Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
SRIANTI BIKIN ULAH


__ADS_3

Malam ini Julia tidur cepat, rasanya lelah sekali, hingga bau bantal sangat ia rindukan. Maklum sesiangan tadi ia sama sekali tidak bisa istirahat. Satria yang belum bisa tidur, bangun dan menuju ruang kerjanya untuk membuat planning untuk besok, yah walaupun di kantor ada Rico asistennya yang selalu siap dengan schedule, atau Santi yang selalu rajin mengingatkan agenda hariannya, Satria tetap rajin mencatat, kapan dan dengan siapa dia akan meeting atau kontrol lapangan.


Kelamaan di depan laptop membuat Satria jadi merasa haus dan sedikit lapar, tapi untuk membangunkan Julia, ia tak tega. Satria turun ke bawah, siapa tahu Pak Amad masih terjaga.


Satria masuk ke dapur, walaupun ini rumahnya, tapi tak pernah sekalipun ia ke dapur. Ia memanggil-manggil Pak Amad.


"Pak Amad,,,,! Pak Amad,,,,! " teriak Satria.


Tapi yang dipanggil tidak menyahut. Tiba-tiba muncul dari ruang tengah Srianti. Satria memalingkan wajahnya ke arah kulkas, ia lalu berjalan ke kulkas dan mencari minuman. Ia pura-pura tak melihat Srianti yang berjalan mendekat.


"Mas,,,? lagi cari apa? tadi aku dengar Mas memanggil Pak Amad?!" tanya Srianti sok lemah lembut.


"Hmm tidak mencari apa-apa!" jawab Satria cuek. Tapi perutnya berbunyi " Kruyuk,,,"


Srianti tersenyum.


"Mas lapar ya? sini aku buatkan nasi goreng kesukaan Mas." Srianti menawarkan diri. Ia langsung berjongkok mengambil bahan untuk memasak nasi goreng dari dalam kulkas. Padahal Satria berdiri di depan kulkas, tentu saja, Srianti yang mengenakan daster berbelahan dada rendah, jadi memancing pandangan. Ia sengaja melakukannya agar Satria melihatnya. Tapi Satria malah memalingkan muka.


"Maaf tidak usah Sri, biar aku bangunkan Julia saja." jawab Satria hendak pergi. Tapi Srianti menghalangi.


"Jangan Mas! kasihan Julia, ia pasti lelah karena acara tadi. Apa kamu tega?!" ucap Srianti sok perhatian.


"Sini biar aku saja! Mas tak perlu membangunkan Julia." ucapnya lagi.


Dengan cepat Srianti meracik bahan, dan mulai memasak. Satria ngeloyor pergi ke ruang tengah, ia menunggu sambil nonton tv, pikirnya betul juga ucapan Srianti, Julia pasti lelah.


Tak lama nasi goreng buatan Srianti terhidang diatas meja makan, Srianti memanggil Satria untuk segera menyantapnya.


"Mas nasi gorengnya sudah jadi, Mas makanlah dulu." ucap Srianti sambil tersenyum.


"Terima kasih Sri." ucap Satria kikuk.


"Ya Mas sama-sama." jawab Srianti, sambil ikutan duduk di samping kursi Satria.


Satria diam saja, sebenarnya ia risih melihat mantan istrinya ini. Ia tak mau ada fitnah.


"Sri lebih baik kamu tidur, temani Sandrina!" perintah Satria.


"Mas aku ingin bicara masalah hak asuh Sandrina." ucap Srianti sok memelas.


"Aku sudah putuskan Sri, bahwa aku akan mengambil hak asuh Sandrina." jawab Satria tegas. Srianti menangis.

__ADS_1


"Tolong Mas, aku ingin selalu dekat dengan Sandrin!" isak Srianti.


"Kamu tetap boleh menemui Sandrin, tapi ia tetap akan tinggal denganku! aku tahu kamu tidak pernah benar-benar mengurusnya. Kamu terlalu sibuk dengan dunia sosialitamu!" ucap Satria mencibir.


"Mas aku mohon,,,,?! aku sudah berubah Mas, aku akan mengurusnya dengan baik. Aku menyesal Mas, dulu kita bercerai, tentu Sandrina yang jadi korban keegoisan kita!" Srianti kembali memohon.


"Oh kamu baru merasakan ya? kalau Sandrin yang jadi korbannya?! kenapa dulu sebelum selingkuh kamu mikir?!" ucap Satria gemas. Satria jadi tak berselera makan, karena percakapan dengan Srianti.


***


Di tengah malam Julia terbangun, ia menyadari suaminya tak ada di sampingnya.


"Kemana Mas Satria?" tanyanya. Ia meregangkan otot-otot lengannya, lalu turun dari tempat tidur.


