Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
KEHANGATAN SATRIA


__ADS_3

☆☆☆


Julia menata makanan yang sudah matang, tinggal mereka berdua sekarang. Julia merasa takut, takut kalau Satria berulah padanya. Walaupun Julia menikmati perlakuan Satria padanya, tapi jengah juga berduaan seperti ini.


Melihat Julia yang sedang asyik, Satria menyeringai,,, saatnya balas dendam, pikirnya.


Satria menarik kursi dan meletakkan kursinya disebelah Julia yang sedang asyik makan.


"Enak ya Julia?! tanya Satria.


Julia mengangguk, ia terus makan tanpa melirik Satria. Satria menarik tangan Julia yang sudah mengambil daging, dan menyuapkannya kemulut Satria.


"Ih apaan sih? bisa ambil sendiri kan?!" tegur Julia.


"Kenapa emangnya? ternyata enak disuapin!" ucap Satria terkekeh.


"Banyak juga kamu makan? aku aja kalah makannya sama kamu!" ejek Satria, tapi ia suka.


Julia diam saja, emang gue pikirin, ejeknya dalam hati.


Satria gemas melihat pipi Julia yang sedikit chubby, ia beranikan diri mulai beraksi, ia cubit pipi Julia keras.


Julia sewot, ia meninju lengan Satria. Satria terkekeh. Ditariknya tangan Julia hingga ia jatuh terduduk di pangkuan Satria. Julia meronta pelan, tapi Satria mendekapnya erat. Wajah Satria begitu dekat dengan dada Julia, hingga ia tak berkedip.


Julia memandang wajah Satria. "Apa yang Mas lihat? jangan berpikir macam-macam!" ancam Julia, ia tak berkutik karena tangan satria memegang erat kedua tangan Julia.


Satria balas memandang Julia,,,,."Aku cinta kamu Julia!" erang Satria dalam hati.


"Mas,,, lepasin dong! malu kalau ada yang liat!" Julia memohon. Tapi Satria tak bergeming. Tak lama kemudian, Satria melepaskan tangan Julia, diraihnya wajah Julia cepat, ia menciumi bibir Julia yang merekah. Julia bingung, ia belum pernah dicium laki-laki lain, kecuali oleh Satria, itupun sekilas. Satria menciuminya dengan penuh gairah, tapi Julia tidak bisa membalasnya. akhirnya Satria menghentikan ciumannya.


"Julia, apakah kamu tidak suka kucium?" tanya Satria vulgar. Julia merasa gugup ditanya seperti itu.


"A-aku,,,, aku belum pernah ciuman." ucap Julia malu. Wajahnya merona.


"Apaaaaaa? mana mungkin Julia,,,, haha yang benar saja, kamu kan janda?!" ejek Satria. Sontak mendengar ucapan Satria, air mata Julia meleleh,,, Ia bangkit dari pangkuan Satria, dan mengusap matanya kasar.


"Ju-Julia,,,? ada apa?! tanya Satria.


Darimana Satria tahu kalau ia janda? apakah ia berpikir kalau aku janda, aku pernah berciuman? pikir Julia polos.


Satria mencoba meraih tangan Julia yang masih berdiri di depannya, tapi Julia menepisnya. Julia menangis. Satria memandangnya iba, ia memeluk Julia, ia biarkan Julia menangis semakin keras di dadanya.

__ADS_1


Tanpa ada satupun yang berbicara, Satria merasakan Julia sedang menumpahkan semua perasaannya, sampai tangisnya mereda. Diciumnya kepala Julia penuh cinta.


Hingga larut malam mereka di taman belakang, dan baru masuk setelah dinginnya angin malam menusuk tulang.


"Met malam Julia, sekarang istirahatlah." ucap Satria di depan pintu kamar Julia.


"Met malam Mas,,,." balas Julia segera masuk kamar.


***


Di kamar, Satria bergulingan di tempat tidur, ia memikirkan Julia yang menangis tadi. Ada apa sebenarnya dengan pernikahan Julia sebelumnya? dia seperti begitu sedih,,,,


***


Minggu pagi yang cerah, Julia masih sibuk di dapur, setelah subuh tadi, ia bersama Bi Eroh ke pasar, Julia ingin memasak sayur asem kesukaannya, banyak yang ia beli, tak lupa tahu, tempe, dan daging.


"Coba Bi cicipin ini." pinta Julia ke Bi eroh.


"Srruupp,,,, hmmm enak Non, beneran,,, segeerrr, Bibi ga pernah bisa bikin sayur asem yang seger begini." ucap Bi Eroh.


