Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
LEGA


__ADS_3

☆☆☆


Satria tak kunjung keluar dari kamar Julia, sementara hidangan makan malam telah siap di meja. Ayah juga sudah berada di meja makan ditemani ibu.


"Julia ajak Nak Satria makan sekalian, kalian pasti sudah lapar kan?" ucap Ibu.


"Bentar Bu, kupanggil dulu, kayanya masih sholat deh,,,," ucap Julia sembari berjalan ke kamarnya.


"Tok! Tok! Tok!


"Mas, ayuk kita makan, Ayah sama ibu udah nunggu di meja makan." ucap Julia sambil memanggil Satria.


"Iya yank,,, bentar,,,,." sahut Satria dari dalam.


Tak lama, Satria keluar dari kamar, pakaiannya santai tapi rapi dan sopan.


"Mari Nak Satria kita makan sama-sama,,, beginilah adanya Nak, mudah-mudahan cocok." ajak Ayah Julia.


"Baik Pak,,, terima kasih, inipun sudah senang saya Pak." jawab Satria sopan.


Mereka makan bersama dengan suasana yang hangat, Julia berada di sebelah Satria, sesekali Julia menambahkan lauk ke piring Satria.


"Wah kalau gini aku bisa gemuk yank?" ucap Satria spontan. Ayah dan Ibu terkejut mendengar kata "yank" yang diucapkan Satria. Tapi mereka belagak tidak mendengar.


Makan malam selesai, Julia dan ibu menyingkirkan bekas piring dan gelas yang kotor.


"Pak, Maaf sebelumnya, tapi kedatangan saya kemari bersama Julia, ada urusan yang saya anggap penting. Kalau berkenan, bisa saya bicara dengan Bapak dan Ibu?" ucap Satria.


"Bicara dengan Bapak dan Ibu? sekarang Nak?" tanya Ayah Julia sambil mengernyitkan kening.


"Iya Pak,,,, kalau diijinkan." ucap Satria lagi.


"Baiklah Nak Satria, sebentar saya panggilkan Ibu dulu." ucap Ayah Julia mencari istrinya di dapur. Saat itu Julia sedang mencuci piring dan gelas kotor.


"Bu, Ibu,,,,! itu Nak Satria mau bicara katanya Bu?! ayuk kita ke ruang keluarga sebentar. Mbok ada yang penting." ucap Ayah Julia pada Ibu.

__ADS_1


"Iya Pak bentar,,,, memang soal apa toh Jul?" tanya Ibu pada Julia.


"Ya nggak tahu ibu,,,, kan yang mau ngomong Mas Satria?!" jawab Julia terkekeh.


Kedua orangtua Julia beriringan menuju ruang keluarga. Disana Satria sudah duduk dengan sedikit gugup.


"Maaf Bu, Julia kemana ya?" tanya Satria lagi sambil tersenyum menutupi kegugupannya. Ya Allah,,,, mudah-mudahan lancar obrolannya. bathin Satria cemas.


"Juliaaaa,,,, sini Nak, ini ditunggu loh,,," teriak ibu Julia.


"Iya Bu,,,,." sahut Julia.


Julia muncul di ruang keluarga dan duduk di sebelah Satria, yang tampaknya sangat cemas. Setelah semua orang kumpul, Satria memulai pembicaraan.


"Begini Bapak, Ibu, Saya minta maaf, karena mungkin terlalu cepat dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya,,,,, Tapi___."


Tapi maksud kedatangan saya kemari, saya___ Saya ingin melamar anak Bapak dan Ibu, yaitu Julia." ucap Satria serius, Bapak dan Ibu Julia saling pandang, terkejut, karena ini mendadak, dan Julia juga tidak pernah bercerita sebelumnya.


keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit Satria, Ia mengambil tisu yang ada di meja, dan mulai mengelap keringat. Aduuhhh kenapa jadi gugup gini sih,,,, bathinnya berontak.


Kedua orangtua Julia terdiam, mereka berada dalam pikirannya masing-masing. Sebenarnya Ayah Julia senang, ada laki-laki yang melamar Julia dengan sendirinya, tanpa intimidasi, tanpa perjodohan seperti sebelumnya. Mereka begitu trauma dengan apa yang menimpa pada anak gadisnya, karena perjodohan.


Akhirnya setelah menimbang beberapa hal, Ayah Julia membuka suara.


"Kamu serius Nak? ingin menikahi anak Bapak? anak Bapak ini janda loh,,, bagaimana dengan keluargamu? apa mereka sudah tahu? ucap Ayah Julia, justru ialah yang cemas.


