Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
PERTEMUAN TAK TERDUGA


__ADS_3

Nenek yang Julia temui diatas kereta, sangatlah spesial,,,, ia membuat Julia hampir masuk dalam kemelut masalah sang nenek. Tapi Sang Kuasa insyaa Allah selalu memberikan perlindungan.


Mobil mereka tiba di sebuah rumah besar dua tingkat, dengan halaman yang sangat luas. Julia seketika takjub melihatnya. Benar dugaannya nenek yang belum menyebutkan namanya ini pasti orang berpengaruh.


Saat ia dipersilahkan masuk, ia seperti orang udik yang turun ke kota.



"Silahkan masuk Nona,,,." ucap seorang pelayan ramah. Julia baru sadar karena keudikannya, ia baru ngeh kalau sang Nenek beserta ajudannya sudah masuk lebih dulu, Julia disambut oleh pelayan, lalu diajak menuju ruang tamu yang begitu mewah.


"Oh eh iya terima kasih bu,,,,." ucap Julia merasa malu.


"Saya disuruh menanyakan, Nona mau minum apa? dingin atau hangat?" tanya pelayan kemudian. Ia tersenyum karena melihat Julia gugup.


"Apa saja bu,,, emm kalau ada es teh?" sahut Julia lagi sambil nyengir.


"Baik Nona, tunggu sebentar saya akan buatkan." jawabnya sekali lagi. Kemudian pelayan masuk.


Julia sedang melihat ke sekeliling ruang tamu sambil duduk, ketika tiba-tiba dua orang ajudan nenek, dan seorang perempuan usia 37th an berjalan menuju ke arahnya. Ta-tapi sepertinya Julia pernah melihat orang ini, tapi dimana ya? bathin Julia.


"Hai Julia, maaf ya sudah bikin kamu menunggu,,, Maaf bukan berniat mengusir, tapi apa kamu sudah menghubungi kerabatmu?" tanya perempuan itu. Julia bingung, kenapa perempuan itu tahu namanya? apa nenek yang memberitahukan namanya?


"Ohya Maaf saya lupa mba,,,, saya mau hubungi teman saya santi untuk menjemput, tapi ini udah larut malam, saya tidak yakin ia masih terjaga?" sahut Julia ragu.


"Apa tidak ada kerabatmu laki-laki? kamu lebih aman kalau yang menjemputmu laki-laki." ucap perempuan itu lagi.


Bukannya menjawab, Julia malah melontarkan pertanyaan kepada perempuan itu.


"Maaf sebelumnya mba, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? saya merasa tidak asing dengan mba. Terus dimana nenek yang tadi?" tanya Julia penasaran.


"Oh gini Julia, aku tahu namamu, karena akulah yang tadi menyamar jadi nenek, hihi,,,,. kenalkan nama saya Arzhad, Arzhad Gresco, saya sangat berterima kasih padamu. Oh betapa konyolnya saya yang lengah tadi." jawab perempuan itu terkekeh, suaranya berubah menjadi nenek yang tadi.


Julia betul-betul terkejut,,,,, lalu iapun tertawa. Tapi benar orang ini memang ia pernah bertemu sebelumnya.


"Mba,,, maaf, apakah mba pernah berada di Lyon perancis kira-kira 2 bulan lalu?" tanya Julia yang masih penasaran.


Seketika senyum lebar menghiasi perempuan cantik bernama Arzhad Gresco ini.


"Hmmm yaaaa,,, waktu meeting pre tender? ya saya berada disana. Apakah kamu sekretaris Tuan Satria?" tanya Arzhad.


"Ya betul mba,,,,." senyum Julia mengembang.

__ADS_1


"Tapi,,, bukannya mba waktu itu mewakili perusahaan dari Italy?" Julia makin penasaran. Arzhad yang ditanya malah tertawa terbahak.


Arzhad pamit ke Julia untuk masuk sebentar, di ruang keluarga, ia memencet tuts ponselnya. Ia menelpon seseorang.


"Selamat malam Tuan Satria, Maaf mengganggumu selarut ini,,,,." ucap Arzhad berbasa basi.


"Oh Nona Arzhad,,,, tumben malam-malam telpon? kebetulan saya belum tidur juga. Ada apa Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Satria penasaran.


"Emmm saya bersama sekretarismu Nona Julia, ia berada di rumahku, tapi jangan tanya kenapa sekarang,,, kalau bisa, tolong kirim orang untuk menjemputnya. Biar lebih aman." ucap Arzhad lagi.


Satria terkejut, tapi ia merasa senang akhirnya Julia berada di Jakarta.


"Baik Nona Arzhad, saya sendiri yang akan menjemputnya, terima kasih karena menelpon." jawab Satria sopan.


"Baiklah Tuan Satria, saya tunggu. Met malam." ucap Arzhad sambil memutuskan sambungan telpon.


Arzhad kembali ke ruang tamu, ia melihat Julia sedang minum es teh, Ia merasa bangga dengan Julia, karena telah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan berkas penting untuknya, dan ia menilai Julia adalah gadis yang baik.


Arzhad menawari Julia makan malam, sambil menunggu seseorang menjemput Julia, tapi Julia menolaknya dengan halus, karena sudah terlalu larut, lagipula ia juga sedang memikirkan siapa orang yang dimaksud Mba Arzhad untuk menjemputnya.


