
🌹🌹🌹
Iring-iringan mobil memasuki gerbang selamat datang kota Cilacap, ada dua mobil yang membawa keluarga Satria untuk acara lamaran, mobil pertama, Beno dan Dicky berada di kursi depan mobil, karena Dicky yang menyupir, di bangku penumpang, Satria, Sandrina di bagian tengah, lalu Santi dan Rico di deretan belakang. Sedangkan Nenek, Pakde dan Bude Satria dari pihak ibu, serta seserahan berada di mobil kedua, yang disupiri edwin. Selama dalam perjalanan mereka bersenda gurau, meledek Satria, yang merasa berdebar.
Habis-habisan Satria dikerjai oleh Rico, asisten yang juga sahabatnya ini.
"Keren banget dukunnya Julia ya? bayangin aja, seorang Satria yang angkuh dan dingin, bisa jatuh kedalam pelukannya?!" canda Rico.
"Hai hai,,,, stop Rico! aku ini bukannya angkuh? aku seorang CEO, tentu saja aku harus menjaga wibawaku, kalau tidak? apa jadinya?!" ucap Satria membela diri.
"Ckckck,,,, seorang CEO muda dan tampan akan bersanding dengan seorang perempuan yang ceroboh?!" gurau Rico lagi.
"Sial kau Rico!! tapi dia perempuan yang cerdas makanya aku memilihnya menjadi istriku?! lagipula dia juga cantik! iya kan Sandrin?" ucap Satria sambil mencubit pipi anak perempuannya.
"Ih Ayah,,, sakiiittttt,,,,!" erang Sandrin.
Semuanya tertawa,,,, begitu juga Beno dan Dicky.
"Mas Rico, kamu jangan bicara yang jelek tentang sahabatku!!! Dia itu baik dan setia! pokoknya Tn. Satria, jangan dengarkan Rico!" ucap Santi marah..
"Tuh dengar Ric! ada yang marah kalau kamu ejek calon istriku!!" ucap Satria terkekekeh.
Seperempat jam kemudian, mobil telah sampai depan kompleks perumahan dinas orangtua Julia. Mobil berhenti di depan pos sekuriti untuk ijin masuk ke tempat orangtua Julia.
"Silahkan Pak,,,,!" ucap salah seorang sekuriti sambil mempersilahkan mobil itu masuk,,,
***
Kedua orangtua Julia telah siap, saat Julia mengabarkan bahwa mobil keluarga Satria telah masuk perumahan. Orangtua Julia juga mengundang tetangga kanan kiri, dan ketua RT untuk menyambut tamu mereka dari Jakarta, sekaligus menyaksikan acara lamaran.
__ADS_1
Ketika mobil berhenti di depan rumah, Julia yang masih berada di dalam kamar, tiba-tiba bercucuran keringat, ia gugup. Apalagi saat ia dengar bahwa keluarga Satria telah masuk dan duduk di ruang tamu.
Mbok Mi yang sedari tadi sibuk di dapur, menge tuk pintu kamar Julia, dan masuk ke kamar.
"Non, keluarga calon suami Non Julia udah datang, Non disuruh ibu bersiap-siap." ucap Mbok Mi. Ia sangat takjub melihat Julia yang begitu cantik sore hari ini.
"Non Julia cantik sekali!" ucapnya kemudian. Julia tersenyum, ia mengenakan kebaya warna krem yang dipadu dengan rok bergaya mermaid dari kain jarik. Rambutnya diurai begitu saja, tapi rapi dan anggun.
"Sudah ya Non Mbok Mi ke belakang dulu, bantuin Bi Sum." pamitnya.
"Iya Mbok Mi, makasih ya,,,,?" jawab Julia.
Begitulah, di ruang tamu sayup terdengar kedua orangtua Julia sedang beramah tamah dengan tamu-tamunya dari keluarga Satria dan para tetangga. Sesekali mereka tertawa, entah apa yang sedang dibicarakan, kadang juga terdengar serius. jarak ruang tamu ke kamar Julia cukup jauh, apalagi ruang di dalam memang kedap,,, jadi sulit untuk Julia menguping.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk lagi, Julia menyuruhnya masuk, ia terkejut, melihat seseorang yang datang.
"Santi,,,,,?!" Ia berjalan cepat untuk memeluk sahabatnya, dan berpelukan erat karena bahagia.
