Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
GARA-GARA BUKET BUNGA


__ADS_3

🏢🏢🏢


Sementara di sebuah kantor penjara, Arzhad sedang mengobrol dengan Daffin.


"Daffin ini untuk terakhir kalinya aku menjaminkanmu agar bisa bebas. Tapi tolong Daffin, jauhi Julia! ia sudah bersuami, dan suaminya itu adalah rekan bisnisku." ucap Arzhad tegas.


"Untuk apa kamu bebaskan aku? bukankah kamu senang, tidak ada yang akan mengganggu bisnismu?!" sahut Daffin sinis.


"Daffin,,,! bagaimanapun juga kamu adalah sepupuku. Jangan bodoh! kamu masih muda. Perbaiki kelakuanmu, fokus pada bisnismu! cari perempuan lain, bukan istri orang!" bentak Arzhad.


Daffin mendengus, mana mungkin dia bisa mencari perempuan lain? dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Julia. pikirnya.


"Baiklah,,,, baiklah,,,, aku akan fokus pada bisnisku!" ucap Daffin malas. Keduanya keluar dari kantor penjara, setelah semua urusan diselesaikan.


"Selamat menghirup udara bebas Pak, dan tolong, jangan lagi melakukan kasus yang berkaitan dengan hukum." ucap Kepala penjara, sambil menyalami keduanya.


"Terima kasih Pak,,,,." sahut Daffin.


***


Di kediaman Satria, kebetulan Julia sedang hang out bersama Santi, untuk sekedar mengobrol dan berbelanja bersama. Karena sudah ada pengasuh Arga, arga ditinggal di rumah bersama Maryati, dan tentu saja tetap diawasi oleh Pak Amad sebagai Kepala Urusan Rumah Tangga di kediaman Satria.


Arga sudah tertidur, karena sebelum ditinggal, ia menyusu sampai kenyang.


Ponsel Maryati berdering.


"Gimana Mar, kamu betah di rumah Satria?" tanya seorang perempuan di seberang.


"Iya Bu, saya betah disini, dan lagi majikannya ganteng ya Bu?" jawab Maryati terkekeh.


"Jangan macam-macam kamu Mar! Aku cuma pengen kamu melakukan tugasmu sebaik-baiknya! aku ingin Tuan dan Nyonyamu berpisah! itu tugasmu!" sahut sang penelpon.


"Beres Bu,,,, jangan kuatir!" jawab Maryati terkekeh lagi.


"Kamu lagi telpon siapa?" tanya Julia yang sudah berdiri di belakang Maryati.


Maryati terkejut hampir terjungkal.


"Oh Ibu?! endak Bu,,, sa-saya baru telpon emak saya di kampung Bu." jawab Maryati gugup.


"Ohhhh,,,, Arga rewel tidak?" tanya Julia lagi.


"Endak Bu, den Arga anteng kok dari tadi. Ibu jangan kuatir, saya jaga den Arga sebaik-baiknya Bu." ucap Maryati.


"Ya udah aku bawa Arga ke kamarku saja Mba, biar tidur sama aku." ucap Julia sambil menggendong Arga yang masih tertidur.


"Iya Bu,,,,,." jawab Maryanti singkat. "Aduh hampir saja,,,,." bathinnya.


Julia membawa Arga ke kamarnya, dan ikutan tidur disamping Arga.


***

__ADS_1


Satria pulang lebih cepat dari biasanya, karena ia ingin segera bertemu dengan anak dan istrinya.


Ia sempat terheran karena di ruang tamu ada buket bunga yang wangi diletakkan di meja. Ada amplop kecil berwarna pink di dalam buket bunga itu.


"Pak Amad,,,,! Pak,,,,,!" panggil Satria dari ruang tamu.


Dengan tergesa Pak Amad mendatangi Satria.


"Ini siapa yang kirim Pak?" tanya Satria.


"Maaf Tuan, saya tidak tahu, dan tidak tahu juga siapa yang menerima." jawab Pak Amad sambil melihat buket itu.


Tiba-tiba Maryati yang baru saja turun dari kamar atas mendekat dengan tergopoh.


"Oh itu untuk Ibu, Pak,,,, tadi saya yang terima. kurirnya bilang untuk Ibu Julia. Tapi endak menyebutkan nama pengirimnya. Tapi tadi ada amplopnya Pak!" ucap Maryati.


"Sekarang dimana Ibu?" tanya Satria lagi.


"Di kamar Pak, ibu sedang tidur bersama den Arga." jawab Maryanti.


Satria membuka amplop yang ada di tangannya, sambil bergegas naik ke atas.


