
Satria terus menghajar samsack sampai puas dan lelah. Ia memang bahagia istrinya telah kembali, tapi entahlah bayangan istrinya yang bercumbu dengan Daffin, sangat mengganggu pikirannya. Dia sangat mengenal bagaimana playboynya seorang Daffin, dan Julia berada bersamanya selama enam bulan lebih, dan dalam keadaan Amnesia? Ia meragukan kesucian Julia.
Apalagi wajah Daffinpun sangat tampan, tidak sulit tentunya memikat hati seorang perempuan. Ditambah Daffin membawanya jauh di pedalaman Kalimantan. Pikirannya berkecamuk.
Rico memandang kegalauan Bosnya. Tapi ia tak berani menegurnya. Ia cuma duduk di kursi teras, menunggu. Rico paham, Bosnya pasti meragukan istrinya.
"Arrrrgghhhhhh!!!" Satria berteriak perlahan. Ia merasa galau dengan semua yang terjadi. Harapannya untuk berjumpa lagi dengan anak dan istrinya sudah terkabul, tapi ia takut menerima kenyataan bahwa sudah terjadi diantara Julia dan Daffin.
"Bos?!" panggil Rico.
"Ada apa Rico?" tatapan Satria dingin.
"Apakah tidak sebaiknya anda melupakan semua yang telah terjadi? terimalah Julia, bagaimanapun dia tidak bersalah. Apa yang anda bayangkan, mungkin belum tentu terjadi." ucap Rico bijak.
"Apa maksudmu Rico?! apa kamu berpikir, bahwa aku harus melupakan, kalau Daffin mungkin saja sudah meniduri istriku?! itu maksudmu?!" ucapnya Satria setengah berteriak.
Rico tak tahu apa yang harus ia katakan selanjutnya. Karena ia tahu, kalau Bosnya sudah memendam sesuatu, ia harus bersabar, sampai Bosnya pulih sendiri.
***
Pak Amad naik ke kamar atas, untuk memberitahu Nyonya Julia, makan siang sudah siap. Ia merasa bersimpati dengan apa yang terjadi padanya.
"Nyonya makan siang sudah siap,,,, Tuan Satria sudah menunggu di meja makan Nyonya." ucap Pak Amad.
"Baik Pak Amad, terima kasih,,,, sebentar lagi saya turun." jawab Julia ramah.
Julia menggendong Arga, dan segera turun ke bawah.
Ia memandang Satria, suaminya dengan ragu, tapi tetap berjalan ke arah meja makan. Arga yang berada di gendongannya mulai rewel.
"Ayo sayang,,,, yang soleh ya,,, kita makan siang sama Ayah." ucap Julia mencoba menenangkan Arga yang gelisah.
Mendengar kerewelan Arga, Satria menengok ke arah mereka. Ia mengamati wajah Arga yang sangat mirip dengan dirinya saat seusia Arga. Melihat itu Satria sedikit trenyuh. Ia mencoba menyapa anaknya.
"Sini sayang,,, Ayah pangku ya?" ucapnya sambil menjulurkan tangannya pada Arga. Tapi Arga justru menepis tangan Satria, ia makin rewel. Julia merasa kikuk dengan keadaan ini.
__ADS_1
Tapi Satria dengan sabar merayu Arga, ia ingin sekali menggendong anaknya. Tak butuh waktu lama, Arga mau digendong, Satria memangku Arga sambil makan. Selama makan siang, Satria tidak mengajak mengobrol sepatah katapun pada Julia, hingga Julia merasa jengah, dan perutnya terasa kenyang. Padahal ia belum makan sedari tadi, baru makan sepotong roti dan teh hangat.
Dan bukannya tidak sopan, Julia dengan pelan, meninggalkan meja makan, dan naik ke kamar. Ia tinggalkan Arga yang masih berada di pangkuan Satria.
Baru beberapa tangga ia naiki.
"Kamu mau kemana? apakah kamu tidak suka semeja denganku?" ucap Satria terdengar sinis.
Julia menghentikan langkahnya. Hatinya perih mendengar ucapan suami, yang sangat ia rindukan.
"Aku belum lapar Mas, kepalaku juga pusing. Maaf aku ke kamar dulu." ucap Julia gemetar.
