Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
DI ATAS KERETA


__ADS_3

Di Stasiun kota, kedua orangtua Julia mengantarkan anaknya untuk berangkat ke Jakarta. Mereka berpelukan seakan tak mau berpisah. Suasana haru melingkupi, keberangkatan beberapa menit lagi. Julia melepaskan pelukan kedua orangtuanya.


"Doain Julia sukses disana Yah, bu,,, siapa tahu disana juga Julia dapat jodoh." ucap Julia sambil menyeka air mata kedua orangtuanya. Ia lalu bergegaa menuju boarding pass dan melambai kearah mereka.


Julia cepat naik ke atas kereta. "Jakarta,,,, I'm coming,,,, " bathinya bersemangat.


***


Kereta tujuan Jakarta sudah berangkat jam 14.18, dan saat ini kereta masuk ke stasiun besar Purwokerto, seorang nenek masuk sendirian, ia membawa tas koper besar,,,, Ia menengok kanan dan kiri mencari seatnya berada.


"Nenek dapat kursi nomor berapa Nek?" tanya Julia ramah.


"Ini nomor 16D Nak,,,, " jawab Nenek sambil menyodorkan ticketnya.


"Oh disini Nek, di seberang saya, mari saya bantu." ucap Julia sambil berdiri untuk membantu mengangkat koper si nenek.


"Terima kasih Nak,,, kamu baik sekali." jawab Nenek tersenyum.


Setelah Nenek duduk dengan nyaman, Julia bertanya lagi.


"Nenek turun dimana nanti?" tanya Julia.


"Di Gambir Nak." jawab Nenek singkat.


Julia kembali lagi ke tempat duduknya. Sepertinya banyak tempat duduk yang kosong di gerbong K7 ini, di belakang Nenek ada satu orang laki-laki berwajah agak seram, ada luka bekas sayatan di wajahnya, ketika orang itu memandang ke arah Julia, ia langsung berpaling pura-pura melihat ke belakang tempatnya duduk. Dan di belakang Julia ada dua orang, laki-laki dan perempuan. Sementara Julia dan si nenek, tidak ada lagi orang yang duduk di sebelah mereka masing-masing. Hanya beberapa di bagian depan. Mungkin di stasiun Tegal banyak penumpang dari sana yang naik.

__ADS_1


Julia mengambil ponselnya, membuka instagramnya. Julia ingin mengajak nenek mengobrol, tapi diliriknya sang nenek justru asik membaca buku. Jadi Julia diam saja.


dari pengeras suara, diumumkan, bahwa kereta akan mengalami keterlambatan, dikarenakan ada longsoran tanah di daerah bumiayu, kemungkinan keterlambatan 3 jam. Haduh bikin badmood aja, bathin Julia, terdengar juga beberapa penumpang mengeluh.


kereta cukup lama berhenti diarea persawahan cukup lama. seharusnya jam 7 malam kereta sudah sampai di cirebon. Julia mulai resah, dihabiskan waktunya sekedar berjalan-jalan di lorong kereta. Untuk membuang jenuh, dia pergi ke restorasi KA untuk minum kopi dan cemilan, sambil sesekali mengobrol dengan kru KA.


Alhamdulillah kereta bergerak lagi perlahan. Ia kembali ke tempat duduknya. Ia melirik sang Nenek sedang tertidur. Julia gelisah, ia kembali melirik ke arah sang Nenek, wajah Julia menegang seketika, saat ia melihat orang berwajah seram di belakang nenek sedang membongkar isi koper nenek. Dilihatnya ia mengambil amplop coklat besar dari dalam koper, Julia panik, dan pada saat itu, orang yang sedang diperhatikannya, memamdang tajam ke arah Julia. Julia tak tinggal diam, ia memanggil nenek itu untuk segera bangun, entah bagaimana tiba-tiba orang tersebut memperlihatkan senjata tajam ke arah Julia, agar Julia diam. Bukannya diam, Julia malah menghardik orang tersebut.


"Apa yang kamu lakukan?! ucap Julia kasar. Kembalikan itu,,,,!!! Sang Nenek yang mendengar Julia berteriak, bangun terkejut, saat itu, orang berwajah seram itu langsung berlari menjauh ke arah berlawanan dengan laju kereta, dengan segenap keberanian Julia mencoba mengejar, tapi sepertinya orang yang duduk di belakang Julia menjegalnya. Julia terjatuh, tapi dengan sigap ia segera bangkit,, berlari mengejar orang tadi.


Sampai di pintu kereta,,,,


Ya Allah,,,, orang ini nekat sekali, ia membuka pintu kereta, untuk melompat keluar, Julia kini berhadapan dengannya.


"Jangan lompat!! bahaya!!! kembalikan berkas itu!" ucap Julia setengah panik. Dari arah gerbong belakang terlihat seorang polsuska menghampiri ke arah mereka, tapi apa daya pintu yang belum terbuka maksimal menghimpit tubuh orang berwajah seram itu, dengan mudah Julia merampas berkas yang ada di tangannya, seorang polsuska sudah berada di samping Julia, ketika dengan cepat orang itu melompat keluar.


