Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
KEHILANGAN NENEK


__ADS_3

Satria gelisah di ruang kerjanya, pikirannya tertuju pada Clara, ia belum begitu mengenal Clara, tapi kini Clara mengaku telah hamil. Dan sengitnya, ia meminta pertanggung jawaban Satria.


Julia masuk sambil membawakan minuman untuk suaminya. Satria tersadar dari lamunannya.


"Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu!!" teriak Satria kasar, membuat Julia terlonjak, hampir saja cangkir ditangannya tumpah.


Julia meletakkan cangkir ke atas meja kerja suaminya, dan memandang Satria dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa Mas berteriak? ada apa?" tanya Julia. Satria mengusap wajahnya dengan kasar, keringat mulai bercucuran dari dahi dan dagunya.


"Tidak apa-apa. Maaf aku hanya kaget, jadi berteriak. Aku sedang memikirkan bisnisku." ucap Satria melembut. Ia tak ingin melukai perasaan Julia.


"Ada masalah apa dengan bisnismu Mas? berceritalah,,,,." ucap Julia, ia memijit bahu Satria, agar suaminya lebih rileks. Satria memegangi tangan Julia dengan erat yang sedang bergerak memijit, ia seperti kehilangan kekuatan.


"Yank,,,,?" panggil Satria pada istrinya.


"Ya Mas, cerita saja. Aku akan mendengarkan." ucap Julia, Satria menarik tubuh Julia dan memangkunya. Ia merasa nyaman, Julia berada sangat dekat dengannya. Julia menunggu. Dengan air mata sedikit menggenang di pelupuk matanya, jari jemari Satria mengelus rambut istrinya, dan tak henti ia menatap Julia sendu.


Jantung Julia berdetak kencang, sepertinya suaminya sedang mengalami tekanan berat. Lalu perlahan Julia mendekat ke wajah suaminya, dan mencium kedua kelopak mata Satria bergantian.


"Mas, apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu!" ucapnya lembut, membuat Satria agak sedikit tegar.


"Sekarang katakanlah, ada apa?" ucap Julia lagi.


"Itulah yank,,, aku tidak cukup kuat untuk mengatakannya padamu." jawab Satria dalam hati.


Satria menimbang-nimbang, tapi akhirnya ia bangkit dari duduknya, membuat Julia merosot dari pangkuannya. Satria lalu pergi turun ke bawah, sambil berjalan cepat, ia menuju keluar rumah dan melarikan mobilnya. Julia seketika melongo melihat kepergian Satria.


"Tuan akan kemana Nyonya?" tanya Pak Amad.


"Entahlah,,,, ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu." ucap Julia tak sadar.


"Oh tidak Pak Amad, lupakan!" sahut Julia, ia kembali ke atas menuju kamarnya, dan masuk ke kamar Arga. Julia memandangi Arga yang tertidur pulas, karena lelah akan pesta ultah sore tadi.

__ADS_1


***


"Apaaaaa?!!!" kamu sudah gila Sat!!!!" bentak Nenek padanya. Satria mengendarai mobil sendiri ke tempat Nenek, dia menceritakan semuanya kepada Nenek, agar beban bathinnya berkurang. Tapi ia malah mendapatkan kemarahan Nenek.


Satria menumpahkan air matanya di depan Nenek.


"Satria, bagaimana sakitnya Julia nanti, kalau ia mendengar ini Satria!!!!" teriak Nenek lagi, tekanan darah Nenek naik, setelah mendengar ucapan Satria. Kepalanya terasa pusing, ia mencoba memijitnya, tapi pusing itu tak bisa hilang, nafas Nenek kemudian tersengal-sengal, dadanya terasa sangat sakit. Tiba-tiba Nenek ambruk, Satria berusaha menopang Nenek,,, dan sekuat tenaganya ia membopong Nenek, dan membaringkan tubuh Nenek di kamar. Satria menelpon dr. Jefri, yang menggantikan dr. Santoso sebagai dokter pribadi keluarganya.


"Baik, saya kesana sekarang Sat." ucap dr. Jefri.


Bi Eroh memijit kaki Nenek yang dingin dengan minyak kayu putih, sedangkan Pak Madi membuatkan teh hangat untuk Nenek. Tapi sampai dengan dr. Jefri datang Nenek belum juga sadar.


Satria mondar mandir di teras depan, menunggu kedatangan dr. Jefri sambil sesekali melirik arlojinya.


"Hmmmhh,,,,." Satria mendengus.


Sebuah mobil memasuki halaman, dr. Jefri dengan tergopoh segera turun, dan masuk rumah bersama Satria, yang langsung diajak ke kamar Nenek.


