Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
JULIA AMNESIA


__ADS_3

Mobil yang mengantarkan Julia ke rumah sakit, yang disupiri edwin mengalami kecelakaan.


Di sebuah rumah tua di sebuah daerah terpencil, seorang dokter memeriksa perempuan yang sedang hamil.


"Bagaimana keadaannya Dok? Apakah dia baik-baik saja?" tanya seorang pria pada dokter yang baru saja keluar kamar, habis memeriksa seorang perempuan hamil.


"Dia sudah siuman, kandungannya juga baik-baik saja, untung waktu kecelakaan terjadi, sesuatu menahan perutnya. Tapi,,,,,,." ucap dokter ragu-ragu, ia tidak menyelesaikan kalimatnya.


"Tapi apa Dok?!" tanya pria itu.


"Sepertinya dia mengalami amnesia,,,,." jawab Dokter prihatin.


"A-apaaaa?! amnesia?!" tanya pria itu.


"Ya,,,,." jawab dokter


"Tapi itu bisa sembuh, kalau traumanya sudah hilang. Sementara saya kasih beberapa obat yang harus dikonsumsi secara teratur." ucap Dokter sekali lagi.


"Baiklah Dok, terima kasih,,,, sekarang mari saya antar anda pulang." ucap pria itu sambil mengiringi kepergian dokter itu bersama para pengawalnya.


Setelah pria itu mengantarkan dokter sampai di mobil, ia kembali ke kamar Julia.


***


"A-apa???!!! Istriku mengalami kecelakaan?" ucap Satria panik. Ia segera meminta alamat rumah sakit kepada orang yang mengabarinya.


Satria langsung berlari menuju ke rumah sakit alexa bersama Rico dan Dicky.


"Orang yang kecelakaan tertabrak kontainer dirawat di IGD Pak, disebelah kanan lalu terus saja. Tapi maaf pasien yang dirawat tidak ada perempuan hamil, dia laki-laki. Dari identitasnya ia bernama Edwin Kurniawan." jawab petugas resepsionist.


"A-apa?! ini tidak mungkin Nona! Edwin itu supirku! dan dia sedang perjalanan ke rumah sakit untuk mengantar istriku!" ucap Satria tak percaya, ia setengah berteriak.


Sang resepsionist hanya menggeleng, membuat Satria sangat marah dan hampir saja mencengkeram leher resepsionis perempuan itu. Tapi dicegah oleh Rico.


"Bos lebih baik kita pastikan dulu pada Edwin! ayo kita ke IGD!" ucap Rico menenangkan Satria.


Ketiganya langsung menghambur ke ruang IGD.

__ADS_1


Melihat kondisi Edwin, Satria benar-benar pilu, Edwin mengalami gegar otak, ingatannya hilang. Satria berusaha menanyai Edwin keberadaan Julia istrinya, tapi percuma, kondisi Edwin yang amnesia membuat Satria putus asa. Julia menghilang.


"Bos sebaiknya kita pulang. Kita sebar anak buah kita untuk mencari Nyonya Julia. Aku yakin, kecelakaan ini direkayasa oleh seseorang! aku akan cari siapa dalang dibalik ini semua!" ucap Rico.


"Harus Rico! kamu harus mencari tahu keberadaan istriku!" perintah Satria, ia benar-benar putus asa mendengar Julia menghilang. Rico hanya menatap Satria dengan perasaan iba.


Rico juga memerintahkan kepada pihak rumah sakit untuk memindahkan Edwin di ruang VIP. Juga meminta kepada pihak rumah sakit, segera mengabarkan apabila ada pasien hamil yang mengelami kecelakaan yang masuk ke rumah sakit ini.


***


Julia memandang ke sekeliling kamar, ia memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Eh dimana aku? ini dimana?" tanyanya


"Kamu sudah sadar istriku?" sahut pria yang menungguinya dari tadi.


"Oh, siapa kamu? aku berada dimana? kamu bilang apa tadi? aku istrimu?!" ucap Julia, kepalanya masih terasa berat.


"Iya sayang,,, kamu istriku. Kamu habis kecelakaan, dan kamu sekarang amnesia." jawab pria itu lagi.


"Ti-tidak,,,, ini tidak mungkin!" ucap Julia tak percaya.


"Daffin?! kamu suamiku Daffin?!" tanya Julia, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu pingsan lagi.


"Hmmm kamu pingsan lagi cantik?! Baiklah aku akan selalu menjagamu." ucap Daffin sambil terkekeh.


