
Satria menyupir mobil tak tentu arah, ia masih berputar-putar di sekitaran ibukota, kadang ia menghentikan mobilnya, untuk sekedar melamun, lalu kembali melaju.
Ponsel Satria berdering, dari Srianti rupanya.
"Hmmmhhh malas sekali rasanya ditelpon Sri. tapi angkat sajalah." bathin Satria.
"Halo?" sapa Suara di ujung telpon.
"Hmmm ya ada apa?" sahut Satria malas.
"Mas, bisa tidak ke rumah? Sandrina perlu buku-buku, tapi aku tak bisa mengantarnya ke toko." pinta Srianti beralasan.
"Memangnya dia perlu buku apa? biar aku belikan, nanti aku suruh orang untuk mengantar." sahut Satria.
"Tidak bisa Mas,,,,,! Sandrina juga ingin bertemu Ayahnya. Ayolah? kasihan dia! jangan anak lakimu saja yang kamu perhatikan!" bujuk Srianti.
Satria tak lekas menjawab, ia mematikan telpon dan segera melajukan mobil menuju rumah Srianti.
***
Satria mengetuk rumah Srianti yang dalam keadaan sepi. Ia tak tahu saat ini Sandy berada di luar kota mengurusi bisnisnya.
"Hai Mas,,,, ayo silahkan masuk!" sapa Srianti, saat membukakan pintu untuk Satria.
Satria masuk dan melihat ke sekeliling.
"Kok sepi? dimana Sandy? dan Sandrina?" tanya Satria dingin.
"Yah suamiku sedang keluar kota, Sandrina masih tidur dari siang, sudah jam lima, tapi susah sekali dibangunkan." ucap Srianti.
"Mas, aku ikut prihatin atas apa yang sudah terjadi antara Julia dan Daffin, kamu baru percaya kan? mereka memang ada hubungan khusus. Tapi kamu tak pernah percaya padaku dari dulu! surat yang dulu itu contohnya!" ucap Srianti memanasi.
"Sudahlah Sri, hubunganku dengan Julia baik-baik saja, itu hanya salah paham!" ucap Satria menutupi.
"Tidak mungkin! wajahmu saja kelihatan murung Mas! aku yakin kamu pasti kecewa kan?!" tanya Srianti sok tahu.
"Kalau tidak ada yang perlu aku lakukan lagi disini, lebih baik aku pulang" sahut Satria, ia bangkit dari duduknya.
"Mas tunggu dulu! aku bangunkan Sandrina, biar dia bertemu denganmu. Mas mau minum apa?" ucap Srianti menawarkan.
Satria bergidik membayangkan, waktu ia ditawari kopi oleh Srianti, dan kemudian terasa pusing dan,,,,,
"Sudah tidak usah, aku baru saja minum diluar tadi." ucap Satria menolak. Srianti jadi kikuk, jangan-jangan Satria curiga kepadanya, seperti waktu itu.
"Baiklah,,,,, aku ke kamar Sandrina dulu." ucap Srianti, ia kecewa, dan masuk ke dalam.
Sandrina yang baru saja bangun tidur, berlari menghambur ke pelukan ayahnya.
"Ayah,,,,, kakak kangen ayah!" ucapnya manja, ia bergelayut di pangkuan ayahnya.
"Iya ayah juga kangen kakak. gimana sekolahmu?" tanya Satria, sambil menciumi pipi sandrina.
"Alhamdulillah yah,,, nilai kakak bagus-bagus loh,,,, kan anak ayah?" ucapnya bangga.
"Iya doooong,,,, anak ayaaaahh,,,,!" Satria ikutan bangga.
"Yah dek Arga kok ga diajak? kakak kangen,,,," ucap Sandrina lagi.
__ADS_1
Srianti menatap keduanya dengan tatapan haru. Tapi ia masih belum senang, karena susah untuk mendapatkan Satria kembali.
"Ya kakak dong yang ke rumah ayah,,,, kan Kakak harusnya ikut ayah?" sahut Satria.
"Ayah ini gimana? kan Mama sering sendirian di rumah yah, jadi kakak nemenin Mama!" ucap Sandrina sambil menoel hidung ayahnya, seperti orang dewasa saja.
"Lah katanya kakak kangen sama dek Arga? sama Bunda kangen juga tidak?" tanya Satria usil.
"Iya dong,,,, kakak juga kangen Bunda! kangen masakan Bunda yang uenaaakkk bangeettt,,,,." ucap Sandrina memuji masakan Julia. Srianti jadi cemburu dibuatnya. Satria tertawa mendengar sang kakak bicara.
"Yah,,, kakak pengen belajar bareng Bunda. Bunda sabaran kalau ngajarin kakak." ucapnya sambil melirik sang Mama.
"Iya kakak sayang,,,, tapi sekarang Bunda di tempat Nenek." jawab Satria.
"Sandrin, kamu mandi dulu ya sayang,,,, sudah sore!" potong Srianti yang merasa gerah, anaknya terus memuji saingannya. Sandrina bangkit dari pangkuan ayahnya.
"Yah, kakak mandi dulu ya? ayah jangan pergi!" ucapnya, tatapannya memohon.
"Iya sayang,,, mandilah sekarang." sahut Satria.
Sandrina lalu berlari masuk ke dalam, sementara Srianti masih duduk menemani Satria.
"Mas, temanilah Sandrina belajar, biar ia dekat denganmu." pinta Srianti. Satria yang mendengar ucapan Srianti, tertawa.
