
Dua bulan kemudian,,,,
"Yank, aku berangkat dulu ya? kamu jaga diri baik-baik di rumah." ucap Satria pada istrinya, ia berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Banyak jadwal pertemuan yang harus ia hadiri hari ini.
"Iya Mas hati-hati di jalan, semoga Allah memberikanmu kesehatan, dan rejeki yang berkah dan melimpah. Aamiin." ucap Julia, lalu mencium tangan suaminya.
Satria menuju ke mobil, Dicky yang daritadi menunggu segera berlari membukakan pintu mobil untuk sang Bos, mobil melaju keluar gerbang.
Sepeninggal Satria, Julia kembali ke kamar, rasanya badannya pegal dan sakit. Mungkin karena hampir tiap malam, suaminya selalu minta dilayani. Julia baru tahu, gairah Satria memang sedang menggebu-gebu.
***
Mobil memasuki halaman rumah, baru jam 10 pagi, Satria sudah pulang. Ia langsung masuk dan setengah berlari naik ke kamar.
"Loh Mas sudah pulang? katanya ada banyak pertemuan dengan client?" tanya Julia, saat suaminya membuka pintu kamar, dan langsung duduk di tempat tidur, Julia yang baru selesai shalat dhuha buru-buru melepas mukenanya, dan mengambil tas kerja suaminya yang diletakkan diatas tempat tidur sembarangan.
Dilihatnya wajah suaminya, tampak pucat.
"Mas sakit?" tanyanya lagi.
"Iya yank,,,, aku mual-mual di kantor tadi, badanku lemas, lidahku rasanya pahit sekali!" jawab Satria.
"Aku ambilkan obat mual dulu ya,,, Mas tadi makan apa di kantor?" tanya Julia.
"Belum makan apa-apa yank, kan tadi mau menjamu tamu di kantor." ucap Satria lemah.
"Mungkin Mas kena maagh,,, karena terlalu sibuk di kantor. Ya udah aku ambilkan obat maaghnya." ucap Julia sambil berjalan ke kotak P3K, lalu ke bawah untuk meminta Pak Amad mengambilkan air hangat.
Tak lama Pak Amad datang membawakan air hangat dan diletakkan di atas nakas.
"Ini Tuan air hangatnya, minumlah obat, agar Tuan segera sembuh." ucap Pak Amad.
"Iya terima kasih Pak,,,,." jawab Satria masih lemas.
Julia langsung membuka kaplet obat dan langsung meminumkannya pada Satria. Baca doa dulu Mas,,, biar cepet sembuh.
"Iya yank, Bismillahirrahmannirrahim,,,."
Setelah meminum obat, Satria langsung istirahat di tempat tidur.
Hingga malam, kondisi Satria belum juga membaik, pusingnya tidak menghilang, lidahnya masih terasa pahit, dan kadang masih terasa mual juga. Padahal Julia sudah meminumkan obat padanya.
"Kalau sampai besok pagi Mas belum baikan, kita ke rumah sakit ya Mas?" ucap Julia merasa kasihan pada kondisi suaminya.
"Tidak usah yank, lebih baik kamu panggilkan dr. Santoso saja, dia dokter keluarga kita. Minta Pak Amad menelponnya.
__ADS_1
"Iya Mas." jawab Julia.
Sementara kondisi badan Julia juga belum hilang pegal-pegal, rasanya seperti mau datang bulan. Tadi sore saja di pakaian dalamnya ada flek, berarti mungkin akan segera menstruasi.
***
Keesokan harinya Satria belum juga baikan. Malah sedari bangun tidur, badannya mulai lemas lagi, jam 9 pagi ia mual-mual, hingga harus keluar masuk kamar mandi. Julia meminta Pak Amad untuk memanggil dr. Santoso sesuai keinginan Satria.
dr. Santoso datang sejam kemudian. dr. Santoso adalah dokter keluarga Penjawi, usianya sekitar 38th an. Ia memeriksa Satria, dan sesekali bertanya, apa yang Satria makan dari kemarin.
"Jadi dari kemarin Mas Satria belum makan apa-apa?" tanya dr. Santoso, tangannya mengetuk-ngetuk perut Satria yang kosong, sementara stetoskop masih ia letakkan di telinganya.
"Belum Dok, suami saya tidak mau makan, Hanya teh hangat, dan sedikit roti, tapi itupun hanya sedikit, lalu mual lagi." jawab Julia.
"Kalau saya lihat, Mas Satria tidak sakit apa-apa, mungkin karena lelah saja. Mba Julia sendiri bagaimana? sehat kan? sudah ada tanda-tanda atau belum?" ucap Dokter Santoso sambil bercanda.
"Alhamdulillah sehat Dok, cuma badan saya rasanya pegel sekali sampai malas melakukan akitifitas apapun Dok." ucap Julia.
