
🌷🌷🌷
Ternyata memang melelahkan menjadi Raja dan Ratu sehari, rasanya telapak tangan menjadi tebal karena bolak balik berjabat tangan dengan para tamu undangan. Hingga jam 11 malam, tamu-tamu mulai berkurang. Anggota keluargapun bernafas lega, tak terkecuali Satria dan Julia.
Julia merasa gerah, lalu segera ia copot gaun panjang berwarna merah yang ia kenakan malam itu. Tapi karena kelelahan, Julia tak juga bisa menggapai relsleting yang ada di belakang gaun. Satria yang sudah mengenakan piyama dan berbaring di tempat tidur pengantin, mendekat, ia merangkul pinggang Julia dengan gairah.
"Aduh Mas, bukain ini dulu dong, rasanya sudah tidak nyaman." ucap Julia putus asa.
"Oke sayang,,,,." ucap Satria, tangannya menarik relsleting gaun Julia, seketika ia baru melihat kemulusan dan betapa putihnya kulit punggung Julia. Keusilannya pun mulai, dikecupnya bahu Julia yang sudah terbuka.
"Mas, bentar dong,, geli tau?! emmhh,,,.!" Julia merengek karena geli.
Bukannya menghentikan aksinya, Ia malah makin mengganas, dibiarkan gaun Julia jatuh ke lantai, tangannya sudah mulai meraba bagian depan Julia, sambil menciumi leher dan punggung Julia.
Julia mengerang kenikmatan,,,,
Keduanya sudah berbaring diatas ranjang, Satria berada diatas Julia, menciuminya tanpa ampun. Saat keduanya sudah tenggelam dalam lautan asmara, tiba-tiba Julia mendorong tubuh Satria menjauh,,,,
Satria terkejut,,,,
"Ada apa sayang?! kenapa kau mendorongku?" tanya satria memelas.
"A-aku ta-takut Mas, aku takut sakit!" jawab Julia lugu.
Satria sontak tertawa terbahak.
"Ya ampun sayang,,,, percaya padaku, aku akan melakukannya dengan hati-hati, oke?" ucap Satria menenangkan. Ia tersenyum melihat wajah Julia bersemu merah, karena ia memang belum berpengalaman.
Akhirnya karena merasa kasihan pada Julia, Satria menahan diri untuk tidak dulu menjebol gawang Julia. Ia hanya menciumi Julia dengan lembut, lalu tertidur.
***
Hari ketiga, Nenek, Pakde dan Budenya Satria, dan seluruh kerabat, berpamitan untuk pulang ke Jakarta, karena mereka pun harus menyiapkan acara ngunduh mantu disana.
Begitu pula dengan Rico dan Santi, keduanya ikut pamit dengan rombongan Nenek. Orangtua Julia melepas kepergian mereka dengan membawakan banyak oleh-oleh khas kota Cilacap.
***
Beberapa hari di rumah mertua tanpa melakukan apapun, membuat Satria merasa sungkan. Walaupun Ayah dan Ibu mertuanya itu sangat baik dan tidak pernah komplain, tapi tubuhnya sendiri yang protes keras karena tidak melakukan aktifitas apapun.
__ADS_1
"Yank, rasanya badanku ga nyaman nih, tiap hari cuma makan tidur doang." ucap Satria saat bangun tidur pagi hari.
"Trus mau gimana? kita sepedaan keliling komplek yuk? apa mau ke pantai?" tawar Julia kepada Satria suaminya.
"Boleh lah,,, kita sepedaan ke pantai!" ucap Satria sumringah.
***
Angin sepoi-sepoi menerpa kedua tubuh Satria dan Julia yang ngos-ngosan karena bersepeda dari rumah menuju pantai. Keduanya langsung bertelekan di bebatuan dermaga, sambil menyaksikan kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan, orang-orang yang sedang memancing, gambaran kehidupan orang di daerah pesisir sangat kentara.
"Sayang, pulau di seberang itu pulau apa?" tanya Satria.
"Oh itu? itu Pulau Nusakambangan Mas. Tempat rehabilitasi Narapidana kelas berat!" jawab Julia menjelaskan.
"Oh seperti itu toh penampakan Pulau yang konon katanya, sangat angker itu?!" tanya Satria antusias.
"Yah begitulah,,, tapi diujung pulau itu, ada pantai yang sangat indah, namanya pantai permisan, pasir pantainya berwarna putih. Aneka ikan hias banyak disana." jelas Julia lagi.
