
Clara menyeka air matanya, ia meraih ponsel, dan mengutak atik ponselnya dengan perasaan hampa, jari jemarinya cuma menggulirkan layar ponsel naik turun, tanpa tahu apa yang ia cari. Tiba-tiba ia mengernyitkan keningnya, lalu segera mematikan ponsel di tangannya.
" Kalau Julia tahu aku bawa ponsel, ia pasti akan diam-diam mengambil ponselku dan menghubungi siapapun diluar sana. " batin Clara, sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Clara memandangi Julia yang masih berada di ranjang dengan perasaan iba, sambil berpikir, apa yang membuat Daffin sangat mengejar cinta perempuan bersuami ini. Hatinya diliputi cemburu, tapi ia juga merasa bersalah pada Julia.
Sedang asyiknya melamun, Clara dikejutkan suara Julia yang mengerang.
" Aduh, sakit,,,,,!! " jerit tertahan Julia.
Clara bergegas mendekati Julia.
" Kenapa? ada apa Mba? Mba sakit?! " tanya Clara panik.
Julia tidak menyahut, hanya giginya yang menggigit bibirnya menahan rasa sakit di perutnya.
" Mba sakit perut? " tanya Clara lagi. Julia hanya mengangguk kecil.
" Mba makanlah sesuatu! Mba pasti belum makan apapun?! " sambil mengamati makanan yang masih utuh tidak tersentuh dan dingin. " Aku mohon Mba, Mba makan ya?! akan aku cari makanan yang hangat untuk Mba. " ucap Clara lagi.
" Aku tidak ingin makanan apapun dari Daffin, Clara! " ucap Julia kesal.
" Aku tahu Mba, tapi Mba mesti ingat kesehatan Mba. Apalagi Mba lagi hamil muda kan? " sahut Clara kuatir.
Tidak ada jawaban dari Julia, Clara melanjutkan lagi omongannya.
" Lagian kalau Mba tidak makan, Mba lemes, gimana mau usaha kabur dari sini?! yang ada Mba malah sakit dan tidak bisa kemana-mana. " cerocos Clara yang bikin Julia jadi tersadar. Matanya menatap lekat ke arah Clara.
" Siapa yang mau kabur?! lagipula kalau aku mau kabur, emangnya kamu mau bantu aku?! " tanya Julia masih kesal.
Mendengar kata-kata Julia, Clara tersenyum getir.
" Kalau aku bantu Mba kabur, Mas Daffin bisa murka Mba sama aku. Bahkan bisa jadi buronannya Daffin aku. " ucap Clara.
" Nah terus kamu maunya apa Clara?! " tanya Julia.
Clara jadi tertawa mendengar pertanyaan Julia. Clara pikir, dimana cerdasnya perempuan di depannya ini, seperti yang diucapkan Daffin selalu. Dia bahkan tidak tahu apa yang dia inginkan.
" Kenapa kamu tertawa Clara?! " maki Julia.
Clara menghentikan tawanya, lalu mendekati Julia lagi.
__ADS_1
" Habis Mba malah tanya apa mauku? oke gini Mba,,,, aku mau Mba makan, aku akan carikan makanan hangat buat Mba. Kasihan bayi yang ada di perut Mba,,, " ucap Clara sedikit menerawang, rupanya ia teringat bayinya yang telah meninggal sebelum dilahirkan.
" Clara? Clara,,,,,? " Panggil Julia, dan mengamati perubahan wajah Clara.
" Eh iya Mba? " jawab Clara tersadar dari lamunannya.
" Kamu kenapa? kamu teringat anakmu? " tanya Julia lirih, ia berempati pada apa yang terjadi pada Clara, sampai rasa perih di perutnya terlupakan. Julia memegang bahu Clara.
Clara menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya sedikit kasar, seperti sedang mengeluarkan semua beban dari dadanya.
" Mmmm sudah tidak apa-apa Mba. Oh ya Mba mau makan apa? Bakso? Soto? Mie ayam? pokoknya aku mau Mba makan. " tanya Clara cepat, sambil menghindar dari tatapan Julia.
" Apa kamu sungguh-sungguh menawari aku makan Clara? atau hanya ingin menghindar dari pertanyaanku tadi? " tanya Julia menyelidik, ia sebenarnya peduli dengan gadis itu, terlepas dari rasa kesal karena gadis itu mau saja diperalat Daffin, untuk berselingkuh dengan Satria suaminya.
" Oh Come on Mba!!! jawab aja mau makan apa? tidak kasihankah Mba padaku, kalau sampai aku dipecat gara-gara Mba tidak juga mau makan? " tanya Clara memelas.
" Oke, oke,,,,, aku mau makan. Ta-tapi ingat, ini demi kamu dan juga bayiku, bukan demi Daffin! aku mau apapun yang kamu berikan, asal bukan racun. " ucap Julia sambil sedikit mengeram dan memutar bola matanya.