"Hemm,,,,." Satria hanya mendehem. Dan memperhatikan gerak gerik istrinya dari kejauhan. Setelah itu ia meletakkan sendok makannya dengan kasar, hingga Arga menangis karena kaget. Satria berusaha menenangkan tangisan Arga dengan mengajaknya ke teras belakang.
Pak Amad yang memperhatikan kondisi rumah tangga majikannya, hanya mengelus dada. Ia ikut merasakan keprihatinan. Ia kasihan pada Julia, tapi juga tidak bisa menyalahkan Satria.
***
Sore harinya, Sandrina datang bersama Srianti. Pak Amad yang membukakan pintu, merasa khawatir, kedatangan Srianti justru akan memperkeruh suasana.
Pak Amad merasa enggan untuk menjawab. Tapi ia takut akan dikatakan tidak sopan, kalau diam saja.
"Hm iya Nyonya. Tuan Satria berada di kamarnya." jawab Pak Amad malas.
"Kenapa? sepertinya Pak Amad tidak suka menjawab pertanyaanku? aku hanya mampir mengantar Sandrina,,, Ia ingin melihat adik bayinya." ucap Srianti tersenyum sinis.
"Tidak Nyonya,,,,." jawab Pak Amad singkat. Ia memilih untuk menghindar dari Srianti.
Saat itu, Satria turun ke bawah, ia menggendong Arga, dan tersenyum mendekati Sandrina yang berjalan ke arahnya.
"Ayah, apa itu adik bayiku?" tanya Sandrina riang.
"Iya ini dek Arga, ganteng ya kak?" ucap Satria sambil mendekatkan Arga ke arah Sandrina. Srianti memandangnya dengan tatapan iri, karena anak Julia laki-laki.
Tapi Srianti mendekat, dan berkeinginan menggendong Arga.
__ADS_1
"Coba sini, Arga ikut tante ya?" ucap Srianti.
Arga yang masih di gendongan Ayahnya, menolak tangan Srianti, ia malah menangis kencang. Tapi Srianti tetap memaksa menggendongnya, dan Satria melepas Arga.
Tangisan Arga semakin kencang, walaupun Sandrina memberikan mainannya. Hingga membuat Julia berlari turun. Ia terkejut karena kedatangan Srianti, yang saat itu menggendong Arga.
"Mari sini Arga, ikut Bunda ya?" ucap Julia pelan. Ia mengambil Arga dari tangan Srianti.
Srianti memberikan Arga kepada Julia dengan jengkel.
Satria yang melihat itu, menganggap bahwa Julia tidak sopan, dan berlalu pergi dari sana mengajak Sandrina.
"Yok kak, kita jalan-jalan,,,, biar dek Arga sama Bunda ya?" ucap Satria.
Mereka meninggalkan Julia, diikuti Srianti. Dasar Srianti tidak punya malu, mengikuti suami orang seenaknya.
Satria mengajak Sandrina ke taman kota, karena kebetulan ini malam minggu, mereka juga makan malam bertiga di sekitar taman.
***
Sampai hampir jam makan malam, Satria tidak pulang, alhasil Julia makan malam sendiri. Walaupun dengan rasa malas, ia paksakan juga untuk makan, demi air susu yang cukup untuk Arga. Satria baru pulang jam sembilan malam bersama Sandrina dan Srianti. Satria masuk ke dalam kamarnya, dan masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Ia memperhatikan Julia yang tertidur pulas sambil menyusui Arga. Saat itu ia memandangi wajah polos istrinya dengan terenyuh. Ia menyayangi dan sangat mencintai Julia, tapi ia belum bisa menerimanya dengan sepenuh hati saat ini. Sangat perlahan ia mendekati kening Julia dan menciumnya lama, berusaha meresapi apa yang ia lakukan.
Sebenarnya Satria sudah ingin tidur di kamar lain, tapi karena kehadiran Srianti, ia memilih untuk tetap tidur sekamar dengan Julia. Satria terus memandangi Julia sambil berbaring.
Salahkah ia melakukan semua ini pada Julia? pikirnya. Tapi harga diri Satria memang teramat tinggi, ia tidak akan berlaku lembut dulu pada Julia, sebelum ia mengetahui semua yang telah terjadi antara Daffin dengan Julia.
Tak terasa, airmata jatuh menetes dari kedua mata Satria. Bayangan buruk selalu berkelebat di pikirannya.
♠️
♠️
♠️
( Bersambung,,,,, )
__ADS_1