"Pak, kebetulan kedua orangtua sudah tiada, Mereka meninggal karena kecelakaan lima tahun yang lalu, orangtua satu-satunya yang masih ada, tinggal Nenek saya, dan beliau sudah menganggap Julia seperti cucunya sendiri Pak, Bu,,,,." sahut Satria sopan, ia tersenyum sambil melirik Julia yang serius mendengarkan.


"Kamu bagaimana Julia? semua saya serahkan sama anak bapak." tanya Ayah sambil mengalihkan pandangan pada anaknya.


Julia cuma tersenyum,,,, "Ya terserah Ayah sama Ibu, Julia akan menikah dengan orang yang Julia cintai, tapi dengan restu Ayah sama ibu,,,,." jawab Julia trenyuh.


"Nak Satria,,,, Julia kami besarkan dan kami didik dari kecil sampai ia dewasa, dengan penuh kasih sayang. Saya tidak ingin menitipkan anak saya pada orang yang salah. Pesan Bapak, kalau memang Nak Satria serius ingin melamar Julia, jangan pernah kamu sakiti hatinya. Kalau kamu sudah tidak sanggup mencintainya, mengurusnya dan mendidiknya, sampaikan pada Bapak, biar Bapak yang mengambilnya kembali." ucap Ayah Julia mendalam, matanya berkaca-kaca. Demikian juga dengan Ibu.


Ia sangat bahagia, ada orang yang berkeinginan menikahi anaknya, tapi ia juga sedih membayangkan perpisahan dengan anak semata wayangnya.

__ADS_1


"Pak, Bu, saya insyaa Allah berjanji akan menjaga amanah Bapak dan Ibu dengan sebaik-baiknya." jawab Satria tulus.


Kedua orangtua Julia tersenyum, akhirnya ia melihat rona kebahagiaan di mata anaknya.


"Baiklah, kalau Bapak boleh tahu? kapan sekiranya keluarga Nak Satria secara resmi datang melamar? Maaf,,, bukan apa-apa Nak, ini memang sudah tradisi kita kan ya?" ucap Ayah Julia sambil tertawa, memecahkan kekakuan.


Akhirnya pelan-pelan suasana yang kaku menjadi mencair,,,,


"Oh ya satu lagi Nak Satria, Julia itu kan setahu Bapak baru beberapa bulan bekerja, sekitar 10 bulanan ya Jul? Nah itu nanti gimana? Julia mungkin kan merasa sungkan kalau harus resign segera, apalagi kemarin itu Julia sempat resign, tapi disuruh masuk lagi? kamu gimana Julia?" tanya Ayah serius.


Begitulah Ayah, dia tidak ingin mempunyai anak yang tidak bertanggung jawab pada hal apapun.


Sontak Satria dan Julia pun tertawa berbarengan,,,, kedua orangtua bingung melihat mereka tertawa. Lalu____


"Soal itu Bapak tidak perlu khawatirkan Pak,,, Bapak bisa sampaikan pada Bos Julia sekarang. Kalau anak Bapak resign jadi karyawannya,,,, begitu Pak?" ucap Satria terkekeh.


"Loh maksudnya gimana ya? Bapak jadi bingung?" tanya Ayah Julia sambil garuk-garuk rambutnya.


"Yah maksud Mas Satria, Ayah ajuin aja kalau pengen Julia resign jadi karyawannya, karena Julia sudah dilamar untuk jadi calon Istrinya Yah,,,." Ucap Julia sambil tertawa.


"Jadi,,,, Nak Satria ini? Bos Julia di kantor?!" tanya Ayah tersipu malu. keempatnya akhirnya tertawa bersamaan.


"Sudah,, sudah,,, kok malah ngobrol terus, ayo diminum Nak tehnya, udah hampir dingin ini." ucap Ibu Julia sambil tersenyum.


Obrolan akhirnya berubah santai dan berganti ke topik yang sedang up to date, sambil ngemil cemilan yang sudah disiapkan Julia bersama minuman tadi.


Satria menghembuskan nafas lega, ternyata Pak Rusman, Ayah Julia tidaklah segalak yang ia pikirkan, dalam bayangan Satria, biasanya anak yang cantik, bapaknya pasti galak! alamaaaaakk,,,,, 🤭🤭🤭


💖


💕


💖


( Aduuhhhh alhamdulillah acara melamar bisa berlangsung lancar,,,, mo lanjuuuuuttt? dituggu dulu nih like n commentnya 😘😘😘 )

__ADS_1


__ADS_2