
☆☆☆
Julia sangat tahu, kedatangan Srianti ke rumah pasti ada maksud tertentu, ternyata dugaannya benar, Srianti meminta tolong padanya, agar Mas Satria membatalkan gugatan hak asuh anak. Ia rasa alasan yang dikemukakan Srianti bukan karena ia takut kehilangan Sandrina. Karena ia sering mendengar, dari Nenek, dan suaminya sendiri, Sianti tidak pernah mengurus Sandrina dengan baik. Srianti terlalu sibuk dengan teman sosialitanya. Lagipula, toh Sandrina akan tetap diperbolehkan bertemu dengan mamanya, walaupun hak asuh anak jatuh pada Satria. Tapi tentu ada maksud lain, Srianti tidak ingin uang tunjangan untuk Sandrina akan berhenti ia terima, kalau Sandrina ikut dengan Ayahnya.
Julia masih diam mendengarkan permintaan tolong Srianti padanya.
"Aku tidak janji ya Mba soal ini, tapi akan aku bicarakan dengan Mas Satria." ucap Julia akhirnya, tapi karena Ia tidak ingin mengobrol lebih lama dengan Srianti.
***
Julia menemani Satria makan malam, suaminya ini makan dengan lahapnya, hingga tak menyadari suasana hati Julia yang sedang gelisah. Ia tetap menunggu suaminya selesai makan.
"Yank, kok kamu ga makan?" tanya Satria heran.
"Eh iya Mas, aku tadi udah makan banyak sore tadi, jadi sekarang belum lapar." ucap Julia.
"Makan apa? Ohya tadi Pak Amad bilang, katanya Srianti kesini?" tanya Satria, hampir saja membuat jantung Julia mau copot.
Julia diam sejenak, ia cuma balas memandang Suaminya dengan tatapan ragu.
"Tadi,,, iya Srianti datang kesini, ia meminta tolong padaku, soal,,,,,,?" kalimat Julia tercekat.
"Hak asuh anak kan?! sudah kuduga! Tapi tidak,,,, aku tidak akan membatalkan gugatan itu! walapun kamu memintanya! Yank,,,, percayalah padaku, kalau Sandrina disini, ia bisa lebih dekat denganmu! dan mamanya itu, tidak bisa menjadi contoh yang baik pada Sandrina. Itu maksudku!" ucap Satria meradang.
Julia terdiam, alasan Satria ada benarnya. Ia tidak ingin ikut campur mengenai Sandrina, karena Ibunya masih ada.
***
Julia sudah mengabari Srianti, bahwa ia tidak bisa merayu Satria untuk membatalkan gugatan hak asuh anak. Semua keputusan adalah keputusan Satria, Julia tidak berhak mencampuri.
Tapi Srianti malah sering mengunjungi Julia di rumahnya, yang membuat Julia merasa tidak nyaman.
Hari ini kebetulan Nenek akan mengadakan acara ngupati, atau acara syukuran untuk wanita yang hamil 4 bulan. Nenek datang dari pagi hari bersama Pak Madi dan Bi Eroh. Banyak sekali bawaan Nenek dari bogor, ada talas, ubi, dan juga buah-buahan untuk acara syukuran.
Suasana rumah yang tadinya sepi berubah menjadi ramai, Sandrina datang bersama Srianti. Terlihat dari aura wajahnya Sandrina sangat senang akan mempunyai adik. Bahkan ia sudah memiliki nama-nama untuk adiknya, yang langsung ia sodorkan pada Ayahnya. Ada ada saja, Julia sampai tertawa dibuatnya.
__ADS_1
"Bunda, kalau adikku perempuan aku pengen namanya Farah, kalau laki-laki, namain Haykal saja ya?" ucapnya dengan mimik yang lucu. Ternyata ia mendapat nama Haykal karena, di sekolahnya ada cowok namanya Haykal dan dia sangat cerdas.
Di usia Nenek yang sudah kepala 7, Ia masih energik, bahkan tidak terlihat lelah, menginstruksikan ini dan itu pada para pelayan. Julia sangat bahagia Nenek mempersiapkan semua untuknya.
"Pak Amad, apakah Ustadz Fikri sudah dihubungi? jangan lupa ba'da azhar nanti acaranya." tanya Satria pada Pak Amad.