"Kenapa kamu memintaku? bukannya kamu Mamanya? dan dia ada disini! kalau ia di rumah, pasti aku ajari. Jangan menyuruh orang lain perhatian pada anak, sementara kamu sendiri sibuk dengan urusanmu!" ejek Satria. Wajah Srianti memerah karena kesal.
***
Sialan,,,, kenapa aku masih saja belum bisa membuat Satria suka lagi padaku. Dan menyebalkannya, Sandrina ikutan memuji Julia di depannya. Bathin Srianti bergolak.
Ia menyiapkan makan malam, sementara Satria menemani Sandrina belajar di ruang tamu.
"Buku? buku apa? Kakak tidak minta buku,,, kan bukunya masih ada." ucap Sandrina polos. Satria jadi kaget sendiri, berarti ini hanya trik mantan istrinya, agar ia ke rumah. Entah apa maksudnya, tapi Satria terkekeh sendiri mengetahui kekonyolan Srianti.
"Oke,,, tapi kalau kakak perlu apapun, kakak telpon ayah sendiri ya?" pinta Satria.
"Siaaaapp Boooossss!!!" sahut Sandrina sambil memberi hormat.
Srianti masuk ke ruang tamu, ia menawari Satria untuk makan malam bersama, yang langsung ditolak Satria.
"Kak, kakak makan dulu sama Mama ya? Ayah pulang dulu." ucap Satria.
"Yaaaahhh,,,, baru aja ketemu sebentar! masa Ayah pulang?" ucap Sandrina sambil cemberut.
"Habis gimana? Ayah kan udah ditunggu Bunda dan dek Arga untuk makan malam juga?" Satria membujuk Sandrina.
"Katanya Bunda di tempat Nenek,,,,,?!" sahut Sandrina sambil mengedikkan bahu persis orang tua.
"Hehe iya,,,, kan ayah mau nyusul Bunda?" jawab Satria kikuk, sambil mengusap rambutnya.
"Ya udah,,,, tapi malam minggu ayah jemput kakak!" pintanya manja.
"Siaaappp Boooossss!" ucap Satria terkekeh, menirukan Sandrina. Ia lalu berpamitan pulang pada Srianti dan Sandrina.
"Aku pulang dulu Sri!"
Srianti cuma menatap kecewa kepergian mantan suaminya.
__ADS_1
***
Dalam perjalanan pulang Satria kembali memikirkan Istrinya. Ia kalut sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk nongkrong di cafe sendirian.
"Mas, saya minta kopi espressonya satu ya?" pinta Satria pada pelayan cafe.
"Baik Pak, ada lagi? makannya apa Pak?" tanya pelayan.
Satria membolak balik buku menu.
"Emmm,,,, nasi goreng seafood satu." ucap Satria lagi.
"Baik Pak,,,, mohon ditunggu. Terima kasih." ucap pelayan, sambil menulis pesanan Satria.
"Oh iya ada rokok? saya minta satu bungkus kalau ada." tambah Satria lagi. Tak biasanya Satria merokok, tapi malam ini sangat ingin mengisapnya.
"Baik Pak,,,." sahut pelayan.
Satria mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang ada di cafe. Ramai sekali pengunjung.
Pelayan datang membawa rokok dan kopi pesanan Satria, tapi ia masih harus menungu nasi goreng pesanannya. Sambil menunggu ia menyalakan rokok satu batang. Satria mengisapnya perlahan, tapi karena hampir jarang merokok, ia terbatuk.
"Uhuk,,, uhuk,,,,!"
"Damn,,, lama tak merokok, jadi batuk?" bathinnya.
Satria mengepulkan asap rokok begitu nikmatnya, sampai tidak sadar sepasang mata mengawasinya.
"Tumben banget si Bos merokok? pasti lagi galau lagi dia." bathin Rico terkekeh, ia menggandeng Santi untuk mendekati sang Bos.
"Met malam Bos!" sapa Rico, bikin Satria terkejut.
"Nah, kamu Rico? sempit banget ya ibukota? masih saja ketemu kalian?" jawab Satria terkekeh. Lalu menyalami Rico dan Santi.
"Begitulah Bos,,, tapi ngomong-ngomong kok sendirian aja? mana sang Nyonya?" tanya Rico.
"Uhuk,,,,,!" Satria terbatuk lagi.
"Udah deh Bos, jangan ngerokok lagi. Dari tadi batuk gitu kok?" ejek Rico terkekeh.
"Julia di tempat Nenek Ric." ucap Satria datar.
Santi menatap Rico penuh tanda tanya, Rico mengedikkan bahu, karena ia tidak menceritakan soal Julia pada istrinya.
Rico hanya membathin, berarti masalah mereka belum selesai, karena tadi siang Satria mengamuk di kantor, sampai menendang pot tanaman.
"Jadi bagaimana soal foto itu?" tanya Rico, membuat Satria membuang mukanya ke arah pengunjung lain.
"Entahlah Ric, come on,,, tak perlu kita bahas masalah itu! aku akan mengabaikan semuanya, dan melihat sampai dimana dia akan bertindak!" sahut Satria sengit.
"Maaf Mas, sebenarnya ada masalah apa sih? foto apa yang kalian bicarakan?" tanya Santi memberanikan diri. Ia curiga pasti ada hubungannya dengan Julia, sampai ia menginap di rumah Nenek Satria.
Gantian Satria dan Rico saling berpandangan, atas pertanyaan Santi.
♣️
♣️
__ADS_1
♣️
( Bersambung,,,,, )