Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
PENYELIDIKAN DIMULAI


__ADS_3

Panas tubuh Julia belum juga turun. Ayah dan ibunya sangat cemas, akhirnya jam tujuh pagi Julia dibawa ke rumah sakit.


Setibanya di Rumah Sakit Julia langsung di bawa ke IGD, agar segera ditangani. Dokter jaga menanyakan identitas pasien, lalu memeriksanya dengan teliti. Orang tua Julia dengan sabar menunggu Dokter memeriksa.


Kemudian,,,


"Saya belum bisa menyimpulkan apakah anak ibu kena DB atau typhus, karena diliat dari gejalanya hampir sama, sebentar lagi Saya ambil darahnya, untuk cek laboratorium." kata Dokter.


Seorang perawat datang membawa alat suntik, alkohol, kapas dan perlengkapan lain. Lalu mengusapkan siku bagian dalam dengan kapas yang telah dibasahi cairan alkohol, setelah agak mengering, perawat memasukkan jarum suntik ke lengan pasien, dan mengambil beberapa cc darah pasien. Setelah pengambilan sampel darah selesai, Dokter berkata lagi.


"Saya akan buatkan surat rekomendasi agar pasien dirawat inap, agar terjaga pola makan dan harus benar-benar bedrest." ucap dokter.


Orang Tua Julia mengangguk setuju. Setelah surat administrasi ditandatangani orang tua pasien, setengah jam kemudian Julia dibaringkan di brancar, perawat memasang alat infus di lengan Julia, lalu membawa brancar naik menuju lantai tiga Rumah Sakit untuk rawat inap.


***


Tn. Satria memerintahkan Edwin supirnya menuju rumah Nenek.


Dengan cepat mobil melaju meninggalkan kota Jakarta menuju Bogor. Jalan menuju rumah Nenek sangat asri, di kiri kanan jalan dinaungi pohon-pohon besar.


Beberapa menit kemudian mobil sampai di halaman rumah Nenek. Pak madi yang tadi membukakan gerbang, berjalan menuju Tn. Muda Satria.


"Selamat pagi Tuan Muda." sapa Pak Madi ramah.


"Selamat pagi juga Pak Madi." balas Tn. Satria.


"Nenek ada Pak Madi?" tanya Satria lagi


"Ada Tuan, kebetulan hari ini Nyonya tidak ada acara kemana-mana.


Satria turun dari mobilnya, membuka pintu rumah dan terus masuk meencari Nenek.


"Nek!,,,, Nenek,,,,!" panggilnya. Kepalanya celingukan mencari sang Nenek dari ruang ke ruang. Maklum rumah Nenek lumayan besar, walaupun tidak tingkat. Satria mencari Nenek di kamarnya, tapi Nenek juga tidak ada disana. Akhirnya ia menuju ke dapur, kosong,,,, dibukanya pintu belakang rumah, ternyata Nenek sedang duduk di teras, sedang memandangi kebun bunga miliknya.


Satria berjalan ke tempat Nenek duduk, mengalungkan lengan ke leher Nenek, dan mengecup pipi Nenek. Nenek menoleh sekilas, tapi ia diam saja.


"Hmmm aku panggil-panggil Nenek, tidak ada yang menyahut, ternyata disini Nenek?" ucap Satria manja.


Nenek masih saja diam, tidak menanggapi kalimat cucunya. Satria mendengus kesal dan manja.


"Nek?" Satria memanggil dengan lembut, sambil menoel pipi sang Nenek. Nenek tak bergeming.


"Nenek masih marah padaku?" Oh ayolah Nek ,,,,

__ADS_1


Nenek mendorong cucu kesayangannya dengan lembut, untuk menjauh, lalu berkata.


"Satria, ucapkan Assalamu'alaikum kalau masuk rumah. Kamu ini,,,, usiamu 33 tahun, dan sudah punya anak, masa kelakuanmu seperti anak kecil." ucap Nenek sambil mengerucutkan bibirnya.


"He he he,,, iya nek maaf,,,, Assalamu'alaikum Nek." sapa Satria lembut, sambil menggaruk kepalanya.


"Walaikumsalam,,,, " jawab Nenek datar.


"Satria,,, Nenek kesal, kenapa baru sekarang kamu kesini? Nenek tidak kamu anggap hm?" Nenek bertanya.


"Maaf Nek, Satria baru bisa meninggalkan pekerjaan, bukan karena Satria lupa sama Nenek." ucap Satria.


"Ya Sat, Nenek paham,,,." sahut neneknya datar.


"Nek, Nenek tidak jadi bertanyakah soal Sherly?" pancing Satria.


Nenek terdiam lama,,,


Bi Eroh datang membawakan mereka dua cangkir teh hangat dan camilan khas Kota bogor.


"Silahkan Tn Muda,,,, Nek,,, ." Bi Eroh mempersilahkan.


