
Akhirnya Julia memutuskan untuk menemui Daffin, ia segera mengganti pakaiannya dengan dress berwarna krem selutut. Begitu juga dengan Arga, ia mengganti pakaian Arga, dan menyiapkan pampers dan perlengkapan Arga dalam tas kecil. Tak lupa ia menelpon Dicky.
"Halo Dicky, kamu dimana?" sapa Julia.
"Saya lagi beli rokok Nyonya, Nyonya mau pergi? sebentar lagi saya pulang." ucap Dicky.
Julia menutup telpon. Semenjak Edwin kecelakaan bersamanya, dan sekarang masih amnesia, Dickylah yang selalu menyupiri kemanapun Julia pergi. Sementara Satria selalu disupiri Beno yang merangkap pengawal.
Edwin sesekali masih menyupiri Satria, karena ia tidak ingin memberhentikan satu karyawanpun, karena ia paham betul kebutuhan para anak buahnya.
"Memangnya Nyonya mau kemana Mas Dicky?" tanya Maryati kepo.
"Ya tidak tahu lah,,, aku kan cuma supir Mbak!" jawab Dicky cuek, dia sebal dengan orang yang kepo seperti Maryati ini.
Julia sudah turun dengan menggendong Arga yang masih tertidur. Walaupun menggendong anak, Julia tetap terlihat anggun dan cantik. Ia segera menuju ke mobil, Dicky yang dari tadi menunggu, segera membukakan pintu mobil, setelah Julia masuk, ia langsung ke posisi duduk supir, dan langsung membawa Nyonyanya pergi.
"Kita kemana Nyonya?" tanya Dicky, sambil melirik majikannya dari kaca spion.
"Cafe donetti" jawab Julia.
Mobil meluncur dengan kecepatan sedang, ke alamat yang disebutkan Julia, Karena Dicky tidak ingin terjadi apa-apa dengan Nyonya Julia dan Tuan Muda Arga.
***
"Bu, Bu Julia sekarang sedang keluar, ia janjian bertemu dengan seseorang bernama Daffin Bu!" lapor Maryati pada seseorang melalui ponsel.
"Yuhuuu,,, akhirnya tokoh utamanya sudah keluar, tanpa direncana! perfect!!" ucap seseorang yang ditelpon Maryati.
"Iya Bu." jawab Maryati.
"Kamu dimana sekarang?!" tanya orang itu lagi.
"Saya sedang mengikuti mereka bu!" ucap Maryati semangat, ia membayangkan kalau planning ini lancar, ia pasti dapat uang besar, sesuai janji.
"Bagus!! kamu tahu kan apa yang mesti kamu kerjakan?!" tanya perempuan itu lagi.
"Siap bu,,,,!!!" jawab Maryati.
***
Rico masuk ruangan CEO dengan tergesa, ia membawa informasi yang diinginkan oleh Satria.
"Met pagi menjelang siang Bos,,,,." sapa Rico.
__ADS_1
"Darimana saja kamu Rico? aku ke ruanganmu tapi kamu tidak ada! bagaimana informasi yang aku butuhkan? kamu sudah mendapatkannya?!" tanya Satria tak sabar.
"Itulah Bos,,,, karena informasi ini, aku jadi telat sampai kantor!" ucap Rico.
Rico duduk sambil menunggu Fenti yang mengambil berkas-berkas di ruangan Satria pergi. Saat Fenti lewat di dekatnya, ia mengerling ke arah Fenti, mencandai sekretaris Satria yang usianya baru 23 tahun.
Satria geleng-geleng kepala saja melihat asistennya yang suka iseng.
"Terus? gimana?" ucap Satria makin tak sabar.
"Ehm,,, Yak benar Bos, ternyata Daffin memang sudah bebas! lebih tepatnya ada orang yang membebaskan! tapi entah siapa!" jelas Rico.
Satria mengepalkan tangannya, saat mendengar keterangan dari Rico. Dia sangat muak dengan Daffin. Disisi hatinya yang paling dalam, ia ciut juga, karena Julia pernah mengungkapkan bahwa ia pernah jatuh cinta pada Daffin, saat istrinya amnesia.
Satria meraih ponselnya, ia ingin menelpon Julia, tapi beberapa kali Satria menelpon, Julia tak mengangkatnya.
"Huft kemana saja dia?! telponku tak diangkat." gerutunya.
"Kenapa Bos? ada yang tidak beres?" tanya Rico melihat dahi Bosnya berkerut.
"Hmmmhhh tidak apa Rico! aku menelpon Julia, dia tak mengangkatnya!" ucap Satria mendengus.
Satriapun menelpon Pak Amad, dan Pak Amad memberitahu kalau istrinya pergi bersama Arga. Tapi tidak bilang kemana.
Demi melihat wajah Bosnya yang sedang tak enak dilihat, Rico pamit meneruskan pekerjaanya.
