Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
KONSPIRASI SANG BABY SITTER


__ADS_3

Sepeninggal Julia, Satria menghempaskan tubuhnya di sofa di ruang tamu. Ia sedih harus kembali mengalami ini semua. Kemudian datang Maryati, yang tiba-tiba duduk di bawah kakinya, dan mencoba memijit kakinya.


"Hai apa-apaan kamu Mar?! sudah sana!" Satria menjauh, disentakkan kakinya.


"Maaf Pak,,, saya cuma ingin memijit kaki bapak. Maaf saya tidak pernah memberitahu bapak, kalau ibu memang sering kali menerima telpon dari seseorang." ucap Maryati.


Satria menatapnya tajam, ia belum mempercayai ucapan Maryati.


"Memangnya siapa yang sering menelpon? apa yang kamu tahu?!" tanya Satria tegas.


"Anu Pak, ya dari laki-laki lah Pak, entah siapa. Tapi seringkali Nyonya berbicara mesra sekali dengan orang itu. Tapi saya takut melapor Pak!" ucapnya lagi penuh kebohongan.


"Berapa kali kamu dengar?" tanya Satria penasaran.


"Sering Pak,,,,! kadang sehari sampai berkali-kali, tapi saat saya ada, ibu tidak langsung mengangkatnya. Dan baru diangkat kalau saya tidak disana." ucap Maryati.


Sementara Pak Amad yang membawakan kopi untuk tuannya, memandang Maryati dengan sebal. Ia tidak mempercayai ucapan Maryati.


Satria memandangi Pak Amad yang terlihat kesal.


"Benar begitu Pak Amad? seperti yang dikatakan Mba Mar?!" tanyanya pada Pak Amad. Pak Amad jadi salah tingkah, ditanya seperti itu.


"Saya tidak pernah melihat Nyonya seperti itu Tuan. Mungkin dia hanya mengada-ada!" ucap Pak Amad sengit.


"Tidak Pak,,,,! sungguh saya melihatnya sendiri! Pak Amad kan jarang ke kamar atas?!" ucap Maryati meyakinkan majikannya.


Satria hanya mengangguk kecil, ia kembali terdiam. Wajahnya mengeras.


"Ya sudah! kembali kalian ke tempat masing-masing!" ucapnya sambil memberi kode kepada keduanya untuk pergi.


***


Maryati menelpon Srianti, dan mengabarkan peristiwa siang ini kepadanya. Keduanya tertawa puas bersamaan di telpon.


"Bagus! sekarang jangan lengah, buat Julia tak bisa kembali ke rumah itu lagi! racuni terus Tuan Satria, aku akan membantumu dari sini!" perintah Srianti.


"Baik bu!" ucap Maryati merasa puas.


***


Siang ini kembali ada kiriman buket bunga untuk Julia, seorang kurir mengantarkannya, kebetulan Satria masih duduk dan menikmati kopinya di ruang tamu.

__ADS_1


"Dari siapa Mas?!" tanya Satria menyelidik.


"Wah saya kurang paham Pak, tapi ada amplop kecil disitu, tertulis atas nama Daffin." ucap kurir itu pada Satria.


Satria meraih buket bunga itu, dan mengucapkan terima kasih, dengan hati yang dongkol.


"Lagi-lagi kamu Daffin!! mengapa tak juga berhenti mengganggu istriku?!" gerutunya sambil membanting buket bunga itu ke lantai. Diraihnya amplop pink, dan membuka isinya, ia membaca surat kecil dalam amplop.


To. Julia sayang,,,,


Maaf aku mengantarkan bunga ini lagi, sebagai bukti aku sangat merindukanmu. Aku rindu hangatnya pelukmu Julia. Terimalah aku, dan tinggalkan suamimu! aku mohon,,,,,


Dariku,


Daffin


Satria geram sekali melihat tulisan tangan itu. Ia lantas pergi dan mengendarai mobilnya sendiri. Ia ingin menenangkan diri.


***


Sambil bernyanyi kecil Maryati memunguti buket bunga yang berserakan di lantai. Cepat sekali bu Srianti bertindak, pikirnya.


"Lumayan juga buat pajangan di kamarku." gumamnya senang.


"Oh Pak Amad? ada apa?" tanyanya santai.


"Mar, apa yang kamu sampaikan pada Tuan itu benar? kamu sama-sama perempuan dengan Nyonya, jangan sekali-kali kamu menebar fitnah dan memanasi Tuan!" tegur Pak Amad.


