
Bulan ini keluarga kecil Satria benar-benar diliputi kebahagiaan, alhamdulillah akhirnya hak asuh atas Sandrina jatuh ke tangan Satria, dengan banyak pertimbangan dari pengadilan. Ditambah usia kehamilan Julia yang menginjak usia 6 bulan.
Julia memandang keluar jendela kamar dengan tersenyum, suaminya dan anak tirinya Sandrina sedang berenang di kolam belakang. Ia selalu mengucap syukur akan apa yang terjadi dalam kehidupannya, suami yang sangat mencintainya, kehamilannya, dan juga kehadiran Sandrina, membuat lengkap kebahagiannya.
Ponsel Julia berdering.
"Halo Santi apa kabar?" sapanya pada Santi yang menelpon.
"Alhamdulillah baik Julia, lama banget kita ga ketemu, aku kangen,,, gimana kehamilanmu Julia?" tanya Santi.
"Alhamdulillah baik San,,,, iya aku juga kangen padamu. Tapi Mas Satria tidak mengijinkan aku sering-sering keluar, apalagi kalau tanpa pengawalan. Ohya gimana kabar hubunganmu dengan Rico?" tanya Julia.
"Baik-baik saja Jul, doain ya, kita segera menyusul. Kapan-kapan aku akan mengunjungi dirumah sama Rico." ucap Santi.
"Oke aku tunggu,,,,." jawab Julia senang.
"Oke,,,, ohya udah dulu ya,,, ni lagi jalan sama Rico." ucap Santi, kemudian menutup telpon.
"Hmmm ga berubah, langsung aja main matiin telpon. Dasar Santi." bathin Julia terkekeh.
Selesai menelpon, Julia turun ke bawah, menyusul Satria dan Sandrina.
"Udah berenangnya Mas, kak,,,, udah jam 5 sore ini, naik terus mandi, bentar lagi magrib!" ucap Julia, menyuruh keduanya lekas naik.
"Okeeee,,,,,!" jawab ayah dan anak itu berbarengan. Julia geleng-geleng kepala melihat kekompakan mereka. Julia langsung memberikan handuk kepada mereka berdua, saat keduanya naik dari kolam renang.
***
"Bun, nanti Bunda tungguin lagi ya, kalau kakak bobo." ucap Sandrina setelah makan malam bertiga.
"Iya deh,,, emang kalau bobo sendiri, kakak belum berani?" tanya Julia tersenyum.
"Belum,,,,." jawab Sandrina malu-malu.
Sandrina lalu belajar ditemani ayahnya, sementara Julia membereskan bekas malam mereka.
"Nyonya Julia, biar pelayan saja yang membereskan ini." ucap Pak Amad, yang melihat majikannya beberes.
"Udah gak apa-apa Pak,,,, biar saya banyak gerak, kalau banyak gerak, insyaa Allah proses kehamilan besok lebih mudah dan lancar Pak." jawab Julia sambil tersenyum.
Setelah semuanya beres, Julia naik keatas menyusul Satria ke kamar Sandrina, menunggu Sandrina yang sedang belajar.
"Yah! udah belajarnya ya,,, kakak ngantuk nih!" ucap Sandrina beralasan.
"Hmmm baiklah sayang,,, besok kita belajar lagi ya?" jawab Satria mengalah.
"Oke ayah,,,." ucap Sandrina yang langsung mengajak Julia untuk ditemani bobo. Tak lupa Sandrina mencium pipi ayahnya.
Sebelum keduanya kelon, Satria memberi kode pada Julia.
"Yank,,, kamu jangan ikutan tidur ya,,, Mas kangen!" bisik Satria pada Julia.
__ADS_1
Setelah Sandrina tertidur pulas, pelan-pelan Julia bangkit dari tempat tidur, hmmm akhirnya anak ini tidur juga, setelah bercerita macam-macam, cerita soal temen sekolahnya, soal K-Pop kesukaanya. Saat Julia kembali ke kamarnya sendiri, Satria sedang sibuk dengan ponselnya.
"Sandrina udah tidur yank?" tanya Satria.
"Hmm ya Mas, sudah, sekarang aku juga mau tidur." ucap Julia, ia mengganti pakaian dengan baju tidur, lalu masuk ke kamar mandi.
Sekeluarnya Julia dari kamar mandi, Satria langsung mendekati istrinya. Ia ingin bermesraan dengan Julia. Satria naik ke tempat tidur, sambil merangkul istrinya dari belakang.
"Yank,,,,?" Satria memanggil istrinya.
"Hmmm,,,,," Julia cuma berdehem.
"Jangan tidur dong,,,,." ucap Satria manja.
"enggak,,,,,." jawab Julia.
"Kalau enggak, lihat sini dong yank?" ucap Satria lagi.
Julia bergeser lalu berhadapan dengan Satria.
"Kenapa Mas?" ucap Julia, kali ini ia memencet hidung suaminya yang sangat mancung.
Satria memandang Julia, dengan tatapan mesra.
"Yank, kamu itu cinta ga sih sama Mas?! kok seringnya menghindar gitu?" tanya Satria lagi.
"Mas,,, masa sih nanyanya gitu? harusnya aku yang tanya sama Mas! Mas cinta ga sih sama aku?! Mas suka bikin aku cemburu!" ucap Julia merajuk.
"Masa sih Mas suka bikin kamu cemburu?" ucap Satria bingung.
Satria tersenyum mendengar Julia justru cemburu padanya, ditariknya Julia mendekat, lalu ia mengecup bibir istrinya dengan penuh kasih sayang.
Satria memang tak pernah puas, selalu saja ingin bermesraan dengan istrinya. Sejak ia menikahi Julia, semangatnya dalam menjalankan perusahaan benar-benar luar biasa. Hingga perusahaannya bertambah maju. Mungkin ini yang dinamakan orang bahwa seorang istri memang membawa rejeki bagi suaminya.
***
"Ayah, nanti kakak ikut ayah ya? Bunda belum siap yah." ucap Sandrina.
Keduanya sedang sarapan berdua, sementara Julia yang tiba-tiba merasa tidak enak badan, tiduran di kamarnya.
"Loh emang Bunda kemana? kan tadi yang nyiapin sarapan Bunda?" ucap Satria heran.
"Bunda naik ke kamar yah,,,, katanya ga enak badan." ucap Sandrina.
Selesai sarapan pagi, Satria yang hendak ke kantor, langsung naik ke atas, ia ingin melihat kondisi istrinya.
"Yank, kenapa? kamu sakit?!" tanya Satria cemas.
"Iya Mas, badanku menggigil. Mungkin masuk angin." ucap Julia pelan.
"Kuantar kamu ke rumah sakit ya yank?" ucap Satria.
__ADS_1
"Ga usah Mas, istirahat sebentar, paling nanti sembuh sendiri." ucap Julia menolak saran suaminya.
"Ya udah, sekarang kamu minum obat dulu. tapi kalau ada apa-apa kamu kabari Mas ya?" ucap Satria lagi.
"Ya Mas." jawab Julia.
Satria mengecup kening istrinya, lalu pergi meninggalkan Julia, ia mengantarkan Sandrina dulu ke sekolah lalu berangkat ke kantor.
***
Julia tak bisa istirahat, badannya tambah lemas saja, mungkin ini bukan masuk angin biasa, pikirnya. Julia bangkit dari tempat tidur, tapi ia malah hampir terjatuh karena lemas.
Julia memanggil Pak Amad dari atas tangga.
"Pak Amad,,,!" teriak Julia agak kencang.
Pak Amad yang biasanya jam segini masih di dapur, menghambur keluar, karena dipanggil oleh Nyonyanya
"Iya Nyonya ada apa?" tanya Pak Amad.
"Pak, tolong panggilkan Edwin, katakan padanya antarkan saya ke rumah sakit." ucap Julia dengan suara yang sangat lemah.
Dari ruang tamu tiba-tiba muncul Srianti, ia baru saja datang.
"Julia kamu kenapa? mukamu pucat sekali?" tanya Srianti yang sudah berdiri di depan Julia.
"Eh Mba,,,, iya aku agak ga enak badan. Mba baru datang?" tanya Julia.
"Iya aku baru datang, mau antar Sandrina ke sekolah." ucap Srianti.
Pandangan Julia berkunang-kunang, lalu tiba-tiba Julia pingsan.
"Pak Amad tolong angkat Julia ke mobil,,, biar aku bawa dia ke rumah sakit!" perintah Srianti.
Edwin yang segera datang karena ada keributan di dalam, langsung menghambur kedalam, dan menggendong Nyonya Julia.
"Biar saya yang bawa ke rumah sakit. Pak Amad tolong telpon Tuan segera!" ucap Edwin cepat.
Edwin segera melarikan Julia ke rumah sakit, dengan kecepatan tinggi. Saat mereka dalam perjalanan, sebuah truk kontainer berada di belakang mereka dan menyalakan klakson dengan suara yang memekakkan telinga, membuat konsentrasi edwin jadi buyar.
"Aduh maunya apa sih nih truk? udah aku kasih jalan, masih saja nglakson!" edwin mendengus kesal.
Bukannya truk mengurangi kecepatan saat akan menyalip dia malah berada di belakanh mobil edwin, dan tiba-tiba.
"Braaaaaaakkķkkk!!!"
kecelakaan tak terhindarkan. Edwin yang menyetir dengan kecepatan agak lambat, pingsan, kepalanya membentur setir yang dikemudikannya, kakinya terjepit badan mobil yang ringsek di bagian belakang, karena posisi tempat duduk bergeser maju. Dia sempat tersadar posisi Nyonyanya yang sedang pingsan sudah terjatuh ke bagian bawah mobil. Ia masih mendengar suara ambulan datang memberikan pertolongan.
♠️
♠️
__ADS_1
♠️
( Bersambung,,,,, )