan Satria." ucap Nenek. Nenek segera masuk, diikuti bi eroh dan anak perempuannya.
Tinggal Julia dan Satria yang meneruskan acara.
***
♡
♡
♡
( bersambung,,,,,, )
__ADS_1