
Satria sudah mendapat informasi dari Rico, Clara mengalami keguguran karena kecelakaan itu. Satria merasa terenyuh juga dengan yang menimpa Clara, walaupun tak dipungkiri, dia jadi lega.
Ia cuma merasa putus asa, bagaimana menghadapi kemarahan istrinya, disaat dia masih berduka dengan kepergian sang Nenek. Semua yang terjadi memang salahnya. Saat makan siang, Julia belum juga mau bicara padanya.
Satria akhirnya mengajak Arga bermain, dan sorenya ia mengajak puteranya jalan-jalan berdua.
Pulangnya, banyak sekali makanan yang mereka beli, ice cream, jajanan anak, dll. Arga memang selalu begitu kalau pergi sama ayahnya. Meminta ini dan itu.
"Aduh Arga,,,, apa ini tidak berlebihan? beli makanan sebanyak ini untuk apa?" tanya Julia pada Arga.
Arga melihat Bundanya dengan takut.
"Lain kali jangan belikan jajan sebanyak ini untuk Arga. Nanti kebiasaan." gerutu Julia.
Satria diam saja mendengar kejutekan Julia. Dalam hatinya cuma kesal saja, apa yang dilakukannya semua salah.
***
Saat Arga sudah tertidur, Satria menghampiri Julia di kamar mereka. Satria harus menghadapi apapun yang terjadi, lebih baik ia bertengkar dengan Julia, daripada ia didiamkan olehnya.
Satria menarik tubuh Julia yang tidur membelakanginya. Julia hanya pura-pura tidur, Satria tahu itu.
Julia menyentakkan tangan suaminya, saat menariknya untuk berhadapan. Satria mengalah, ia turun dan duduk di pinggir tempat tidur. Julia mau membalikkan badannya, tapi Satria mencegahnya.
"Aku mau bicara padamu yank!" ucap Satria.
"Bicara apalagi?" ucapnya malas. Julia tak beranjak dari tidurnya.
"Duduklah dulu, tidak nyaman ngobrol sambil tiduran." bujuk Satria. Akhirnya Julia menurut saja, dan duduk di tempat tidur.
"Sekarang tolong katakan, apakah meninggalnya Nenek ada hubungan dengan ini semua? dengan perselingkuhanmu?" tanya Julia tajam.
Satria tak berkutik, ia tak bisa menjawab pertanyaan Julia.
"Julia, Maaf Mas tegaskan, Mas tidak selingkuh! Mas dijebak!" jawab Satria membela diri.
"Terus Nenek meninggal karena mendengar semua ini kan? iya kan Mas?! jawab!" tanya Julia lagi, masih menuntut.
Satria mengacak rambutnya. Ia teringat Nenek yang terkena serangan jantung setelah kaget mendengar cerita Satria, lalu memarahi Satria.
"Nenek sudah sangat tua Julia, Nenek meninggal karena faktor usia." ucap Satria mengelak.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sangat kehilangan Nenek, tapi bukan berarti kamu jadi hilang logika." ucapnya.
"Hilang logika? hilang logika itu, bermain dengan anak gadis sampai hamil!" ucap Julia emosi.
Satria menatap mata Julia dengan tatapan bersalah. Ia memohon pada Julia untuk memaafkan kesalahannya.
"Yank, percayalah, Mas dijebak, Mas bahkan tidak mengenal gadis itu, kamu tahu gadis itu bersama siapa?" ucap Satria.
Julia menatap suaminya masih dengan kejengkelan.
"Dengan Daffin! tadi malam, Mas mau ke Cafe tempat Rico dan gadis itu bertemu, ternyata 500 m dari Cafe itu, ada kecelakaan, Clara kecelakaan, dia bermaksud menyeberang ke arah Daffin. ternyata mereka saling kenal. Dan memang mereka yang menjebak Mas!" ucap Satria.
Kejengkelan Julia berangsur sirna, ia berpikir kenapa Daffin masih melakukan itu pada suaminya? bukankah ia sudah berjanji sebelum ke USA, kalau ia tidak akan mengganggu rumah tangga mereka lagi? kalau memang ini ulah Daffin, Julia jadi merasa bahwa kesalahan suaminya bukan kesalahan fatal Satria. Karena suaminya memang dijebak.
"Yank,,,, kenapa diam saja? Maafkan Mas ya?!" ucap Satria memohon.
Julia gelisah sendiri, ia takut menghadapi kenyataan, bahwa Daffin kembali, Daffin bisa saja berulah kapanpun. Saking takutnya, Julia meraih tubuh suaminya dan memeluknya erat.