***
Cafe Donetti
Julia memasuki cafe yang berinterior sangat kental nuansa Itali, di dindingnya penuh lukisan berpigura aneka menu makanan khas Itali, seperti Pizza, dan aneka jenis pasta. Di pojok ruangan terdapat meja bar yang desainnya juga sangat Itali dengan cangkir-cangkir kopi yang bergelantungan diatas.
Ketika Julia masuk, situasi dalam ruangan cafe masih sepi, hanya ada beberapa meja yang terisi, Julia celingukan mencari keberadaan Daffin.
"Met siang bu, Maaf ibu mencari siapa? atau ibu mau duduk di meja mana?" sapa seorang pelayan laki-laki dengan setelan jeans dan kaos merah.
"Oh iya Dek, saya menunggu seseorang, kami janjian disini." ucap Julia masih sambil tengak tengok.
"Maaf dengan siapa janjinya bu? mungkin dia sudah booking tempat disini?" tanya pelayan itu dengan ramah.
"Iya, saya janjian dengan Pak Daffin, benar siapa tahu dia sudah booking tempat?" ucap Julia sambil senyum.
"Oh Pak Daffin? iya betul bu,,, Mari ikut saya." ucap pelayan itu mengajak Julia mengikutinya.
__ADS_1
Pelayan itu menuju pintu besar yang berada di belakang cafe, disana ada teras dan banyak bangku set dan sofa berjajar, dan di pinggirannya terdapat kolam ikan koi memanjang, betul-betul seperti cafe di Italia. Pelayan menunjukkan keberadaan Daffin, yang sedang duduk membelakangi pintu di sofa yang berada di tengah.
Julia menghampiri Daffin, dan menyapanya.
"Julia?" sapa Daffin tersenyum lebar.
"Akhirnya kamu datang juga." ucapnya lagi, sambil memandang Julia yang sangat cantik, siang itu.
"Iya Mas,,,, kamu janji kan? pertemuan ini untuk yang terakhir kali?" tanya Julia lugas, sambil membenarkan letak tubuh Arga yang berada di gendongannya. Ia tak ingin semuanya salah paham.
"Arga, mari sini ikut Ayah Daffin." ucap Daffin sambil merentangkan tangannya di depan Arga, ia tak menanggapi ucapan Julia yang sepertinya galak.
Arga yang menyembunyikan wajahnya di bahu Julia, akhirnya menegakkan kepalanya dan menyambut tangan Daffin, membuat Daffin tertawa senang, dan langsung memangku Arga dan bercengkerama dengannya. Julia merasa jengah.
Daffin yang melihat Julia yang terlihat sangat canggung, akhirnya memintanya untuk memesan makanan, Julia merasa enggan, tapi untuk kesopanan, ia menurut juga.
Julia memesan secangkir kopi espresso, sepotong tiramishu dan spagetti saus bolognese.
Mereka mengobrol sambil menikmati hidangan yang mereka pesan, walaupun awalnya canggung.
Maryati mengenakan kacamata hitam dan topi lebar, berjaket jeans agar ia tak dikenali. Bahkan saat ia melewati Dicky, dickypun tak mengenali. Ia duduk minum kopi di ruangan depan sendirian.
Maryati duduk di meja yang berada di pinggir, dan kebetulan terhalang oleh pot bunga besar. Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya.
"Cetret,,, cetret,,,." suara kamera ponsel berbunyi. Ia mengambil beberapa gambar. Lalu mengirimkannya pada seseorang. Setelah selesai melaksanakan tugasnya, ia langsung keluar cafe dan segera naik grab yang telah ia pesan, untuk pulang ke rumah majikannya.
Dalam kesempatan bertemu kali ini, Daffin akhirnya berpamitan pada Julia, ia akan pindah ke Amerika, mungkin selama tiga tahun ia berada disana.
Daffin kembali mengungkapkan perasaannya pada Julia, walaupun ia tahu, itu salah, tapi paling tidak ia lega bisa mengungkapkan semua itu dalam keadaan ingatan Julia telah pulih. Daffin juga berjanji, tak akan mengganggu rumah tangga Julia dan Satria.
Selesai pertemuan mereka, Julia segera pulang, ia mendoakan kesuksesan Daffin dan berharap Daffin segera menemukan perempuan baik, yang bisa mendampingi Daffin. Karena tidak ingin terjadi salah paham, Daffin tak mengantar Julia keluar cafe.
***
Ponsel Satria bergetar, notifikasi pesan masuk dari Srianti? Satria membuka isi pesan whatsapp, dan betapa terkejut dan marahnya ia, melihat foto-foto yang dikirimkan Srianti padanya. Hatinya langsung terbakar, emosinya sudah tak tertahankan lagi. Satria mengamuk di ruangannya, hingga beberapa pot tanaman mahal, ia tendang, hingga hancur berkeping-keping.
Saat itu ia tidak merasakan tulang keringnya mungkin sudah lebam.
🖤
🖤
🖤
__ADS_1