Julia mencari suaminya di ruang kerjanya, tapi tidak ada suaminya disana. Ia kemudian turun ke bawah, mungkin Mas Satria ada di bawah, pikirnya.


Julia dengan hati-hati menuruni tangga karena lampu dimatikan.


Ia memandang ke arah meja makan, ia mendapati suaminya sedang duduk berdua dengan Srianti.


***


Srianti tak kehilangan akal, ia malah mendekatkan tubuhnya ke Satria.


Saat ia sudah di depan tangga, Satria sangat terkejut, karena Julia ada disana, dan cuma mematung memandangi Satria. Tampak air mata sudah merembes dari kedua mata Julia. Satria gugup harus mengatakan apa. Ia menyentuh pipi Julia, tapi ditepis oleh tangan istrinya. Julia setengah berlari kembali naik ke kamarnya. Satria hanya bisa mendengus kesal. Sementara Srianti yang menyaksikan keduanya, hanya tersenyum puas.


***


Pagi-pagi sekali Julia sudah bangun, ia turun ke bawah dengan wajah sembab, karena semalaman ia menangis. Ia sudah tak perduli lagi dan juga tidak pamit kepada Satria. Ia bergegas mencari Edwin, untuk mengantarnya ke rumah Nenek.


"Win, tolong antar saya ke rumah Nenek." ucapnya pada Edwin.


Edwin yang melihat wajah istri tuannya sembab, langsung menyiapkan mobil. Tak lupa juga Edwin membangunkan Beno, Mereka ke rumah Nenek jam 4.30 pagi, disaat Satria masih tertidur di sofa di dalam kamar.


***


"Assalamu'alaikum,,,,!!" teriak Julia yang sudah tiba di rumah Nenek.


"Nenek,,,,,! Nenek,,,, !" panggil Julia.


Nenek yang mendengar ada yang memanggilnya langsung berjalan ke ruang depan. Nenek baru saja akan menyiapkan sarapan.

__ADS_1


"Julia,,,,?! kenapa sepagi ini sudah disini? wajahmu habis menangis?!" tanya Nenek.


Julia diam saja, ia malah kembali menangis, saat Nenek bertanya.


"Ini pasti karena Satria! katakanlah ada apa sayang?!" tanya Nenek penasaran.


"Srianti,,,." Julia tercekat, ia tidak meneruskan kata-katanya.


Nenek langsung paham. Kehadiran Srianti memang tidak seharusnya di rumah cucunya itu, karena bisa menjadi kerikil dalam rumahtangga cucunya.


"Nanti akan aku katakan pada Satria, dia harus tegas untuk tidak menerima Srianti menginap." ucap Nenek bersungguh-sungguh.


***


Satria kehilangan Julia pagi ini. Setelah semalam ia salah paham, karena melihat Satria dan Srianti berada di meja makan berdua tengah malam.


Mendapati di pagi hari tanpa istrinya, Satria menjadi gusar, hampir semua pelayan di rumahnya kena omel, termasuk Pak Amad.


"Hmmmhhh ini nasi goreng apa Pak Amad? rasanya asin saja, tidak seperti masakan istriku!" omel Satria pada Pak Amad.


Tapi Pak Amad dengan sabar tetap melayani Tuannya, ia sudah hafal dengan tabiat Satria saat marah. Ia juga maklum, karena Tuannya sangat mencintai istrinya.


"Ya sudah aku langsung berangkat saja ke kantor. Ingat Pak, jangan sampai siapapun masuk ke kamarku, termasuk Sandrina. Ia mengatakan itu, karena di rumah ini masih ada Srianti. Ia tak mau kalau tiba-tiba Sandrin masuk ke kamarnya, Srianti juga ada alasan untuk masuk.


"Baik Tuan,,,,." jawab Pak Amad.


Sandrina yang sudah siap berangkat sekolah, menyapanya.


"Ayah,,,, ayah mau berangkat kantor? Sandrina ikut ayah ya?" ucap Sandrin merayu.


Satria berhenti sejenak, ditatapnya Sandrin yang berada di sebelah Srianti.


"Baiklah sayang,,, ayo kita berangkat! dan Sri, tolong pulanglah kamu sekarang juga! aku tidak mau ada kamu saat aku pulang bersama istriku." ucapnya menahan amarah.


Dengan wajah gusar Satria berjalan ke teras, diiringi Sandrin yang tersenyum senang. Dicky yang sedang memanaskan mesin mobil, disuruhnya untuk segera berangkat.


"Ayo ****, cepat kita berangkat!" perintahnya pada Dicky. Dicky mengangguk pelan." Baik Tuan."


🖤


🖤

__ADS_1


🖤


( Bersambung,,,, )


__ADS_2