Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
PRASANGKA


__ADS_3

Satria tidak bisa tidur, ia memandangi Julia yang tertidur pulas, Arga yang tadi menyusu pada ibunya, tiba-tiba melepaskan susu ibunya, ia menoleh pada sang Ayah dan tertawa. Akhirnya Satria bermain-main dengan Arga. Sesekali ia memandang ke arah ****** susu Julia yang terbuka dan meneteskan ASI, lehernya menegang, melihat pemandangan di hadapannya. Tapi karena baby Arga terus bergerak-gerak, Satria melanjutkan bermain dengan Arga.


Satria sangat menikmati Arga yang terus menendang, dan menggerakkan tangannya. Ia tersenyum geli sendiri melihat anak laki-lakinya, hingga Arga merasa lelah, dan tertidur sendiri, dengan mengenyut jempolnya.


Melihat anak dan istrinya tertidur, membuat hati Satria merasa tentram. Refleks tanganya membelai pipi Julia dan anaknya bergantian.


***


Daffin mendekati Julia, ia menarik Arga dari gendongan Julia, dan membawa baby Arga pergi. Julia berlari mengejar Daffin sambil terengah-engah, dan terus memanggilnya agar tidak membawa Arga.


"Mas,,,, Mas Daffin,,,, Mas,,,,, Mas Daffin,,,,,!" panggil Julia terengah.


Satria yang mendengar Julia mengigau, mengepalkan tangannya, dan meninju tempat tidur, ia benar-benar terbakar api cemburu. Satria bangkit dari tempat tidur, saat Julia terbangun dengan keringat bercucuran. Satria langsung turun dari ranjang, dan berjalan menuju pintu, dan keluar dengan membanting pintu dengan keras, membuat Julia yang baru saja terbangun dari mimpi, ketakutan.


Julia tak tahu apa kesalahannya, hingga suaminya pergi dengan begitu marah.


***


Pagi ini Julia pamit pada suaminya untuk berkunjung ke tempat Nenek.


"Mas mungkin sebaiknya aku ke tempat Nenek. Aku sudah kangen pada Nenek." ucap Julia setengah membujuk Satria.


Satria diam saja.


"Mas,,,,?!" panggil Julia, karena Satria tak bergeming.


"Untuk apa kamu ke rumah Nenek?" tanya Satria.


"Aku kangen sama Nenek. Biar aku diantar Dicky kalau boleh?" ucap Julia memohon.


"Aku yang akan mengantarmu setelah sarapan. Jangan bicara lagi!" ucap Satria tegas.


Srianti yang baru keluar dari kamar tamu, menimbrung pembicaraan mereka.


"Mas, kalau boleh aku akan membawa Sandrina ke rumahku lagi. Biar Mas bisa antar Julia ke tempat Nenek." ucap Srianti sok baik.


"Tidak usah Sri, biarkan Sandrina ikut aku. Kamu pulang saja." ucap Satria.

__ADS_1


Tapi Srianti berkeras membawa Sandrina, dan Julia tahu itu cuma trik agar Satria membawa serta dirinya.


"Apa kamu mau ikut ke tempat Nenek juga Sri?" ucap Satria menawarkan. Jelas saja Srianti menyambut senang tawaran Satria.


Sementara Julia hanya mendengus pelan. Ia tak menyangka Satria akan memutuskan seperti itu.


Sepanjang perjalanan Julia diam saja, hatinya jengkel karena Satria tidak memperdulikan perasaannya sebagai istri. Tapi masa bodoh, pikirnya, yang penting ia bisa mengunjungi Nenek Fatiah, dan ingin mencurahkan segala beban di hatinya.


Sesampai di rumah Nenek, Julia langsung menghambur masuk ke dalam rumah, ia menyapa semua orang yang ia temui di dalam rumah, sambil mencari keberadaan Nenek.


"Nenek ada di teras belakang Nyonya Julia." jawab Pak Madi ramah, ia senang masih bisa bertemu lagi dengan istri Tuan mudanya dan juga Arga.


"Oke Pak Madi, terima kasih, aku akan ke menyusul Nenek ke belakang." jawab Julia sambil menggendong Arga.


Di teras Nenek sedang memperhatikan tanaman kesayangannya di pot-pot yang berjejer rapi.


"Nek,,,,,!" sapa Julia.


Nenek menoleh ke arah suara. Ia sangat kaget dan wajahnya berubah gembira melihat Julia.