"Terima kasih Bi,,,." jawab Satria melemparkan senyum.


Bi Eroh bergegas masuk ke dalam.


Satria menunggu,,,,


"Waktu Nenek mau mengunjungi Sherly di rumahnya. Nenek belum turun dari mobil, dari mobil Nenek melihat Sherly keluar rumah bersama laki-laki." lanjut Nenek, ekspresi Nenek tersenyum masam.


"Alhamdulillah,,,, akhirnya Nenek tahu juga. Nek biarpun Satria seorang duda, Satria tidak pernah mempermainkan perempuan, Satria tidak pernah menyentuh mereka." ucap Satria bersungguh-sungguh.


Sesaat kemudian, Nenek merangkul cucunya dengan kasih sayang. dengan mata berkaca-kaca Nenek menangkupkan kedua tangan tuanya di kedua pipi Satria.


"Dasar anak nakal,,,!" ucap Nenek terkekeh,,, " Nenek percaya Satria,,,."


"Satu lagi,,,, Nenek minta, jangan kamu selalu ketus pada Pak Amad, dia yang mengasuh kamu sedari kecil! hormatilah ia seperti orang tuamu sendiri Sat,,, " Nenek berkata lagi.


"Ta-tapi Nek,,,,." ucap Satria menggantung.


Nenek menggeleng,,,,


"Satria, bagaimanapun dia cuma seorang abdi. Saat Srianti selingkuh di rumahmu, Ia pasti tidak berani mengatakan apapun padamu! karena ia takut, keluarga kecilmu berantakan. Kamu mestinya paham maksudnya Satria, Ia bukan ingin menutupi perselingkuhan mantan Isterimu!" lanjut Nenek.

__ADS_1


Satria merasa menyesal dengan teguran Nenek, ya memang bukan salah Pak Amad. Ia merasa bersalah, karena selama ini selalu bersikap ketus pada orang yang telah mengasuhnya dari kecil. Satria meraup mukanya,,,


***


Di ruang perencasnaan, Rico berjalan tergesa, ia mencari Fatah di ruangannya. Tapi ruangannya kosong. Ditutupnya kembali ruangan Fatah.


Baru saja ia membalikkan badan, Hendro anak buah Fatah memberitahu kalau Fatah ijin cuti, karena Isterinya mau melahirkan. Rico mengerutkan kening,,,


"Pak Rico,,,, " suara seseorang memanggil, ia menoleh ke arah datangnya suara. Dilihatnya salah satu anak buah Fatah berjalan menghampiri.


"Pak, Saya Rudi, saya mau menyerahkan berkas penawaran dan flasdisk mba Julia. Dari kemarin Saya bingung mau menyerahkan ke siapa? Mba Julia tidak masuk, Pak Fatah juga Cuti." ucap Rudi sambil menyerahkan berkas dan flasdisk pada Rico.


"Kenapa ini ada di kamu?" tanya Rico menyelidik, Ia menerima berkas dan flasdisk dari tangan Rudi.


"Maaf Pak Rico, Sebelum penawaran masuk, Mba Julia minta tolong untuk mengeprintkan semua data penawaran yang ada di flasdisk, karena printer Mba Julia ngadat, dan karena Mba Julia tidak kembali lagi malam itu, Saya jadi lupa pak." Rudi menjelaskan.


Pelan tapi pasti, permasalahan ini semakin menemukan titik terang. Rico menyunggingkan senyum.


"Oke terima kasih Rudi, Ndro,,,." ucap Rico kepada dua orang di depannya.


"Sama-sama Pak Rico." jawab mereka berbarengan.


Rico berlalu dari hadapan mereka, yang masih terbengong. Kali ini ia ingin mencari Indra,,,


***


Rico duduk di lobi gedung perkantoran yang berada di lantai dasar. Ia sesekali melihat sekeliling, dan kadang mengetik di ponselnya. Ia menunggu sampai bosan, tapi yang ia cari tidak datang. Kabarnya setelah Daffin memenangkan tender, ia diam-diam berpindah kantor di gedung lain. Maklum gedung ini memang milik Tn. Satria. Tn. Daffin salah satu penyewa gedung, yang harus sadar diri.


Saat sedang berpikir, tiba-tiba ia melihat sesosok manusia yang sedang ia cari. Indra sedang membawa sekotak kardus peralatan kerjanya. Ia baru saja keluar dari dalam lift. Langsung saja Rico menghampiri Indra.


"Indra? Anda Indra bukan?" tanya Rico.


Indra mengernyitkan keningnya,,,


"Ada yang ingin saya bicarakan denganmu." ucap Rico lagi.


Indra mengangguk.


"Mari ikut denganku." Rico berkata lagi sambil meminta Indra mengikutinya.



__ADS_1



( Selalu ikuti kisah Bukan Perempuan Pilihan. Jangan lupa like n commentnya,,, 😊😊😊 )


__ADS_2