"Ohya? kamu pernah main kesana yank?" tanya Satria.
"Pernah Mas,,,, beberapa kali. Sekali waktu pernah juga main volley bertanding dengan Ibu-ibu lapas di dalam penjaranya." ucap Julia bersemangat saat cerita.
"Serius Mas,,,, ga kenapa-kenapa juga sih. Ya pertama masuk sih serem juga, diliatin sama napi-napi dari afrika yang hitam legam, besar-besar orangnya! Kebanyakan kasus narkoba. Awalnya sih serem, masuk lingkungan penjara, tapi napi disana malah jadi wasitnya saat kita tanding volley." jawab Julia terkekeh.
"Ha? jadi wasit? kok kamu ga takut yank?" tanya Satria detail.
"Ngeri ngeri sedap Mas,,,,." jawab Julia makin keras tertawa.
"Kok malah ngeri sedap? maksudnya gimana?!" tanya Satria penasaran.
"Nah habis sih Mas ini tanyanya ga berenti-berenti? ya banyak juga sih napi narkoba disana yang masih muda dan ganteng juga." ucap Julia bikin panas. Satria melotot mendengarnya.
"Hmmmhh jadi sekalian cuci mata kamu yank disana?" tanya Satria bernada cemburu.
Julia cuma tertawa, keras lagi.
"Masih banyak binatang buas disana?!" tanya Satria.
"Masih,,,, kadang ada babi hutan yang keluar, ular banyak, dan kalau beruntung, bisa ketemu macan juga disana." Julia melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
Ngomong-ngomong kok jadi kaya menjelaskan sesuatu ke anak-anak ya, banyak pertanyaan lah suaminya ini, bathin Julia terkekeh.
"Mas kita pesen minum yuk? haus nih,,,! kita pesen disitu." ucap Julia sambil menunjuk sebuah warung yang ada di dekat mereka.
"Ibu, pesen es degan 2 ya,,,, sama mendoannya 4 biji aja." ucap Julia pada pemilik warung.
"Iya Mba, ditunggu ya sebentar." jawab sang pemilik warung ramah.
Tak lama kemudian, es degan dan mendoan pesanan mereka datang. Berdua mereka menyantap dan menikmati hidangan khas warung tepi pantai.
Setelah lumayan kenyang, Julia mengajak Satria ke pasar ikan yang ada di wilayah itu. Ia membeli aneka macam ikan asin. Ada ikan jambal roti, ikan asin lendra, ikan asin tiga wajah dan juga terasi khas kota cilacap.
Jam 10 pagi, Julia mengajak Satria pulang ke rumah. Mereka juga mampir ke TPI atau Tempat Pelelangan Ikan, untuk melihat ikan-ikan segar yang dijual disana.
"Mas kayanya ga sanggup lagi deh aku naik sepeda, pahaku sakit Mas." ucap Julia.
"Ayo sayang, semangat!!! masa nyerah? biar sehat kita olahraga." ucap Satria tertawa.
Begitulah, pulang dari pantai merekapun mengayuh sepeda dengan santai, karena Julia sudah kelihatan lelah dan pegal. Tak lupa oleh-oleh ikan asin, ikan segar, dan juga kepiting berhasil mereka borong.
Di rumah Ayah dan Ibu, sudah menunggu kepulangan mereka dengan cemas. Keduanya saling mendahului untuk segera masuk rumah, berasa ingin segera mandi. Karena berebut, mereka tarik-tarikan di depan kamar mandi, sampai Ibu harus turun tangan menjewer keduanya.
"Kaya anak kecil saja kalian! kan bisa mandi berdua kalau ga mau diduluin?!" ucap Ibu.
"Memang boleh ya Bu?" tanya Satria sambil mengerling ke arah Julia tanpa malu sedikitpun. Muka Julia bersemu merah.
"Kan kalian suami istri? daripada berebut dan ribut?" ucap Ibu terkekeh.
"Sudah kalian mandi cepat, terus sarapan. Ibu yakin kalian belum sarapan kan?" ucap Ibu kemudian.
"Siaaapppp,,,,,,!" jawab Julia dan Satria kompak.
💓
💓
💓
( Bersambung,,,, walaupun pelan insyaa Allah kelar 😁😁😁 )
__ADS_1