"Ah Bibi bisa saja,,,, masakan Bi Eroh pasti lebih enak." ucap Julia.


"Enggak Non,,, bibi mah ga bisa masak. Nenek yang selalu masak, Bibi cuma ngeracik aja." sahut Bi Eroh lagi.


"Wah wah wah,,, enak sekali baunya Bi Eroh? siapa yang masak? hmmm,,,,." Nenek membaui aroma masakan.


"Non Julia Nek,,,, masak sayur asem." jawab Bi Eroh.


Julia tersenyum saja, Nenek mendekati panci, lalu ia mengambil sendok untuk mencicipinya.


"Hmmm segeeerrr,,, enak ini sayur asemnya. Pintar masak kamu Julia!" puji Nenek, bisa gemuk Satria besok kamu masakin!" Nenek tersenyum bangga.


Tak lama kemudian, Sayur asem, sambal terasi, tahu, tempe dan empal goreng tersedia di meja makan. Nenek tak henti-hentinya memuji Julia.


"Nenek jangan terlalu memuji Julia Nek, takut nanti Nenek kecewa!" ucap Satria yang sekonyong-konyong datang dari kamarnya.


"Maksud kamu apa Satria?! coba kamu cicipi sayur buatan Julia." jawab Nenek.


"Masa sih?! ejek Satria tak yakin.


Satria mengambil sendok, ia mengecap-ngecap merasakan kuahnya. ekspresi wajahnya berubah masam, lalu nyengir,,,,

__ADS_1


"Iya Nek enaaaaakkk,,,, segeeerr,,,,!!" ucap Satria.


Julia yang tadinya merengut, akhirnya tersenyum. hampir saja ia marah pada Satria.


"Mau marah tuh Nek, Julia!" Satria terkekeh.


"Kamu juga sih!" sahut Nenek tertawa.


Julia yang diledek seperti itu akhirnya cemberut lagi. Satria mengerling padanya, membuat Julia gugup.


"Oke sekarang kita sarapan Nek, ayo sikat habis masakan Julia!" ajak Satria bersemangat. Julia heran, Satria sekarang lebih hangat sikapnya.


Julia menyerahkan piring pada Satria, dan mengambilkan nasi untuknya. Nenek yang melihat jadi tersenyum senang,,,,


Nenek mau berkomentar, tapi diurungkannya, takut mereka berdua salah tingkah.


"Julia, nanti temani Nenek jalan ke sawah ya,,, pengen liat sawah Nenek yang sebentar lagi panen." ucap Nenek.


"Nenek punya sawah? Ayok Nek kita main-main ke sawah!" sahut Julia bersemangat.


"Ke sawah? apa enaknya?! sahut Satria, sambil mengedikkan bahunya.


Julia memandang Nenek, Nenek yang terbiasa dengan sikap Satria cuma terkekeh.


"Biarkan saja Julia, yang penting kita senang!!!" ucap Nenek bersemangat seperti Julia tadi. Setelah sarapan, Julia menggandeng tangan Nenek, untuk segera jalan ke sawah. Julia berganti pakaian sebentar, ia mengenakan kaos putih dan celana jeans 3/4 dan meminjam sandal jepit kepada Bi Eroh.


Matahari pagi yang masih hangat, terasa nyaman di kulit Julia, karena di kawasan rumah Nenek suhunya lumayan dingin.


Julia berjalan di pematang sawah, ia berjalaln di depan Nenek,,, ia melihat sebuah gubuk di ujung sawah Nenek, ia berlari kesana meninggalkan Nenek yang berjalan pelan. Tapi Nenek tidak marah, Julia meninggalkannya. Nenek justru suka melihat ekspresi Julia berada di persawahan yang luas dan berundak-undak.


Julia menyenderkan punggungnya di gubuk sambil duduk bersila,,, Nenek segera menyusulnya.


"Nenek, kalau tadi kita sarapan sayur asem dan sambal terasi disini,,, wah cucok Nek,,,,!!" ucap Julia teringat sayur asemnya.


"Betul juga ya? Kapan-kapan Nenek bawa makanan kalau ke sawah. Sambil liat buruh tani bekerja." jawab Nenek. Nenek senang ada anak muda yang suka dengan sawah.


Julia turun dari gubuk, ia memunguti rumput teki yang tinggi, lalu ia menyesap rumput itu dengan nikmat. Nenek tertawa melihatnya, Nenek terkenang masa kecilnya juga seperti itu.



__ADS_1



( Bersambung,,,,, )


__ADS_2