"Sudah Tuan, insyaa Allah ia akan datang tepat waktu, janjinya." ucap Pak Amad.
"Terima kasih Pak, ohya saya mau ke kamar, apa Nyonya Julia diatas?" tanya Satria.
"Sepertinya iya Tuan." jawab Pak Amad.
Satria naik keatas untuk melihat istrinya, dari jam istirahat kantor dia pulang ke rumah, Ia belum melihat Julia, karena langsung mengecek persiapan pengajian untuk acara ngupati. Baru beberapa anak tangga ia lewati, seseorang memanggilnya.
"Mas bisa kita bicara sebentar?" tanya Srianti yang berada di belakangnya.
Satria menoleh.
"Sepertinya tidak ada yang harus kita bicarakan, setidaknya sekarang ini! aku mau menemui istriku!" jawab Satria cuek.
" Tolong Mas sebentar saja, soal Sandrina." Srianti memohon.
Julia kembali masuk ke kamarnya, dengan membanting pintu dengan keras.
Satria yang tersadar posisinya, langsung berlari masuk ke kamar, sementara Srianti tersenyum penuh kemenangan.
***
Satria langsung mendekati Julia, ia menarik tangan Julia yang berdiri mematung dekat jendela.
"Yank, itu tadi tidak seperti yang kamu pikirkan, Dia mau jatuh, aku menariknya biar dia tidak jatuh ke bawah." Satria menjelaskan.
"Tapi bukan dengan memeluknya juga kan?" ucap Julia sinis.
"Yank,,,, kamu cemburu?" tanya Satria, ia tersenyum melihat istrinya cemburu.
__ADS_1
"Siapa? siapa yang cemburu? itu tadi tidak etis dilihat orang Mas! itu saja!" jawab Julia jutek.
"Sayang,,, tidak boleh loh berkata kasar sama suamimu? Mas minta maaf ya kalau bikin kamu cemburu." Satria mengingatkan dengan lembut.
Satria merangkul Julia dari belakang, ia menciumi punggung istrinya dengan sayang. Ia merasa senang dicemburui istrinya. Walaupun Julia berusaha menyingkirkan tangannya dari pinggang Julia, Satria tetap memeluknya erat.
"Mas kasihan loh ini dedek bayinya,,, Mas kenceng banget meluknya." Julia merengek manja.
"Oke oke,,, tapi jangan cemberut lagi ya yank,,, lihat sini?!" Satria membalikkan tubuh Julia.
Lalu ia mengecup kening istrinya, sangat sangat penuh cinta,,,,
***
Semua kerabat dan tetangga sudah berdatangan, begitu juga dengan Ustadz fikri, pengajian empat bulanan Julia, sudah dimulai, setelah membaca doa-doa untuk ibu hamil dan calon bayi, Ustadz fikri menyampaikan tausyahnya selama 7 menit. Acara dilanjutkan dengan menikmati makanan yang sudah tersaji di meja.
Saat tamu-tamu pulang, mereka juga dibawakan bingkisan nasi kotak dan juga snack. Jam 5 persis acara ngupati selesai.
Srianti yang membantu membagikan bingkisan, bolak balik melirik Satria yang melepas kepergian tamunya satu persatu. Hal ini tak luput dari pandangan Julia, Ia begitu kesal, Srianti seperti masih mengharapkan Satria suaminya.
Sialnya Sandrina ingin menginap di rumah ayahnya dan ditemani mamanya. Padahal Nenek sudah berpesan agar Srianti tidak menginap di rumah Satria.
"Sri, biarkan Sandrina menginap disini, kamu pulanglah." ucap Nenek pada Srianti.
Tapi Srianti berkeras kalau Sandrina tidak biasa tanpa dirinya.
"Bagaimana bisa Nek? Sandrina tak biasa jauh dariku. Kalau memang tidak bisa, biar Sandrina pulang bersamaku." ucap Srianti.
"Tidak mau ma,,, Sandrin ingin menginap di rumah Ayah!" rengek Sandrina.
Satria yang tidak tahan dengan rengekan Sandrina akhirnya memutuskan, Srianti boleh ikut menginap. Julia merasa kesal mendengarnya, ia tahu ini hanya trik Srianti saja.
🖤
🖤
__ADS_1
🖤
( Bersambung,,,,, )