"Bagaimana?" tanya dr. Jefri pada Bi Eroh.


dr. Jefri langsung memeriksa tubuh Nenek, mulai dari detak jantung di nadi Nenek. Sesekali dr. Jefri menggeleng. Sepertinya waswas.


"Mmm Sat, sepertinya,,,,." ucapan dr. Jefri tercekat.


Ia melihat tangan Nenek menggapai-gapai. Ia memberi kode supaya Satria mendekat ke arah Nenek.


"Iya Nek,,,,?" Satria berusaha mendengarkan Nenek yang mencoba berbicara.


"Sat, ja,,,, ga,,,, di,,,, ri,,,, mu,,,, ba,,,,,ik,,, ha,,,,i,,, u,,,, ga,,,, u,,,, li,,,,a,,,,,,,,,,,,,,,,,,." ucapan Nenek terhenti, Nenek menyebut dengan terbata-bata laila ha illallah,,, muhammad rasulallah,,,,. kemudian Nenek terdiam.


dr. Jefri kembali memeriksa nadi Nenek, dan mengatakan pada Satria.


"Sat, Nenek sudah tiada. Kamu harus sabar,,, dan doakan dia agar tenang disisinya." ucap dr. Jefri ikut prihatin.

__ADS_1


Satria berteriak histeris,,,,


"Tidaaaakkk,,,,, Nenek,,,,!!! jangan pergi Nek,,,,,.!!!!" teriak Satria, ia menangis, Bi Eroh dan Pak Madipun menangis melepas kepergian Nenek.


Satria segera mengabari semua kerabatnya, Ia juga mengabari Julia, Rico dan Santi, orang terdekatnya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Nenek, Julia terus menangis, sampai sesenggukan, membuat Arga jadi ikut menangis, begitu juga Pak Amad, dan Dicky yang menyetir, ia sesekali menyeka air matanya.


Semua pegawai di rumah Satria, memang sangat mengenal dekat Nenek, Nenek sangat baik dan perhatian pada asisten rumah tangga, supir dan beberapa karyawan Satria di kantor. Semua yang mengenalnya, pasti akan sangat kehilangan.


Sampai di rumah Nenek Fatiah, para pentakziah sudah banyak yang hadir, sampai Julia susah masuk ke dalam rumah. Begitu juga Rico dan Santi yang datang setelah Julia, langsung menerobos masuk ke dalam rumah dengan kesulitan. Maklum banyak sekali yang datang ingin memberi penghormatan terakhir untuk Nenek Fatiah. Orang yang semasa hidupnya dikenal ramah, dermawan, dan baik pada siapapun.


Julia memeluk jazad Nenek dengan erat, ia menangis memilukan, tapi seseorang mengingatkannya agar airmatanya tak menyentuh jazad Nenek. Julia membacakan doa untuk Nenek, tanpa henti menangis. Satria memeluknya erat.


Secara bergiliran jenazah Nenek yang sudah dikafani, disholatkan di ruang tamu.


Hari Kamis, ba'da Azhar, jenazah Nenek dimakamkan di pemakaman keluarga di Bogor. Julia masih menangis di kuburan Nenek, Satria berusaha membawanya pulang, tapi Julia masih ingin disana menemani Nenek. Membuat Satria merasa sangat bersalah. Nenek meninggal karenanya, karena Satria. Sampai akan magrib, Julia baru beranjak pulang, setelah Satria merayunya dengan lembut.


Di rumah duka, Julia masih saja menangisi kepergian Nenek, tak ada lagi tempat untuknya berbagi cerita. Selama ini Neneklah yang sering memberikan nasehat, dan mendengarkan keluh kesah Julia. Nenek yang selalu ceria, yang selalu membelanya saat berselisih paham dengan Satria, cucunya sendiri.


Julia memandangi suaminya yang selalu tertunduk, baik saat mengantar Nenek ke pemakaman, hingga kembali ke rumah Nenek.


"Mas Nenek kenapa sebenarnya? beliau pergi dengan sangat tiba-tiba." tanya Julia.


"Aku,,,, aku tidak tahu yank,,,, Nenek tidak pernah mengeluh sakit, tapi itulah Nenek, ia terkena serangan jantung, kata dr. Jefri." ucap Satria sedih. Ia juga sangat terpukul dengan kepergian Nenek dan juga menyesal.


"Iya tapi kenapa kebetulan sekali saat Mas mengunjungi Nenek!" ucap Julia curiga.


"Maksud kamu apa yank? kamu pikir aku yang menyebabkan semua ini?" tanya Satria lesu, ia tak berani menatap mata Julia. Julia hanya terdiam, disana masih ada Rico dan Santi, juga keluarga besar Satria. Malam ini mereka akan mengadakan tahlilan untuk Nenek.


💦


💦

__ADS_1


💦


( Bersambung,,,, )


__ADS_2