
🧚♀️🧚♀️🧚♀️
Sore hari disaat semua masih tertidur dari siang, Julia dipanggil ke kamar Nenek, ia menceritakan semua kejadian yang ia alami, sebelum kecelakaan terjadi, saat Julia amnesia dan ditawan oleh Daffin, begitu juga soal perjalanannya ke Itali, tanpa satu kisahpun yang tidak ia ceritakan.
Di akhir ceritanya, Julia curhat pada Nenek mengenai sikap Satria terhadapnya, hingga Nenek marah pada Satria. Nenekpun menyusun rencana dan Nenek berjanji akan mengatakan pelan-pelan pada cucunya itu.
"Julia sayang,,, Nenek mempercayaimu, kamu akan menjaga kesucian pernikahanmu dalam keadaan apapun. Nenek akan bicara pada Satria." ucap Nenek. Ia mengharapkan Julia akan selalu sabar menghadapi kedinginan Satria.
Malamnya Julia tidur lebih awal, karena ia harus menyiapkan sarapan untuk Satria suaminya, sebelum berangkat ke kantor.
Entah apa yang Nenek bicarakan dengan Satria malam itu, kemudian setelahnya Nenek juga memanggil Srianti.
***
Pagi sekali Julia terbangun, sementara Arga belum bangun, ia menyiapkan sarapan untuk Satria, yang masih tidur di kamar bersama Arga.
selesai menyiapkan sarapan Nasi uduk, dan lauk pauknya, Julia segera mandi, dan berpakaian yang tidak seperti biasanya. Julia mengenakan dress bunga-bunga pink selutut, dipadukan dengan cardigan pendek warna broken white. Julia terlihat sangat muda dan energik.
Menunggu suaminya bangun, Julia membuat kopi hitam untuk suaminya. Bi Eroh menawarkan diri untuk memandikan Arga, karena melihat Julia sudah berdandan rapi.
"Mas bangun,,, aku sudah buatkan kopi. Bukannya Mas ngantor hari ini?" ucap Julia membangunkan Satria.
Satria terbangun, ia meregangkan seluruh otot lengannya.
"Emmmhhh,,, masih terlalu pagi, aku berangkat setelah makan siang saja." jawab Satria cuek. Tapi ia tetap bangun, dan menyambut kopi yang disiapkan Julia, dan menyeruputnya perlahan.
"Ya sudah,, yang penting aku sudah siapkan sarapan buat Mas." jawab Julia lagi. Lalu bangkit dari duduknya. Seketika Satria menarik tangan Julia.
"Julia, aku ingatkan kamu! jangan pernah lagi kamu mengadu apapun pada Nenek! dan soal Srianti, sekarang aku tidak akan menghalangi ia menginap di rumah, karena ia berhak menjenguk Sandrina anaknya. Itu keputusanku!" ucap Satria tegas.
Julia terbelalak mendengar ucapan Satria yang begitu terasa pedas di telinganya. Ia merasa sangat ingin menangis, tapi mencoba menahanya. Ia cuma berlalu pergi tanpa mengatakan apapun pada suaminya.
***
Satria memandang kepergian Julia dengan hati puas. Ia ingin sekali menyakiti perasaan istrinya, sebagai pembalasan dendam yang ia sendiri tak tahu untuk alasan apa.
Julia berjalan dengan penuh amarah, ia cuma pamit pada Nenek untuk ke pasar diantar Pak Madi, karena ingin mencari buah-buahan dan juga mampir ke sawah, sekembalinya dari pasar nanti.
__ADS_1
"Baiklah Julia hati-hati,,,." ucap Nenek.
Pak Madi segera menyalakan mobil dan memanasinya beberapa menit, lalu mengantar Nyonya mudanya ke pasar. Julia hanya membeli buah-buahan saja, seperti anggur dan jeruk santang madu.
Sekembalinya dari pasar, ia minta diturunkan di area persawahan milik Nenek. Ia ingin menyepi disana, dan mencurahkan segenap perasaanya. Sementara belanjaannya ia suruh Pak Madi bawa.
Di sebuah gubuk di tepi sawah, Julia bersandar di dalam gubuk, ia memandangi air yang jernih yang mengaliri sawah-sawah Nenek, yang sepertinya sangat dingin menyegarkan di kaki. Sambil memandang itu semua, Ia mulai menumpahkan airmata yang sudah daritadi ia tahan-tahan. Dan sesekali mengusap dengan punggung tangannya.
Selesai menangis, perlahan Julia turun dari gubuk, dan mencelupkan kakinya ke sungai kecil yang mengalir.
Nyessss,,,,, kakinya terasa dingin dan segar. Julia mengingat, dan sedikit membandingkan, Ia merasa Daffin lah yang benar-benar mencintainya sepenuh hati. Daffin tak perduli, apakah Julia masih perawan atau tidak? masih sendiri atau sudah punya anak? tapi Daffin menerimanya dengan tulus dan tanpa syarat apapun.