To. Julia


Maaf aku baru bisa mengabarimu,


Julia sayang, aku terus memikirkanmu. Aku teringat saat kita bersama, saat bercanda berdua, saat kita di Italia. Semua yang terjadi tidak akan pernah aku lupakan.


Dari aku yang selalu mencintaimu.


Daffin


Satria meremas surat kecil itu. Hatinya dipenuhi amarah.


"Juliaaaaa!!!!" teriaknya dari pintu kamar.


Julia yang baru saja akan bangun tidur, terkejut mendengar suaminya berteriak memanggil namanya.


"Iya Mas, ada apa? kenapa pulang kantor teriak? Mas baik-baik saja?" tanya Julia waswas.


Satria menunjukkan surat yang baru saja dibacanya.


"Lihat ini?!" ucap Satria sambil menyodorkan surat kecil itu.


Julia membacanya, wajahnya menjadi pucat, Daffin? apakah ia sudah keluar dari penjara? bathinya.


"Kenapa wajahmu berubah? jadi benar? apa yang kamu lakukan di Italia bersama Daffin! Julia?!" Satria menggeram, tangannya sudah mengepal karena emosi, tatapannya penuh curiga pada Julia.


"Mas, aku tidak melakukan apapun dengannya! apa Mas masih meragukan aku?!" ucap Julia. Tatapannya memohon agar Satria percaya padanya.


Arga terbangun, dia menangis kencang, karena kaget mendengar Ayah dan Bundanya bertengkar. Seketika Satria menggendongnya dan membawanya pergi. Ia meninggalkan Julia begitu saja. Membawa mobil entah kemana.

__ADS_1


***


Satria menyetir mobil sambil membawa Arga. Ia bingung mau kemana, tapi ia ingin meredakan amarahnya dengan keluar rumah.


Satria meraih ponselnya.


"Halo Ric, maaf mengganggumu! ada yang ingin kuketahui." ucap Satria.


"Iya Bos, tidak apa, aku baru saja sampai rumah. Ada apa Bos?" tanya Rico.


"Cari tahu apakah Daffin memang sudah bebas? dan dimana dia sekarang?!" ucap Satria gemas.


"Daffin bebas?! Oke Bos, aku akan cari tahu secepatnya." jawab Rico.


"Jangan sampai ada berita yang terlewat!" ucap Satria lalu mematikan ponselnya.


Satria berputar-putar saja, sampai Arga terdiam. Akhirnya ia memutuskan untuk menginap di tempat Nenek.


Sampai tempat Nenek, Nenek malah memarahi Satria.


"Ini sudah malam Sat, kenapa kamu bawa Arga ke rumah Nenek?! kamu bertengkar lagi dengan Julia?!" tanya Nenek masam.


"Iya Nek, biarkan kami menginap disini semalam! aku malas tidur dengannya!" ucap Satria masih dengan amarah.


Nenek yang mendengar ucapan Satria malah tertawa.


"Dasar anak bodoh! Masa setiap kali kamu marah, kamu mengungsi ke tempat Nenek?! Ada apa lagi sih Sat?!" ucap Nenek.


"Nek cobalah mengerti aku! Julia itu tidak selugu yang Nenek bayangkan! dia sudah selingkuh dengan Daffin Nek, dia,,,? Dia ke Italia bersama Daffin, dan tidak mungkin dia tidak melakukan apa-apa dengan b******n itu!" ucap Satria emosi. Wajahnya menegang.


"Sat, selesaikan dengan baik, jangan dipenuhi emosi!" ucap Nenek arif.


"Bagaimana Satria tidak emosi Nek,,,,? aku,,,, " ucapan Satria terhenti.


"Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya! kamu mirip sekali dengan senior-seniormu Sat. Mudah emosi kalau menyangkut orang yang dicintai!" ucap Nenek sambil tertawa.


Satria memeluk Neneknya, dia menangis tertahan, maklum Satria adalah laki-laki, dia tak akan menangis seperti perempuan.


"Sabar,,,, diamlah saat kamu emosi Sat, karena ucapan yang terlontar saat emosi, ada setan yang mengikuti! itu kata Pak Ustadz." ucap Nenek lagi sambil terkekeh, dan menepuk-nepuk punggung cucunya.


"Hmm Nenek,,,,,,.!" gerutu Satria. Itulah yang bikin Satria makin sayang pada Nenek, Nenek tahu bagaimana cara untuk meredam emosinya, seperti saat ini.


"Besok kamu harus pulang Sat! kasihan istrimu, dia perempuan yang baik, Nenek percaya itu!" tambah Nenek.


♣️


♣️


♣️


( Bersambung,,,,, )

__ADS_1


__ADS_2