Sambil menunggu, Arzhad mengajak Julia mengobrol ringan. Arzhad bertanya tentang keluarga Julia dan juga pertemuan di Lyon beberapa bulan lalu.


Sejam kemudian, seseorang datang menjemput Julia. Julia benar-benar terkejut, ternyata orang yang dimaksud Mba Arzhad adalah,,,, Tuan Satria?! Julia gugup demi melihat Tn. Satria di hadapanya sambil tersenyum. OMG,,,,


"Malam Tuan Satria." jawab kedua perempuan itu nyaris berbarengan. keduanya terkekeh.


"Sepertinya tidak ada masalah? kalau begitu, apa saya bisa membawa pulang Nona Julia sekarang, Nona Arzhad?" tanya Satria to the point. " Emm bukan bermaksud tidak sopan, tapi sudah terlalu larut, mungkin Nona Arzhad juga ada kepentingan lain." ucap Satria sungkan.


"Ya ya ya,,,, saya paham Tuan Satria, tidak apa. Kerana Nona Juliapun harus segera istirahat bukan? lain kali aku akan bercerita padamu Tuan Satria." jawab Arzhad sambil mengedipkan mata yang membuat Julia jengah, begitu juga Satria yang agak kikuk.


"Baik Nona Julia ayo, kita beristirahat. Eh maksud saya ayo saya antar kamu pulang." ucap Satria yang terkejut dengan kalimatnya sendiri, sambil memegang tengkuknya.


Semakin gugup karena Arzhad langsung menertawainya. Terlebih Julia, pipinya langsung memerah.


Keduanya mengucapkan terima kasih dan berpamitan.


Arzhad mengantarkan keduanya sampai halaman rumah, sampai keduanya masuk ke dalam mobil dan hilang dari hadapannya.


***


Julia merasa jengah, karena di mobil hanya mereka berdua. Tidak biasanya Tuan Satria menyetir mobil sendiri tanpa supir. Pandangannya menatap ke depan, tak berani melirik ke arah bosnya.

__ADS_1


Satria mendesah,,,,


"Kenapa kamu tidak mengabariku Julia? kalau kamu akan datang?!" tanya Satria memecah kesunyian.


Julia merasa heran, bosnya tidak memanggilnya dengan sebutan Nona? bathinya berkata.


"Ehm iya Tuan, saya anu,,, saya cuma ingin menemui Santi dulu, saya be-belum berencana mulai kerja besok Tuan." jawab Julia gugup.


Satria mengusap mukanya.


"Kenapa Julia? apakah kamu belum yakin mau menerima tawaranku, bekerja kembali?" ucap Satria lirih.


"Bu-bukan begitu Tuan,,,, tapi saya perlu menyiapkan diri dulu sebelum kembali ke kantor." jawab Julia sungkan. Ia masih memikirkan bagaimana menghadapi teman sekantornya lagi setelah prahara yang terjadi. Walaupun semua itu bukan kesalahanya, tapi ia masih merasa sedikit trauma.


"Julia,,, bolehkah aku memintamu untuk tidak memanggilku tuan saat kita berdua?" tanya Satria lembut.


Julia terkejut, ia jadi salah tingkah dan semakin tidak karuan.


Satria menyadari kekonyolannya, Julia pasti merasa tidak enak hati dengan permintaannya itu.


"Maaf Julia, kamu jangan salah sangka, aku cuma ingin kita bisa bicara akrab seperti kalau aku sedang berdua dengan Santi atau Rico. That's all!" ucap Satria berusaha mencairkan suasana. Julia berpikir bosnya sudah banyak perubahan. Ia merasa mulai nyaman.


Di perjalanan Julia merasa aneh, sepertinya ini bukan jalan menuju apartemen Santi, tapi ia sungkan untuk bertanya. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah besar, pintu gerbangnya terbuka secara otomatis seperti di rumah Mba Arzhad tadi, rumahnyapun tak kalah besar, apakah ini rumah Tuan Satria? pikirnya dalam hati.


Mobil sampai di depan teras rumah. Tuan Satria mengajak Julia turun.


"Julia maaf, aku tidak mengantarmu ke apartemen Santi, Ia pasti masih tidur kan? tidak mungkin kita mengganggunya. Sekarang kamu menginap disini saja dulu. Ada kamar tamu yang bisa kamu pakai malam ini." ucap Satria sambil membimbing Julia masuk.


"Astaghfirullahaladzim,,,,." pekik Julia panik.


"Hah ada apa Julia?! kamu baik-baik saja?" tanya Satria tak kalah panik.


"Anu Tuan,,,, koper saya masih di rumah Bu Arzhad!" jawab Julia sambil menepuk jidatnya sendiri.


Satria geleng-geleng kepala,,, rupanya perempuan ini kumat lagi cerobohnya. Ia kemudian tertawa terbahak membuat Julia kebingungan.


"Sudah,,,, sudah,,, tidak apa, nanti aku telpon Nona Arzhad, dan memberitahunya kopermu ketinggalan. Oh Julia,,, lain kali kamu mesti ingat bawaanmu." Satria makin tergelak.



__ADS_1



( Panjang juga ya episode kali ini,,,,?! 😁😁 Naaahh biar makin semangat author lanjutin cerita, monggo,,, ditunggu like n commentnya pemirsaaaahhhh 🤭🤭🤭 terima kasih,,,, )


__ADS_2