Daffin sengaja menyembunyikan Julia di sebuah desa terpencil di pedalaman Kalimantan. Yah saat kecelakaan itu terjadi, ia sengaja menculik Julia dengan ambulans yang sudah ia persiapkan sebelumnya, ia juga menyewa seorang dokter untuk menangani sementara selama dalam perjalanannya menuju pulau Kalimantan menggunakan pesawat sewaan.


***


Wajahnya begitu kuyu, ia merasa tidak ada semangat lagi, kepergian Julia yang begitu tiba-tiba membuatnya sangat terpukul.


"Mas jangan bersedih,,,!" ucap Srianti menghibur Satria.


Kehadiran Srianti yang tak diinginkan Satria, dengan alasan menjenguk Sandrina, membuat Satria geram. Tapi ia tidak ingin berbicara apapun pada siapapun saat ini.


Satria naik ke kamarnya untuk menyendiri. Pak Amad juga ia beritahu bahwa ia tidak ingin diganggu. Saat ini ia cuma menunggu kabar dari Rico.

__ADS_1


Tak terasa bulir air mata kesedihan keluar tak dapat lagi ia bendung, Satria sangat mencintai istrinya, ia tak ingin terjadi apapun pada istrinya dan juga calon anak yang ada di dalam rahim istrinya. Ia mencoba mengingat musuh-musuhnya yang ingin membuatnya terpuruk dan jatuh, apalagi saat ini namanya masuk dalam jajaran pengusaha muda terkaya, dan masuk top 10. Tentu banyak pengusaha yang iri atas prestasinya.


Apakah itu Daffin? ia teringat bahwa Daffin pernah mencoba menculik istrinya, tapi tak berhasil. Apakah sekarang juga perbuatan Daffin?! Satria berusaha menghubungi Rico asistennya, dan membicarakan kemungkinan yang bisa saja terjadi.


***


Daffin dengan sabar berusaha menyuapi bubur ke mulut Julia.


"Ayolah sayang, makanlah bubur ini, biar kamu segera sembuh, dan kita bisa jalan-jalan kemanapun kamu suka." bujuk Daffin dengan sabar. Ia sangat memuja perempuan ini, makanya berbagai cara ia lakukan untuk mendapatkannya.


Begitu banyak perempuan yang tergila-gila akan ketampanan Daffin, tapi sebagai seorang pengusaha muda, ia hanya menjadikan perempuan-perempuan itu sebagai mainan dan pemuas nafsu saja. Berbeda dengan Julia, yang hanya sekilas memandang wajahnya saat bertemu pertama kalinya. Bahkan seperti tidak menyukainya, justru membuatnya penasaran. Ia tidak menyangka Satria yang dingin dan angkuh ternyata menyukai Julia, padahal ia tahu Satria tidak pernah menyukai anak buahnya sendiri.


Ia pernah berusaha menjebak Satria dengan keberadaan Sherly, tetapi tak mempan, ia sampai memaki Sherly, betapa bodohnya ia tak bisa memikat Satria.


Daffin berharap dengan kesabaran dan lupa ingatan, Julia bisa bertekuk lutut mencintainya.


"Apakah kamu memang benar suamiku Daffin?" tanya Julia penasaran, tatapannya menyelidik.


"Sayang,,, apa kamu masih belum mempercayaiku? aku sangat mencintaimu Julia! sangat!" ucap Daffin, matanya menatap tajam pada Julia.


"Kalau begitu, bisakah kamu menunjukkan foto pernikahan kita Daffin?!" ucap Julia bersikeras.


"Mana mungkin aku membawa foto pernikahan kita?! sekarang kita lagi di pedalaman kalimantan, karena bisnisku disini. A-aku tidak membawa satupun foto pernikahan kita!" ucap Daffin masih berusaha meyakinkan Julia. Dan dengan penuh keberanian Daffin mengecup kening Julia dengan lembut. Julia sedikit menolak.


"Sekarang kamu tidurlah sayang,,, aku akan menjagamu." ucap Daffin lembut.


***


Dengan pandangan kosong, Julia memandang luasnya perkebunan kelapa sawit yang berada di depannya. Ia duduk sendiri di teras berbentuk rumah panggung dari kayu ulin kalimantan yang sangat bentuknya sangat bagus. Kebetulan Daffin pamitan berangkat Jakarta selama 3 hari, untuk mengurus sesuatu.


Hidup selama 2 bulan bersama Daffin di pedalaman Kalimantan ini, tak serta merta membuatnya yakin, bahwa Daffin adalah suaminya. Kepalanya seringkali tiba-tiba pusing, saat ia berusaha mengingat siapa dirinya.


♠️


♠️


♠️

__ADS_1


( Bersambung,,,,,, )


__ADS_2