"Kamu sudah memaafkan Mas yank? terima kasih ya,,,,." Satria memeluk erat Julia.
"Mas, aku takut,,,." ucap Julia.
"Aku sama sekali tak ingin bertemu Daffin!" ucap Julia, tatapannya kosong. Ternyata Daffin tak pernah berubah. Ia akan selalu mengganggu rumah tangganya.
"Kamu aman disini yank, aku akan selalu menjagamu!" ucap Satria meyakinkan Julia.
"Yank,,,, kita bikin bayi aja yuk,,,,?" ucap Satria menggoda, dan mengerling ke Julia. Dari kemarin ia suntuk dan tegang, bermain cinta merupakan refreshing yang paling menyenangkan buat Satria.
Dimainkannya helaian rambut Julia dengan pelan, sambil sesekali mengecup bibir Julia. Makin lama jari satria makin nakal menyentuh seluruh bagian tubuh Julia. Apalagi bagian atas tubuh Julia yang sintal dan padat. Satria serasa seperti bayi saja, mengisap pucuk bagian itu dengan isapan yang membuat Julia merasakan sensasi nikmat.
Lenguhan dan erangan mengiringi permainan mereka. Gerakan yang makin cepat, Nafas yang memburu, mencapai kenikmatan. Hingga keduanya terkulai lemas, dengan keringat yang mengalir deras di sekujur tubuh.
Satria memang tak pernah merasa puas, selalu ingin lagi dan lagi, melakukannya bersama Julia, istri yang sangat dicintainya.
***
Daffin menghembuskan asap rokoknya perlahan. Ia mulai menyusun rencana, sambil menunggu Clara yang masih di RS bisa pulang.
"Bagaimana dok? kapan dia bisa pulang?" tanya Daffin, saat dokter berkunjung, dan memeriksa kondisi Clara.
"Hmm sepertinya besok pagi, Nona Clara sudah bisa pulang. Ini cek terakhir, cuma luka-lukanya saja yang harus diperhatikan. Akan saya beri obat agar lukanya cepat kering." ucap dokter yang memeriksa Clara.
__ADS_1
Daffin merasa lega, kondisi Clara sudah mulai membaik. Ia segera mengambil resep yang diberikan dokter, untuk menebusnya di apotik RS.
"Terima kasih dok." ucap Daffin, setelah dokter selesai memeriksa.
"Sama-sama,,,,." sahut dokter.
Daffin mengantar dokter sampai ke pintu, dan Ia sendiri langsung menuju ke apotik RS.
Sekembalinya Daffin dari apotik, ia dikejutkan oleh tamu yang mengunjungi Clara. Satria dan Julia berada di dalam ruang perawatan Clara.
"Hai Daffin, apa kabar?" sapa Satria, yang melihat Daffin masuk. Wajah Daffin pucat pasi memandang dua orang yang berada di kamar Clara.
"Sa-Satria?!" sapanya gugup.
"Apa kamu terkejut Daffin? kami ada disini?" tanya Satria. Sedangkan Julia memandangnya dengan tatapan tajam, penuh kebencian.
"Hai Sat, Julia, apa kabar?" tanya Daffin masih gugup.
"Tega sekali kamu Mas Daffin? mana janjimu? kamu tidak akan lagi mengganggu rumah tanggaku?!" berondong Julia tiba-tiba.
"Apa maksudmu Julia?!" tanya Daffin, matanya kelihatan nanar.
"Apa maksudku?! harusnya Mas Daffin yang bisa menjelaskan ini semua! kamu menjebak suamiku!" ucap Julia sengit. Julia mendekati Daffin dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan.
"Plak!!!!" Julia menampar Daffin.
Satria berusaha mencegahnya, tapi tangan Julia sudah mendarat di pipi Daffin.
Daffin menatap Julia dengan tatapan sedih.
"Aku mencintaimu Julia! aku tidak bisa melupakanmu!!" ucap Daffin. Ia tak perduli, ada Satria disana.
"Aku tidak mencintaimu! suamiku adalah satu-satunya orang yang aku cintai!" ucap Julia gemas. Ia memandang Clara yang diam saja karena ketakutan. Sosok Julia jauh dari bayangannya selama ini. Dalam bayangannya Julia adalah sosok yang mungil dan ramping. Tapi ternyata, posturnya yang tinggi sekitar 167 cm dan bertubuh sintal, membuatnya merasa ciut.
💕
💕
💕
( Bersambung,,,,, )
__ADS_1