
Satria masih memandangi wajahnya di depan cermin, untuk memastikan kebersihan wajahnya.
lalu menghampiri shower, ia menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air. Biasanya ia menggunakan bathtub, tapi karena sudah kesiangan ia mandi dengan shower. Dengan cepat juga ia menyabuni tubuhnya.
•
•
•
"Hmmmhh gara-gara kesiangan bangun, aku jadi mesti buru-buru, ngopi buru-buru, mandi buru-buru, kenapa sih Pak Amad tidak membangunkannya?" Satria mendengus kesal.
Selesai ritual mandi, dengan sigap ia meraih handuk, menyeka tubuhnya dan melilitkan handuk dibagian bawah tubuhnya.
Setengah berlari ia mengambil kemeja, dasi dan celana panjang. Semua ia siapkan dengan cepat.
akhirnya selesai juga ia berpakaian, mengancingkan manset lengan kemejanya.
"Tok!tok!tok!" suara pintu kamar diketuk.
"Siapaaaa?!!!" setengah teriak Satria bertanya.
"Saya tuan, Amad." jawab Pak Amad.
"Masuk!!!" sahut Satria lagi.
Klik,,,,
Pak Amad masuk ke dalam kamar tuannya ia terheran-heran melihat Satria serapih itu, bukan karena Satria tidak biasa rapih, tapi ini kan hari Minggu, harusnya tuannya itu santai di rumah kalau ia tidak keluar kota.
"Ada apa Pak Amad?" tanya Satria.
"Tuan sarapan sudah siap. Tapi,,,, ada Nona Sherly menunggu tuan di bawah." Pak Amad memberi tahu. Ia tahu Tuannya ini sangat tidak suka kedatangan Sherly, perempuan muda yang gaya berdandannya seperti perempuan penggoda. Apalagi perempuan itu suka sekali berteriak kalau marah pada Tuannya.
Pak Amad masih bengong saja melihat tuannya ini menyiapkan tas kerja.
"Sherly?! ngapain perempuan itu masih saja kesini?! katakan padanya Pak, saya mau berangkat kerja, ini sudah terlambat, usir saja dia!" jawab Satria
"Tuan,,,,," lirih Pak Amad.
__ADS_1
"Kok malah bengong sih Pak? udah sanaaaa!" hardik Satria kesal.
"Ta Ta-pi tuan, ini bukannya hari Minggu, kenapa tuan mau berangkat kerja?" lanjut Pak Amad tersenyum geli.
"Appaaaaaaaa,,,,,,?!"
Satria melonggarkan dasinya, ia lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia malu baru saja memarahi Pak Amad. Satria menahan gelinya, ia benar-benar lupa kalau hari ini hari Minggu. Pekerjaanya akhir-akhir ini membuat ia lupa waktu, lupa segalanya.
"Terus, bagaimana dengan Nona Sherly tuan?" tanyanya lagi.
"Aaahh masa bodoh lah dengannya, kalau perempuan itu mau nunggu ya silahkan, kalau mau pergi juga ga apa." jawab Satria sekenanya.
Mendengar jawaban dari tuannya ini, Pak Amad langsung keluar kamar, dan turun ke ruang bawah.
Sepeninggal pak Amad, Satria mengunci pintu kamarnya, ia membuka pakaiannya dan masuk lagi ke kamar mandi, untuk berendam di bathtub. karena mandinya tadi tidak sempurna, ia cuma ingin santai tanpa gangguan dari siapapun, apalagi cuma seorang Sherly. Ia sudah muak dengan gadis itu, dari awal pertemuan sebenarnya tidak ingin menjalin hubungan yang serius, tapi gadis itu selalu menyodorkan dirinya, hingga ia jatuh juga kedalam permainan gadis itu. Satu yang membuat Satria sangat menyesal, ia telah bermain cinta dengan Sherly, saat itu ia tak kuasa menolak, malam itu Satria mengantarkan Sherly pulang ke apartemennya, hujan sangat deras, Sherly memberikan handuk kepadanya untuk mengeringkan rambut, karena tetiba ia masuk angin, ia menurut saja waktu Sherly menawarinya kerokan. Entah bisikan darimana, Sherly yang membelai tubuh Satria, membuat Satria seketika menegang, rabaan demi rabaan Sherly ia nikmati, pertahanannya jebol, permainan terlarang itu mereka lakukan semalaman, hingga ia lemas. Dan paginya Satria betul-betul menyesalinya. Sejak saat itu Satria bukannya bertambah cinta, malah muak dengan hubungan itu, keagresifan Sherly justru semakin membuatnya menghindar, apalagi setelah ia tahu gadis itu bermain api di belakangnya.