Ia menutupi wajahnya dengan berkas yang ada di tangannya, ia bergidik ngeri, tulang-tulangnya seperti dilolosi dari tubuhnya. Julia merasa lemas,,,,


Julia hampir terjatuh, hingga polsuska tersebut menahan tubuhnya. kemudian berdatangan Nenek, dan kedua orang yang duduk di belakang seatnya, orang yang tadi menjegal kakinya. Julia dibawa ke restorasi oleh polsuska, dan sang Nenek mengikuti di belakangnya.


Sampai di restorasi pelayan KA memberikan air hangat kepada Julia, ia meminumnya, setelah itu ia menceritakan kronologi kejadian kenapa ia mengejar orang berwajah seram tersebut. Sang Nenek mengerutkan keningnya, ia baru sadar Ia diikuti oleh seseorang. Julia menyerahkan kembali berkas yang diambil orang tadi kepada si nenek. Nenek membukanya, ternyata isinya masih aman.


"Terima kasih Nak kamu telah menyelamatkan harta nenek." ucap Nenek tulus. Ia mendekati Julia dan menyentuh punggung Julia. Saat ia menengadah ke arah pintu, dikaca ia melihat kedua orang yang duduk di belakang Julia tadi sedang mengawasi dengan tajam.


"Jangan,,, jangan,,,, mereka bersengkongkol!" bathin Julia, tapi Julia pura-pura tidak tahu. Ia memilih untuk istirahat di dalam kereta, ia berbisik pada Nenek.

__ADS_1


"Nek, sebaiknya kita disini dulu sampai kereta tiba di gambir. Sepertinya orang tadi masih punya komplotan di kereta ini." Julia berbisik pada sang nenek. Polsuska yang mendengar Julia berbisik, angkat bicara.


"Iya betul nek, lebih baik kalian disini dulu. Disini lebih aman, nanti saya suruh kru KA untuk mengambil koper-koper kalian." ucap polsuska.


Julia merasa resah, bagaimana nanti saat mereka turun dari kereta, tampaknya pasangan tadi itu melihatnya penuh dendam. Apa ia telpon saja Tuan Satria? bathin Julia menimbang. Sang Nenek yang melihat kegelisahan Julia, berusaha menenangkan, "Sudah Nak kamu jangan khawatir, nanti ada kerabat nenek yang menjemput, kamu bisa ikut nenek." ucap Nenek sambil tersenyum.


Betul saja, kereta sampai di gambir jam 12 malam, telat 3 jam dari perkiraan tiba. Seperti yang diperintahkan oleh polsuska tadi, Julia dan Nenek turun belakangan, mereka didampingi oleh polsuska yang ada di Stasiun Gambir. Karena kereta masih akan melanjutkan perjalanan ke Stasiun Manggarai. Julia dan Nenek melangkah dengan cepat, menuju ke kantor keamanan stasiun, sampai ada yang menjemput mereka. Julia merasa gemetar, karena ia tahu kedua orang tadi, berjalan beberapa meter di belakang mereka.


Lima belas menit kemudian, dua orang berbadan tinggi besar menjemput sang nenek di ruang keamanan stasiun. Julia takjub, sepertinya nenek ini bukan orang biasa. Nenek mengajak Julia untuk turut serta ikut ke mobil, dengan alasan keamanan, akhirnya Juliapun tak bisa menolak, karena ia juga takut kalau-kalau ada yang membuntutinya.


Di mobil mereka berdiam diri cukup lama, ada rasa sungkan di hati Julia karena ia tak pernah mengenal sang nenek sebelumnya. Di tengah keheningan sang nenek membuka obrolan.


"Oh ya siapa namamu Nak? nenek sampai lupa untuk bertanya dari tadi. Padahal kamu udah jadi pahlawan nenek." ucap nenek terkekeh.


"Julia nek,,, maaf saya juga lupa berkenalan dengan nenek." sahut Julia, mereka tertawa bersama.


"Emm Julia, nenek tidak bisa mengantarmu ke rumah sekarang. Kita ke rumah nenek dulu. karena nenek takut itu jadi masalah buatmu. Kalau bisa, sampai di rumah nenek, kamu telpon kerabatmu untuk menjemputmu di rumah nenek ya?" ucap nenek serius.


"kenapa harus begitu nek? emm maaf bukan apa-apa, tapi Julia takut malah merepotkan nenek." jawab Julia.


"Tidak Nak,,, justru nenek bertanggung jawab atas keselamatanmu." ucap nenek lagi, akhirnya Julia mengangguk mengerti.



__ADS_1



( Alhamdulillah sudah lumayan jauh sampai episode ini, smoga tetap semangat,,, apalagi kalau banyak yang baca, disertai like n commentnya 🤭🤭🤭. Terima kasih para readers )


__ADS_2