Sedangkan Satria? ia menyerahkan seluruh tenaga dan pikirannya, tubuhnya, jiwanya, bahkan kesetiaannya? tapi Satria malah masih saja mencurigainya, bahkan tidak menghargainya sebagai istri, di depan Srianti. Julia sangat kecewa dan marah. Perasaannya terabaikan.
***
Satria memarahi Nenek yang mengijinkan Julia ke pasar, dan meninggalkan Arga. Ia menunggu Pak Madi di teras depan, begitu mobil memasuki halaman, Satria langsung mendekati mobil, dan menanyakan Julia. Pak Madi mengatakan bahwa Julia turun mampir ke sawah Nenek.
Dengan berjalan cepat Satria menuju ke sawah. Kemarahannya sudah di ubun-ubun.
"Julia!!! istri seperti apa kamu?! kamu pergi tidak ijin suamimu?! kamu pikir aku ini siapa?!" ucap Satria berteriak.
Julia tertunduk mendengar makian suaminya. Ia tak ingin mendebat apapun yang Satria katakan.
"Jangan diam saja! aku bicara padamu Julia! sekarang katakan, apa saja yang telah kalian lakukan disana?! kalian bercinta?! kalian juga bulan madu ke Itali?!" Satria menunggu jawaban tak sabar. Julia malah duduk di gubuk. Tubuhnya lemas.
Ia cuma menitikkan air mata.
"Julia?! sudahlah, hapus airmatamu! itu tidak akan menyelesaikan masalah! kalau kamu ingin pergi? pergilah! aku tidak akan menahanmu! tapi ingat! tak akan kubiarkan kamu membawa Arga!" ucap Satria kesetanan, karena Julia diam seribu bahasa.
Julia berdiri, mendekat sedekat-dekatnya di depan Satria. Ia menengadah memandang suaminya. Matanya yang basah memandang mata suaminya.
"Kenapa kalau aku membawa Arga Mas?" tanyanya lirih. Pandangannya menuntut.
Memandang ke kedua mata Julia, Mata Satria yang tadi berapi-api mulai meredup, ia tahu, hatinya ciut berhadapan dengan perempuan yang sangat dicintainya itu. Ia takut kehilangan, tapi ia tak mau Julia tahu. Mata Satria kembali menatap Julia tajam.
Melihat Satria terdiam, dan memandangnya dengan tajam, Julia langsung beranjak pergi. Satria meraih tangan Julia, tapi Julia menepisnya. Ia sudah cukup tersakiti.
__ADS_1
Bagaikan cerita legenda Sri Rama yang meragukan kesetiaan dan kesucian istrinya Dewi Shinta, begitu pula dengan Satria. Ia menjambak rambutnya kasar.
Julia beranjak pergi dan tidak menoleh sekalipun ke belakang.
Sampai di gerbang rumah Nenek, Julia berlari masuk ke dalam rumah Nenek, dan langsung masuk ke dalam kamar. Ia tak menghiraukan tatapan Srianti yang tengah berada di ruang tengah sendirian.
Julia memandang Arga yang tidur dan sudah bersih dimandikan Bi Eroh. Ia tak mungkin berpisah dengan Arga, ia sumber semangatnya. Dan lagipula Arga masih menyusu kepadanya.
Julia mengemasi beberapa lembar pakaian yang ia bawa dari rumah. Awalnya ia berencana menginap beberapa hari di rumah Nenek. Tapi sekarang? Julia cuma ingin pergi sejauh-jauhnya dari Satria.
Satria memperhatikan Julia yang sedang mengemasi pakaianya. Ia ragu, apakah ia akan menahan Julia atau tidak. Hatinya begitu kalut memandang Julia dan Arga.
Selesai berkemas, Julia menghampiri Satria, berdiri di hadapannya, dan berpamitan. Satria memandang Julia dengan tatapan tak percaya, tapi ia bertahan dengan egonya.
"Mas, mungkin ini yang Mas inginkan, aku akan pergi, dan aku titip Arga. Aku tidak mau memisahkanmu dengan Arga." ucap Julia lirih.
Satria bungkam, speecless,,,, Ia cuma mematung. Dan memandang kepergian Julia dengan perasaan campur aduk.
"Julia,,,, tunģgu!" Satria menghentikan langkah Julia.
"Ada apa Mas?" tanya Julia lagi.
"Arga masih menyusu! bagaimana kalau ia mencarimu karena lapar?!" ucap Satria linglung.
"Oh cuma itu?! Aku sudah menyiapkan ASI untuk Arga di dalam freezer, kalau ia lapar, hangatkan saja satu botol, dan berikan padanya pakai botol susu. Nenek pasti tahu caranya. Atau Mas boleh minta tolong Srianti!" ucap Julia cuek.
Julia lalu segera pergi meninggalkan Satria, mobil grab yang ia pesan sudah masuk halaman rumah Nenek.
Srianti yang menyaksikan kepergian Julia, merasa sangat senang.
♠️
♠️
♠️
( Bersambung,,,, )
__ADS_1