
Kriiiiiinggggg,,,,,, kriiiiiiinngggg,,,,,
Suara alarm ponsel kembali terdengar,,,, sudah 3x berulang alarm berbunyi, tapi si empunya malah semakin menarik rapat selimutnya.
"Arggghhhhh,,,," Satria terbangun dari tidurnya setelah keempat kalinya alarm bunyi. ia merentangkan tangannya, memutar pinggangnya ke kanan dan ke,,,,
"buggghhh!" ia terjatuh karena terlalu di pinggir saat memutar pinggangnya.
"Aduuuuhh siaaalll!! Satria meringis kesakitan sambil memegang pinggiran spring bed untuk mencoba berdiri dan duduk.
Belum lagi ia menikmati duduknya dan mengelus pinggulnya, pintu diketuk dari luar.
" Tok! tok! tok! "
Satria tak menyahut, ia masih saja memegangi pinggangnya. Rasanya sakit sekali, ia sampai terpincang saat berjalan sedikit.
"Tuan?!" panggil seseorang diluar kamar.
"Iya Pak amad! Saya sudah bangun, tidak perlu mengetuk pintu lagi!" ucap Satria bersungut-sungut.
"Baik Tuan, ohya kopinya Tuan, sudah saya buatkan, tuan mau minum kopi di ruang makan atau di kamar?" ucap pak amad lagi dari luar.
Sudah menjadi kebiasaan tuannya, Satria menyeruput kopi tiap jam 06.30 pagi, tapi kali ini rupanya Tuannya telat bangun hingga jam 07.00 Satria belum keluar kamar.
.
.
.
Dengan kesal Satria berjalan gontai untuk membuka pintu kamarnya, begitu melihat Pak Amad yang sedang membawa nampan berisi teko kopi dan cangkir, Satria menariknya agak kasar.
"Kemarikan kopinya, aku minum di kamar saja" sahut Satria ketus.
Pak Amad geleng-geleng kepala dengan tingkah tuannya.
Ia mengikuti tuannya masuk kamar, dan menuju ke jendela untuk menyingkap gordyn, agar cahaya matahari leluasa masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuk tuannya.
Masih banyak lagi yang dilakukan Pak Amad di kamar Tn. Satria, ia melap meja kerja, kursi, sofa kulit, dan kusen-kusen jendela, tak lalai ia bersihkan. Tn. Satria sangat tidak suka kotoran dan debu menempel di perabotnya, ia juga tidak mengijinkan pelayan lain memasuki kamarnya, kecuali Pak Amad.
"Semua sudah saya siapkan Tuan, saya pamit ke bawah dulu." ucap Pak Amad sambil menganggukan kepala.
"Ya Pak!" sahut Satria tanpa mengucapkan terimakasih.
.
.
Sudah 30 tahun Pak Amad menjadi asisten RT di rumah orangtua Satria, sejak Satria berusia 5 tahun, dimana masa kecil Satria sangat menyenangkan walaupun ia terlahir menjadi anak tunggal, tapi ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Tak terkecuali Pak Amad, ia sangat sayang padanya, ia yang selalu menggendong satria dikala Tuan Putera, Ayah dari Tuan Satria kelelahan menggendong anak tunggalnya. Karena Tuan Putera juga orang yang sibuk, maka Tuan Satria kecil selalu bermain dengan Pak Amad, ia selalu ingat, Tuan kecilnya itu suka sekali bermain sepeda, sampai sekarang sepeda kesayangan Tuan Satria masih tersimpan rapi di gudang. Pak Amad tidak pernah lupa membersihkannya sampai sekarang, walaupun sudah tidak terpakai lagi. Sepedanya itu tidak juga berpindah tangan kepada Nona Sandrina, putri semata wayang Tuan Satria, karena Nyonya Srianti, mamahnya Sandrina melarang puterinya bermain sepeda. Saat Satria menikah di usia 25 tahun, Pak Amad mengikuti ke rumah kediaman Satria dan istrinya.
Karena cuma Pak Amadlah yang paling mengerti kebiasaan tuannya itu.
.
.
.
.
Satria memiliki anak perempuan yang sekarang berusia sekitar 8 tahun, putrinya ini bernama Sandrina dan ia tinggal bersama mantan istrinya, Srianti, dan suami Srianti yang sekarang, yang usianya terpaut 5 tahun lebih muda dari Srianti. Yah begitulah, mungkin Srianti merasa kurang perhatian dari Satria yang terlalu sibuk berbisnis, hingga ia akhirnya berselingkuh dengan daun muda.
Entahlah, sebenarnya ia bisa saja meminta hak asuh atas putrinya ini, apalagi perceraian ini disebabkan istrinya yang selingkuh.
Tapi sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab ia takkan membiarkan anaknya kekurangan kasih sayang mamanya.
Ia membiarkan anaknya bersama mamanya, dan sekali waktu, entah seminggu sekali atau dua minggu sekali Satria menengok Sandrina anaknya.
Walaupun kenyataannya, ia jarang bisa mengunjungi anak perempuannya, karena pekerjaan sangat menyita waktunya, dan alasan sebenarnya ia malas bertemu dengan Srianti, mantan istrinya, yang selalu rutin mengikuti perkembangan dirinya. Ia merasa risih.
***
Satria meminum kopinya tergesa,
__ADS_1
"Uhuuukkk!" Satria tersedak
ia mendengus kesal, karena telah terlambat bangun, dan tidak bisa menyesap kopinya dengan nikmat.
Biasanya ia menikmati secangkir kopi, sambil membuka ponselnya untuk membaca kabar terhangat seputar bisnis dari situs forbes.
.
.
Lima menit kemudian, ia bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar mandi, ia membuka kaos tidur dan masih mengenakan boxernya sambil berkaca.
.
.
.
Mencukur kumis dan cambangnya yang tidak pernah ia biarkan tumbuh, Satria sangat menyukai kebersihan dan keklimisan wajahnya.
Meskipun ia sudah memiliki anak, badannya masih tegap dan walaupun perutnya agak buncit, ia tetap tampak gagah dan tampan. ( mdh2an readers gada yg bilang gelaaaayyy 🤭🤭🤭)
.
.
Tak heran masih banyak perempuan muda yang jelalatan kalau ia lewat.
.
.
.
Lanjuutttttt?
__ADS_1