***
30 menit kemudian Satria selesai dengan aktifitasnya di kamar mandi, ia mengenakan pakaian kaos santai dengan celana pendek selutut, lalu ia turun ke bawah untuk sarapan.
Sampai di bawah ia mendapati Sherly mantan pacarnya sedang berdiri di teras yang berada diluar ruang makan. Satria merasa malas.
Satria tidak menyapa tamunya, ia langsung menarik kursi makan dan duduk menghadap meja makan, tangannya menyendok nasi goreng ke piringnya, mengambil lauk pauk yang ada di meja, lalu meminum air putih terlebih dulu, agar tenggorokannya tidak kering.
•
•
Mendengar suara tarikan kursi, Sherly membalikkan tubuhnya, ia mendapati Satria sudah berada di meja makan.
"Hai Mas, sudah ada di ruang makan, kok ga nawari aku?" tanya Sherly sedikit kesal.
"hmmmm,,,," Satria hanya berdehem.
tanpa menjawab pertanyaan Sherly, Satria meneruskan makannya.
"Kamu ga berubah ya mas, masih cuek seperti sebelumnya. Oh iya sebenarnya aku kesini untuk mengajak Mas jalan." cerocos Sherly.
"Uhuk uhuk,,,, aargghhhh!" Satria tersedak.
__ADS_1
Ia mengambil gelas air putih dan meminumnya.
"Kamu ngapain sih kesini? kita kan sudah tidak ada hubungan lagi, kita udah putus! ngapain kamu masih kesini dan meminta aku jalan-jalan sama kamu?" Satria mendengus kesal.
"Ta-tapi Mas,,, aku tidak mau putus sama kamu Mas, tolong kasih aku kesempatan, aku mencintai kamu Mas Sat,,,, " Sherly memohon. Airmatanya tumpah lolos begitu saja.
"Sudahlah Sher,,,, sudah cukup. aku benci penghianat, aku dulu bercerai karena istriku selingkuh, dan kamu?!
"Kamu berselingkuh saat kamu belum jadi apa-apaku!"
"Masih bisa kamu minta maaf?"
Kata-kata Satria meluncur deras dengan perasaan amarah yang tidak dapat dibendung lagi.
"Dasar perempuan Tolol!!!" umpatnya lagi dalam hati.
"Sekarang pergilah!" ucap Satria lagi dengan nada putus asa.
Ia menyingkirkan sendok dengan membantingnya kesisi piring, suaranya berdentingan. Nafsu makannya hilang karena kedatangan perempuan ini.
Satria beranjak dari kursinya, melangkah menuju tangga keatas.
Saat ia melangkah ke tangga, tiba-tiba Sherly memegangi kaki Satria, ia memohon agar Satria mau bersamanya lagi.
Satria terdiam, ia tak tahu bagaimana lagi menjelaskan pada Sherly, bahwa cintanya telah hilang sejak penghianatan Sherly.
"Tolong Mas, kalau Mas belum mau menerimaku kembali, paling tidak Mas mau menemani aku jalan, dan makan."
"Anggap aja ini untuk yang terakhir kalinya Mas,,,, pliiiiiisss?! suara Sherly menghiba. Dalam hati ia tersenyum licik.
"Oke baiklah, untuk yang terakhir kali." Satria menegaskan.
*****
Satria berganti pakaian, karena ia juga tidak ada acara hari ini, ia menyetujui keinginan Sherly untuk menemani jalan dan makan hari Minggu ini. Toh tidak setiap hari?
Dan itu hanya untuk terakhir kali bersama Sherly.
♡
__ADS_1
♡
( Met membaca!!! )