"Tapi haidnya teratur kan?" tanya dr. Santoso tiba-tiba.
"Entah nih Dok, harusnya sih udah haid, tapi bulan ini kayanya mundur jauh." ucap Julia.
"Memang terakhir haid kapan?" tanyanya lagi, sambil terus mencatat resep untuk Satria.
"Terakhir bulan kemarin Dok, tanggal 15, sekarang malah udah lewat tanggal 15 belum haid juga, makanya badan rasanya pegel semua Dok. Kemarin sore sempet flek juga, tapi pagi ini tidak ada." jawab Julia detail.
"Ada apa ya Dok?" jawab Julia bingung.
"Ini coba tes pakai ini dulu, tahu cara pakainya kan? kalau belum tahu, di kemasan sudah ada aturan pakainya." ucap dr. Santoso sambil tersenyum, ia meraih test pack dari dalam tas kerjanya, dan memberikannya pada Julia.
Julia menurut, ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan mencoba test pack.
beberapa menit kemudian, diraihnya test packnya, ada dua tanda merah yang terlihat sangat jelas.
"Alhamdulillah Ya Allah, aku hamil?!" pekiknya tak percaya, ia terlihat sangat bahagia.
Julia keluar kamar mandi, dilihatnya dr. Santoso masih sibuk dengan suaminya yang masih saja lemas.
Ia memperlihatkan test pack kepada suaminya, sambil tersenyum bahagia.
"Apa ini yank?" tanya Satria yang masih belum ngeh.
"Mas aku hamil!" jawab Julia.
"Apa??? kamu hamil?!" tanya Satria, seketika itu juga Satria langsung duduk, dan ia memeluk istrinya karena senang. Julia memandang dr. Santoso yang tersenyum melihat polah pasutri itu.
__ADS_1
"Hmm Dok, sebenarnya suami saya sakit apa ya?" tanya Julia.
dr. Santoso terkekeh.
"Nah itulah,,, sebenarnya Mas Satria itu tidak ada masalah apa-apa dengan kesehatannya, ini penyakit, memang ga ada obatnya. penyakit ngidam Mba." ucap dr. Santoso.
"Ngidam?!" tanya Julia tak percaya.
"Iya, kadang terdengar aneh, istri yang hamil, suaminya malah yang ngidam." dr. Satria tertawa.
"Udah tidak apa-apa, nanti ini juga hilang sendiri. Sekarang saya pamit dulu, saya sudah kasih resep untuk saat mual saja." ucap dr. Santoso lagi, sambil berkemas.
"Baik Dok terima kasih." jawab Julia.
"Terima kasih dr. Santoso." ucap Satria.
dr. Santoso turun ditemani Pak Amad.
Setelah dr. Santoso dan Pak Amad pergi, keduanya berpelukan lagi.
Yah begitulah, beberapa hari berikutnya, Satria sudah membaik, tapi tingkahnya jadi aneh, seringkali jam 9 di kantornya, ia meminta Santi untuk membelikan rujak buah yang sangat pedas. Dan itu sampai 2-3 hari berturut-turut, membuat Santi dan Rico terbengong. Mereka belum tahu kalau Julia, istri Bosnya sedang mengandung.
Julia ke kantor suaminya dijemput oleh Dicky, ia membawa rantang makan siang untuk suaminya, ya sejak Julia hamil, Satria selalu minta dimasakin oleh istrinya, ia tidak mau makanan yang dimasak oleh orang lain.
"Assalamu'alaikum Santi, gimana kabarmu?" sapa Julia sambil memeluk dan mencium pipi Santi yang masih duduk di mejanya.
"Haaaaiiii! Waalaikumsalam Bu Bos,,, alhamdulillah baik! tumben kemari?" ucap Santi yang sumringah melihat Julia lagi.
"Julia, Tn. Satria akhir-akhir ini jadi aneh, dia suka sekali minta dibelikan rujak, jam 9 pagi?! terus kalau tidak habis Rico yang disuruh menghabiskannya, mana pedas lagi?!" ucap Santi terkekeh.
Julia tertawa terbahak mendengar cerita sahabatnya ini, ia baru tahu, Satria mengidam rujak juga. Tapi kasihan si Rico, dia disuruh menghabiskan rujak yang pedas itu.
"Kenapa kamu malah tertawa?!" tanya Santi bingung.
"Santi,,, aku akan memberitahumu! aku hamil!" ucap Julia semangat.
"Alhamdulillah,,,, aku ikut senang mendengarnya!" ucap Santi sambil memeluk Julia.
"Itu sebabnya Mas Satria jadi aneh. Dia yang ngidam, Santi?!" ucap Julia terbahak.
🧚♀️
🧚♀️
🧚♀️
__ADS_1
( Bersambung,,,,, )