"He siapa yang fitnah? memang begitu kok! buktinya Pak Satria punya bukti foto, kalau Ibu sedang bermesraan di cafe?!" ucap Maryati cuek.


"Tutup mulutmu Mar! jangan suka ikut campur masalah orang! kalau kamu ingin terus kerja disini! tugasmu itu menjaga den Arga! bukan kepo sama masalah orang! ingat, Nyonya Julia itu majikan kita." ucap Pak Amad mengingatkan Maryati.


Maryati tidak menggubris ucapan Pak Amad, ia malah melenggang pergi dengan genitnya. Pak Amad yang sudah kesal dengan kelakuan Maryati, geleng kepala sambil mengelus dada.


"Aku harus menyelidiki siapa Maryati sebenarnya, aku tidak yakin Nyonya Julia serendah itu." bathin Pak Amad.


***


Satria bolak balik memukuli stir mobilnya. Ia tak habis pikir, kenapa Daffin begitu mengejar istrinya. Dulu Daffin itu sahabat baiknya, Satria selalu membantu proyek yang dikerjakan Daffin dengan tulus. Mereka sering partneran dalam bisnis. Bahkan Satria menyewakan satu lantai full dengan harga yang murah untuk kantor Daffin.


Puncak keretakan hubungan mereka, adalah saat akan mengerjakan proyek di Lyon. Tapi rupanya keserakahan Daffin terlihat, ia memunggungi Satria, bahkan berusaha mempecundangi Satria. Kini, bukan hanya bisnis Satria yang diganggu, istrinya juga berusaha direbut oleh Daffin.

__ADS_1


***


Julia telah sampai di rumah Nenek, ia menemui Nenek sambil menangis.


"Julia,,, ada apalagi? kenapa kamu datang sambil menangis begini?!" ucap Nenek, sambil meraih Arga dari gendongan Julia.


"Nek aku memang salah,,,,." ucapnya getir.


"Duduklah dulu, setelah itu ceritakan pada Nenek." ucap Nenek tenang.


Julia menuruti ucapan Nenek, dia duduk di sebelah Nenek, dan mulai bercerita.


"Aku bertemu dengan Daffin hari ini Nek, dia memaksaku untuk datang. Daripada dia datang ke rumah, aku menyetujui untuk bertemu diluar. dia ingin berpamitan padaku, karena dia ingin tinggal di Amerika. Tapi ada seseorang yang mengirimkan foto pertemuan kami Nek." ucap Julia terisak.


"Apa kamu tidak minta ijin suamimu?" tanya Nenek.


"Iya Nek aku salah, karena tidak memberitahu Mas Satria. Tapi sungguh Nek, kami hanya bertemu sebentar, karena Daffin ingin berpamitan. Itu saja. Dan dia berjanji tidak akan mengganggu keluarga kami lagi." ucap Julia jujur.


"Itu saja?" tanya Nenek.


"Iya Nek, Demi Tuhan cuma itu." ucap Julia.


"Ya apapun alasannya, yang kamu lakukan memang salah Julia. Kamu harus minta maaf pada suamimu. Tapi masalahnya, Satria masih dalam keadaan cemburu buta!" ucap Nenek.


"Ya aku tahu Nek,,,, aku malu, telah mengabaikan kepercayaannya." isak Julia.


"Nenek senang kamu jujur mengatakanya Julia. Tapi begitulah Satria, kamu harus sabar menghadapi sikapnya yang keras kepala, dan pencemburu." ucap Nenek terkekeh.


"Dia marah besar padaku Nek." Julia mengadu.


"Itu karena dia sangat mencintaimu!" jawab Nenek.


"Kalau Nenek jadi kamu, nikmati saja kecemburuan Satria. Tetaplah berlaku lembut pada suamimu, begitulah seorang perempuan, tempatnya mengalah, tapi harus bisa menjadi sandaran untuk suami, disaat dia terpuruk atau banyak masalah. Ah Dia sedang kelimpungan Nenek rasa, dia takut kehilanganmu!" ucap Nenek sekali lagi.


Kata-kata Nenek bagaikan obat buat Julia. Ia makin sayang pada Nenek, karena bisa menjadi tempatnya curhat dan berkeluh kesah. Karena setelah menikah, tidak mungkin ia mengadu apapun pada ibunya.


Julia jadi teringat ibu, berbulan-bulan, ia tak menghubunginya. Ingin rasanya saat seperti ini, ia menemui dan memeluk ibunya. Tak terasa ia air matanya mulai menetes lagi, bukan karena sedih, tapi karena kangen.


💚


💚

__ADS_1


💚


( Bersambung,,,,, )


__ADS_2