Julia langsung memeluk Nenek Fatiah dengan sayangnya, tak lupa Julia menciumi pipi Nenek yang sudah keriput. ia lalu mengenalkan Arga kepada Nenek.


"Masya Allah,,,, gantengnya cicit Nenek! dia mirip sekali dengan satria waktu kecil!" jerit Nenek riang. Nenek tertawa terkekeh sambil terkenang masa kecil Satria.


Melihat kebahagiaan di wajah Nenek, Satria begitu bahagia dan bangga. Ia mendekati Nenek dan mencium Nenek juga, disusul Sandrina dan,,,,, Srianti!


Tapi pada saat Nenek melihat Srianti, senyumnya memudar. Nenek terlihat sangat tidak suka Satria membawanya ke rumah Nenek.


Tapi Nenek tidak menghiraukan itu, hatinya berbunga karena bisa bertemu lagi dengan Julia, ditambah Arga, yang melengkapi kebahagiaan keluarga Penjawi.


"Siapa namanya Julia?" tanya Nenek.


"Arga Putera Penjawi Nek!" jawab Julia terkekeh.


"Apa? darimana kamu dapat nama itu? apakah Nenek sudah pernah bercerita padamu soal nama itu?" tanya Nenek sambil mengingat.


Julia mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Sepertinya Nenek belum pernah kasih Julia nama calon bayiku Nek?" ucap Julia juga berusaha mengingat.


Nenek lalu tertawa.


"Alhamdulillah,,,, bathin kita memang nyambung Julia sayang,,,,." ucap Nenek sambil tertawa.


Satria dan lainnya hanya terbengong. Tak lama Bi Eroh datang membawa beberapa cangkir teh dan camilan. Bi Eroh mendekati Arga, ingin rasanya ia menggendong bayi tampan itu.


"Non Julia, bibi boleh gendong den Arga? aduuuhhh den Arga teh kasep pisan!" ucap Bi Eroh sangat menyukai Arga.


Julia tertawa mendengar Bi Eroh memuji Arga, ia menggendongkan Arga kepada Bi Eroh, ternyata Arga tidak menangis berada di gendongan Bi Eroh.


"Dia tahu ya Bi, mana yang tulus dan mana yang tidak? tuh sama Bibi, Arga anteng?" ucap Julia tertawa setengah menyindir Srianti.


Srianti yang merasa tersindir cuma diam, bathinnya kesal. Begitu juga Satria, ia merasa istrinya mulai agak comel.


Sandrina pun menempel pada Bi Eroh, karena ia ingin bermain dengan adiknya.


Karena Arga sudah ada yang menjaga, daripada melihat Srianti, kepalanya jadi pening? Julia berjalan ke dapur, sudah lama ia tak pernah memasak. Ia sibuk membuka isi kulkas Nenek, dan melihat apa saja sayur mayur yang ada. Julia mulai meracik sayuran dan bumbu dapur. Sepertinya dengan bahan yang ada, ia bisa membuat sop ayam kampung, dan menggoreng tahu dan mendoan tempe yang enak, tak lupa juga ia menyambal. Ia sangat tekun di dapur.


Makan siang sudah siap, Julia memanggil Nenek dan semuanya untuk ke meja makan, untuk makan bersama. Nenek senang sekali Julia memasak makanan kesukaannya Sop Ayam kampung, yang juga sangat disukai Satria. Mereka makan bersama dengan lahap.


"Mmm enak banget masakan Bunda,,,!" ucap Sandrina memuji masakan Julia.


"Kalau gitu kakak makan yang banyak ya sayang?" sahut Julia tersenyum senang, mendengar Sandrina memuji Ibu tirinya, Srianti semakin merasa iri.


Nenek yang melihat reaksi Srianti cuma tertawa. Ia tahu, mana mungkin Srianti telaten untuk memasak. Itu nilai plus Julia di mata Nenek, juga Satria.


Selesai makan siang, dengan cekatan Julia mengemasi semuanya dan membawanya ke dapur, dibantu Pak Madi. Setelah semuanya selesai, ia mengambil alih Arga dari tangan Bi Eroh, agar Bi Eroh bisa makan siang, dan Julia juga menyusui Arga, sambil tiduran di kamar. Ia tak perduli, apakah Satria akan berduaan dengan Srianti atau tidak. Yang jelas ia masih menyimpan kekesalan pada Satria, dan ia akan membuatnya semakin panas.


♠️


♠️


♠️


( Bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2