Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
Mules


__ADS_3

Pagi yang rempong,,,


Julia bangun dari tidurnya di subuh hari, setelah sholat, ia menuju ke dapur untuk memasak sarapan pagi. Menu andalan nasi goreng terlintas di kepalanya.


Dengan cepat ia mencuci semua bahan, lalu mulai meracik bumbu. Lima belas menit kemudian nasi goreng buatannya selesai sudah, tinggal menggoreng telur mata sapi dan mengiris tomat dan timun, sebagai dekorasi nasi gorengnya.


"Yes selesai sudah, sekarang tinggal panggil Santi, dan makan sama-sama." gumam Julia.


"Hmmm harum banget nih, kamu masak apa Jul?" tanya Santi yang tiba-tiba sudah berada di dapur.


"Baru aja aku mau ke kamarmu, yuk sarapan dulu, semua sudah siap, nasi goreng telur mata sapi dan teh hangat,,, " sahut Julia tersenyum bangga, karena semua oke.


"ck ck ck,,,, hebaattttt,,,, sarapan dulu, mandi kemudian?!" Santi terkekeh.


Julia menanggapi pernyataan santi dengan tertawa. Memang sudah jadi kebiasaannya sarapan dulu baru mandi. Mungkin bagi sebagian orang ini menggelikan, tapi tidak buatnya.


"Oke deh yuk sarapan." ucap Santi dengan menaikkan sebelah alisnya.





Keduanya selesai sarapan, setelah itu mereka menuju kamar masing-masing untuk segera mandi.


Julia mandi dengan tergesa, ia tidak ingin terlambat interview di kantor Santi. Sikat gigipun dilakukannya dengan cepat. Selesai mandi ia memakai baju yang sudah dipilihkan oleh Santi, rok! dan kemeja kuning cerah, tapi sayangnya kemejanya terlalu pas di badannya, hingga lekuk p******anya keliatan. Roknya tidak begitu ketat, tapi ukurannya yang sedikit diatas lutut membuatnya agak risi.


"Waduh kenapa aku terlihat sexy gini ya?" gumam Julia.


Julia masih berputar-putar di depan cermin, memastikan bahwa pakaian yang ia kenakan pantas, ketika Santi yang sudah selesai berdandan masuk ke kamarnya, dengan membawa blazer.


"Woowwww perfecto!!! kamu cantik banget Julia! ck ck ck,,,, " Santi ternganga kagum, ia tidak menyangka Julia bisa luwes memakai rok yang dipilih olehnya.

__ADS_1


"Nah sekarang pakai blazer ini! pasti makin keren,,," Santi menyerahkan blazer yang dipegangnya dan menaruhnya di bahu julia.


"Beneran nih aku cantik? cuma risiiii,,,, pakai rok segini!" ucap Julia sambil memegangi pinggiran rok.


"Bagus kok! ga ada yang aneh! entar juga kamu terbiasa, tapi jujur, kamu cantik!" jawab Santi tulus.


Selesai berdandan, Santi dan Julia mengambil tasnya, dan berangkat ke kantor.


Di dalam mobil


"Jul inget ya, rileks, buat Tuan Satria terkesan, jangan gugup, oke?" Santi mengingatkan.


"Okeeee akan kubuat bos naksir dan bertekuk lutut padaku." jawab Julia mesem.


"Buuugghhh!!" tonjok santi.


"Auuuww!!!" santai dong!!! hahaha.


"Huft,,,, selalu begini ya tiap ke kantor San? Macet,,,, "


"Yah gini lah jakarta. macet dimana-mana!"


Buat Julia warga Jakarta itu luar biasa, mereka tetap bisa konsentrasi melakukan aktifitasnya, walaupun belum-belum sudah menghadapi macet, hal yang bikin Julia badmood.


Dulu di kotanya pernah sekali dia ngalami macet, gara-gara kecelakaan beruntun, perutnya langsung terasa mules dan kepalanya pusing saat itu. Dan sudah bisa dipastikan mulutnya tak berhenti mengomel.


Julia melirik Santi yang sedang menyetir dengan sabar. Tak lama kemudian Santi membelokkan mobilnya ke kiri, mereka sudah sampai di sebuah gedung di kawasan kuningan yang sangat megah. Julia takjub dibuatnya.


"Disini kantornya San?" tanya Julia ternganga.


"Yuùuuuppp,,,,"


Keduanya turun dari mobil, melihat gedung yang semegah ini, Julia yang biasanya punya kepercayaan diri 200% kini merosot 50% persennya.

__ADS_1


Begitu mereka memasuki gedung, Julia menghentikan langkahnya.


"San perutku kok mules gini ya?" Julia memegangi perutnya, wajahnya meringis.


"Kamu grogi tuh,,, udah sekarang tarik nafas dalam, semangat!!!! Santi memegangi lengan Julia.


"Udah yuk lanjut!" Santi menarik tangan Julia.


Mereka memasuki lift menuju lantai 17.


Ting!


Pintu lift terbuka, keduanya keluar dari dalam lift, dan terus berjalan melalui ruangan para karyawan, masih belum banyak yang datang di kantor. Mereka menuju ke sebuah ruangan yang sangat besar diujung lantai 17, Santi menunjukan meja kerjanya kepada Julia.


"Ini meja kerjaku, dan ruang yang tertutup itu ruangan Tuan Satria." tunjuk Santi.


"Duduk dulu disitu, sambil menunggu si bos datang. Kamu mau ngeteh? tak buatin ya?" ucap Santi lagi.


Julia berjalan mendekati sofa ruang tunggu yang berada di depan meja kerja Santi.


"Gak usah San, a-aku mau liat-liat keliling ruangan boleh?" tanya Julia gugup.


"hehehe oke ga apa apa, tapi ingat jangan jauh-jauh, ntar kesasar lagi!"


"Jam 9 kamu harus disini lagi." Santi mengingatkan sambil terkekeh.


💦


💦


💦


( Lanjut,,,, )

__ADS_1


__ADS_2