Tanpa kata apa-apa lagi, Clara keluar kamar untuk mencari makanan di dapur rumah besar Daffin, tak lupa ia mengunci pintu kamar dari luar seperti yang diperintahkan Daffin.
" Klik,,,, " suara pintu dikunci.
Clara berjalan menuju lift untuk turun ke bawah. Ia mendekati seorang pelayan rumah Daffin yang kebetulan ia temui pertama.
" Ibu,,,,,! tunggu! " Panggil Clara sambil berjalan mendekat.
" Oh ya Nona? Nona yang datang bersama Tuan Daffin tadi siang kan? saya Bu Parmi, pelayan yang bertugas bersih-bersih disini. Ada perlu apa Nona? " sapa Bu Parmi ramah.
" Iya bu, Saya Clara, Tuan Daffin meminta saya menunggu Nona yang ada di lantai atas, saya mau tanya, dimana letak dapur rumah ini? Nona yang di lantai atas, ingin makan sesuatu yang hangat. Bisakah ibu menunjukkan dapur? " tanya Clara.
" Oh mari ikut saya Nona,,,, " jawab Bu Parmi singkat, sambil berjalan mendahului Clara. Ia berjalan menuju salah satu ruangan.
Begitu masuk ruangan yang bertuliskan kitchen di pintunya, Bu Parmi mempersilahkan Clara masuk.
" Kenalkan itu Bu Juju, Bu Juju tukang masak disini. " ucap Bu Parmi sambil berjalan mendekati Bu Juju yang sedang duduk di meja makan khusus pelayan sambil membaca-baca sebuah brosur.
Orang yang sedang dibicarakan menoleh ke arah mereka dan bertanya dengan wajah bingung.
" Iya saya Bu Juju, Nona ada perlu apa? " tanya Bu Juju masih kebingungan, ada orang asing masuk ruang kerjanya.
" Maaf mengganggu Bu Juju, Saya Clara, yang ditugasi menemani Nona Julia. Bisa saya minta tolong Bu Juju buatkan makanan yang hangat untuk Nona Julia? " ucap Clara sambil memperkenalkan diri.
__ADS_1
Kening Bu Juju berkerut.
" Makanan hangat? bukankah Non Julia tidak pernah mau menyentuh makanan yang saya buat selama ini? sampai-sampai Tuan Daffin selalu marah-marah kalau masuk dapur. " keluh Bu Juju sambil mengerucutkan bibirnya. Bu Parmi yang mendengar keluhan Bu Juju cuma tersenyum saja.
" Tidak apa-apa Bu Juju, Mudah-mudahan kali ini Non Julia mau makan! kalau tidak mau makan juga,,,,,, biar saya yang habiskan! " ucap Clara terkekeh.
Bu Juju memandang ke arah Bu Parmi seperti minta dukungan, yang dibalas anggukan.
" Sudah Bu Juju,,,, buatkan saja. Mudah-mudahan makanan itu tidak mubazir! kan sudah ada Non Clara yang jagain Non Julia? " ucap Bu Parmi menyemangati, sambil memandang Clara.
Clara cuma memandang Bu Juju dan tersenyum dengan raut muka memaksa.
Bu Juju menarik nafas panjang, ia takut kena omelan Tuan Daffin lagi yang seringkali kasar kalau sedang kesal.
" Baik saya buatkan, jadi kita mau masak apa? " Bu Juju minta pertimbangan Clara.
Sambil berpikir, Clara menjentikkan jarinya.
" Kayanya sop ayam enak juga Bu. lauknya terserah ibu, apa kira-kira yang pasti pas! " jawab Clara sambil nyengir.
" Oalaaahhh Non, Non,,,,, kaya iklan pom bensin saja! pasti pas! " ucap Bu Parmi terkikik, juga Clara dan Bu Juju.
Tanpa bertanya lagi Bu Juju langsung mengambil apron dan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sop ayam dan lauk pauknya.
Sementara makanan dibuat, Clara duduk di meja makan khusus pelayan, sementara Bu Parmi sudah keluar dapur untuk mengerjakan tugasnya.
Tak sampai sejam, sop ayam, sambal tomat, tahu dan tempe goreng selesai sudah.
" Alhamdulillah,,,,, sudah siap semua Non. Nih saya buatin es jeruk juga. " ucap Bu Juju sambil tersenyum kelelahan.
" Terima kasih Bu Juju, kelihatannya bikin nafsu makan nih,,,,,. " ucap Clara sambil nyengir dan memegangi perutnya yang juga lapar.
" Sama-sama Non,,,, Mudah-mudahan Non Julia mau makan ya,,,, ini sekalian juga buat Non Clara. " jawab Bu Juju ramah, dan menyiapkan satu porsi lagi untuk Clara.
Bu Juju memanggil Bu Parmi untuk ikut mengantarkan makanan ke lantai atas bersama Clara, karena ia sendiri harus bersih-bersih di dapur.
🥣
🥣
🥣
__ADS_1