"Udah yuk kita keluar, aku kesini disuruh memanggilmu!" ucap Santi lagi, Julia langsung gugup dan bercermin sekali lagi, memastikan tidak ada masalah dengan riasan atau bajunya. Julia keluar kamar diiringi Santi.
Sampai di depan para tamu, Julia mencari posisi duduk Satria, ia melirik, kemudian duduk di samping kedua orangtuanya.
"Nah ini dia yang dicari-cari,,,,!" ucap Rico dengan mimik lucu. "Ayo Nek dimulai?" ucapnya sambil terkekeh.
Nenek menjawil kuping Rico yang berada di dekatnya, "Maafkan ketidaksopanan mereka ya Nak Rusman,,,,." kata Nenek.
Ayah dan ibu Julia cuma tertawa, tamu-tamunya juga tertawa. Sementara Satria dan Julia malu-malu.
"Nah kebetulan Mba Julia sudah hadir,,, bagaimana nih Mba, tadi keluarga Pak Putera Penjawi alm, diwakili Pak Haryono, Pakdenya Mas Satria, tadi sudah menyampaikan maksud kedatangan mereka, bahwa Mas Satria ingin melamar Mba Julia. Begitu ya kira-kira Pak, Bu?!" ucap Pak Rt yang mewakili Ayah Julia.
__ADS_1
"Betuuuullll,,,,, !!" jawab semua yang hadir.
"Tadi Pak Rusman juga sudah menyampaikan, bahwa jawaban akan langsung ditanyakan ke Mba Julia, berhubung Mba Julia sudah hadir,,, monggoh kira-kira apa jawabannya? Jangan lama-lama Mba! kasihan Mas Satrianya." ucap Pak Rt berkelakar.
Julia yang ditanya tersenyum malu, ia melirik kepada sang kekasih, Satria. Julia mengangguk pelan, "Iya saya terima." ucapnya lirih.
"Waduh kok pelan sekali Mba, semua belum dengar ini!" ledek Pak Rt sekali lagi.
Ruangan jadi ramai karena banyolan Pak Rt.
"Iya saya terima pak,,,,, !!!" jawab Julia lebih keras. Semua yang hadir menyahut "Alhamdulillah,,,,."
Setelah itu Nenek Satria memberikan cincin pengikat untuk keduanya, kepada Ibu Julia, yang langsung dipasangkan ibu ke jari manis anaknya. Sedangkan Nenek Satria memasangkan cincin untuk Satria ke jari manis cucunya. Keduanya resmi bertunangan. Sebelum penentuan tanggal pernikahan, Pak Rt mempersilahkan semua tamu dan keluarga untuk mencicipi hidangan yang telah disiapkan.
Selesai makan bersama, semua tamu dan keluarga kembali berkumpul, ini acara yang paling penting untuk keduanya, yaitu penentuan tanggal pernikahan. Kedua pihak ternyata sudah mempersiapkan tanggal yang tepat menurut mereka masing-masing, jadi terjadi perdebatan kecil dalam penentuan tanggal. Ada yang mencocokan tanggal kelahiran calon pengantin, ada yang berdasarkan weton dan sebagainya, Satria jadi pusing. Karena bingung, akhirnya Satria mencoba untuk memutuskan sendiri tanggal pernikahannya, ia menginginkan tidak lebih dari dua bulan. Karena Satria tidak mau terlalu lama berjauhan dengan Julia. Semuanya tertawa, mereka maklum, melihat calon pengantin yang sepertinya sudah sangat ngebet nikah.
Akhirnya,,,,
"Baiklah Nak Satria, Bapak dan Ibu ikut saja keinginan kalian. Sepertinya sudah tak sabar ya?" ucap Ayah Julia sambil tersenyum. Pernikahan sedianya akan dilaksanakan tanggal 10 bulan oktober,,,, bukan karena angka yang cantik, tapi Satria sudah tak tahan lagi. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Pihak keluarga Satria berpamit pulang setelah kesepakatan dibuat. Tak lupa mereka memberikan seserahan tanda lamaran diterima, Ibu lalu juga memberikan oleh-oleh untuk dibawa keluarga Satria kembali ke Jakarta. Semua merasa lega, tinggal mempersiapkan keperluan pernikahan.
Juliaaaaa,,,,, aku sudah tak sabar menunggumu di kamar pengantin kita! Bathin Satria mengancam. Satria senyum-senyum sendiri.
💖
💖
💖
__ADS_1
( Sampai episode ini, kita lanjut slow aja ya para readers,,,, Jangan lupa like n commentnya ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ )