Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
NGANTOR BERSAMA BAYI


__ADS_3

🧚‍♀️🧚‍♀️🧚‍♀️


Julia telah pergi meninggalkan rumah Nenek, menggunakan grab, hatinya gelisah, kenapa Satria tak mencegahnya? Julia menelpon ponsel Nenek, tapi Nenek tak mengangkatnya. Akankah rencana mereka berhasil?


Julia menelpon Santi, sahabatnya, yang sudah lama tak bertemu. Mereka berencana akan pergi ke acara reunia satu angkatan di SMA mereka dulu, yang memang sudah berbulan-bulan dischedulkan, sebelum Julia diculik Daffin.


Julia sebenarnya sudah akan meminta ijin Satria untuk datang ke acara ini. Tapi karena Suaminya sedang menjauh, Julia justru menjadikan moment ini untuk pergi sementara dari Satria.


Tentu saja kepergiannya kali ini dirahasiakan, hanya Nenek, yang tahu.


"San aku sudah di depan rumah, kamu keluar ya?" ucap Julia.


"Oke,,,,, aku keluar sekarang Jul!" ucap santi tergesa. Ia berlari ke arah pintu.


Tak lama kemudian, Santi sudah berdiri di depannya, mereka berangkulan sangat lama. Perlahan Julia kembali menitikkan air mata, ia ingin sekali menumpahkan semua unek-uneknya pada Santi.


Santi mengajaknya masuk ke rumah, dan duduk di ruang tengah rumah Santi, ia membuatkan es sirup untuk Julia dan kembali mengobrol.


"hmmmmhhh aku ga menyangka, Tuan Satria bisa setega itu sama kamu Jul? kupikir ia sangat mencintaimu." ucap Santi.


"Yah orang bisa saja berubah kan San? nyatanya dia malah sekarang membiarkan mantan istrinya tinggal di rumah kami." ucap Julia merasa terdzolimi.


"Ok sekarang apa rencanamu?" ucap Santi berempati.


"Ya aku akan datang ke acara reuni, aku benar-benar ingin meninggalkan suamiku sementara. Aku,,,,,? aku kecewa dan sakit hati padanya San." ucap Julia, air matanya kembali menetes.


"Tolong, jangan sampai Rico tahu,,,." ucap Julia.


"Mana mungkin Rico tidak tahu? aku kan memang sudah ijin padanya untuk ke Jogja reunian minggu depan." ucap Santi.


"Maksudku, apa dia tahu kalau aku juga akan hadir ke acara itu?" tanya Julia lagi.


"Belum sih, tapi seandainya tahu, aku akan minta untuk tidak memberitahu Tuan Satria." ucap Santi meyakinkan Julia.


***


Satria termenung di kamarnya, di rumah Nenek, sudah jam 12 siang, bentar lagi ia berangkat ke kantor. Tapi gairahnya hilang, dengan kepergian Julia.


Dia tak menyangka, Julia akan senekat itu pergi. Satria menghampiri Arga yang sedang bermain sendiri di tempat tidur. Arga memang anteng, tapi bagaimana ia akan ke kantor? kalau Arga bersamanya. Tidak mungkin juga ia menitip pada Srianti. Dia sengaja mengijinkan Srianti hadir di rumahnya memang untuk memanasi Julia, dan Ia tidak ada hubungan apapun dengan mantan istrinya itu.

__ADS_1


Satria berjalan ke kamar Nenek.


Tok! Tok! Tok!


"Nek,,,,,." panggil Satria di depan pintu kamar Nenek.


"Masuk,,,,!" ucap Nenek dari dalam.


Satria masuk menggendong Arga.


"Nek, Sat mau berangkat kantor. Apa Sat bisa nitip Arga?" ucap Satria memohon.


Dahi Nenek mengernyit.


"Maksud kamu apa Sat? Nenek ini udah tua, tak mungkin bisa menjaga bayi seusia Arga. Kamu sih,,, tidak bisa menjaga perasaan istrimu. Sat apakah kamu serius akan berpisah dengannya?!" tanya Nenek.


"Nenek ini ngomong apa sih?! Satria tidak ingin benar-benar berpisah dengan Julia Nek! siapa nanti yang akan menjaga Arga?!" ucap Satria cemas.


"Oh jadi kamu cuma mengkhawatirkan tidak ada yang menjaga Arga? kalau begitu kamu butuh babysitter Sat,,,, bukan istri!" ucap Nenek tandas.


Satria tertegun mendengar ucapan Nenek. Dia mati kutu.


"Terus sekarang Arga gimana Nek?" tanya Satria bingung.


Akhirnya Satria membawa Arga ke kantor. Ia tidak akan memperdulikan anak buahnya yang akan mentertawakannya. Satria juga menolak tawaran Srianti untuk menjaga Arga.


Satria benar repot dibuatnya, dia membawa tas bayi berisi pampers, bedak, minyak telon, botol susu, dan juga ASI dan lain-lain.


Setiba di kantor, seperti yang sudah ia duga sebelumnya, semua orang memandangnya geli. Kadang Satria memelototi anak buahnya yang memandang dengan pandangan lucu. Tapi kadang ia cuek.


Sampai di depan ruangannya, ia disambut tatapan bertanya Fenti, sekretarisnya.


"Pak Satria anak siapa yang anda bawa?" tanya Fenti.


"Kamu pikir anak siapa Fen? daripada kamu cuma bertanya, lebih baik bantu aku menyiapkan susu untuk anakku!" ucap Satria, sambil memberikan tas bayi kepada Fenti.


Fenti dengan sigap mengambil tas bayi yang disodorkan padanya, dan mulai menyiapkan susu.


"Pak, susunya yang ini? apa harus dihangatkan dulu? Maaf, tapi saya belum pernah punya anak Pak?" ucap Fenti malu-malu.

__ADS_1


"Oh ya hangatkan dulu susunya, lalu masukkan ke botol susu yang satunya. Maaf tugasmu jadi bertambah." ucap Satria kikuk.


"Baik Pak, tidak masalah." ucap Fenti, dan segera berjalan ke pantry kantor.


***


Rico yang baru saja datang dari pertemuan dengan relasi bisnis, mewakili Satria, terbengong-bengong melihat baby Arga di ruangan CEO. Lalu seketika itu juga dia tertawa terbahak.


"Memang kemana Bundanya Arga? sampai-sampai seorang CEO perusahaan ngantor ditemani bayi?!" ucap Rico terbahak.


Satria yang mendengar ocehan Rico, melemparkan dot bayi ke arah Rico, yang langsung ditangkap oleh Rico dengan sigap.


"Bisa diam tidak?! Oh,,,, tolong aku Rico! Julia pergi dari rumah!" ucap Satria keceplosan.


"Apaaaa?! memangnya ada apa? ini pasti karena kamu masih meragukannya?!" tanya Rico penasaran.


Satria diam saja, dan melanjutkan bermain dengan Arga. Ruangan yang biasanya berbau harum bunga, kini berubah jadi beraroma minyak telon dan bedak bayi.


Alhasil setengah hari mereka, hanya diisi dengan bercanda dan bermain dengan Arga. Rico sangat menyukai baby Arga yang lucu, maklum ia sedang sangat menginginkan kehadiran bayi.


"Kenapa kamu tidak mencari babysitter untuk Arga Bos? kan tidak mungkin setiap hari dia ikut ke kantor?" tanya Rico kemudian.


"Babysitter? Oh tidak,,,, aku tidak percaya pada siapapun untuk menjaga Arga selain Bundanya!" jawab Satria tegas.


"Berarti kamu harus meminta Julia kembali pulang ke rumah Bos!" ucap Rico merasa lucu.


"Hemm,,,,,." Satria cuma berdehem, karena ia sendiri bingung, untuk menghubungi ponsel Julia, ia merasa malu.


"Sepertinya demi Arga, kamu tidak perlu gengsi Bos! kasihan baby Arga, cuma gara-gara Ayahya yang keras kepala, ia jauh dari Bundanya!" ucap Rico terkekeh.


Sial ucapan Rico ada benarnya juga, pikir Satria.


"Lagipula, tidak takut memang? kalau Julia diambil orang?!" ucap Rico lagi menakuti Bosnya.


Satria cuma garuk-garuk kepala. Ingin sekali ia menendang asistennya ini keluar dari ruangannya. Semua ucapan Rico membuat Satria jadi khawatir. Ia sangat mencintai Julia, dan takut kehilangannya. Tapi benarkah seperti kata Nenek? Julia perempuan yang bisa menjaga kesucian pernikahannya? benarkah Julia tak pernah tersentuh oleh Daffin? yang ia tahu, Daffin seringkali memanfaatkan seorang perempuan demi memuaskan nafsunya.


♠️


♠️

__ADS_1


♠️


( Bersambung,,,,, )


__ADS_2