
Julia merasa sedih, Satria dan Arga sampai sekarang belum juga kembali. Ponsel suaminyapun mati. Hingga jam dua belas malam Julia tak bisa tidur, Ia memikirkan benarkah Daffin telah bebas? pikirannya kacau. Ia khawatir Daffin akan datang, dan rumah tangganya akan berantakan. Tak bisa dipungkiri, Julia pernah hampir jatuh cinta pada kelembutan dan kebaikan Daffin, walaupun saat itu ia amnesia. Tapi perasaan itu tak bisa ia lupakan.
Saat sedang memikirkan Daffin, ponsel Julia berdering, Julia segera mengangkatnya, karena ternyata Nenek yang menelpon.
"Nenek, Assalamu'alaikum Nek,,,, tumben Nenek menelpon malam-malam? Nenek belum tidur?" sapa Julia.
"Wa'alaikumsalam, bagaimana Nenek bisa tidur? Arga terus menangis disini,,, Satria juga disini. Mereka baru saja masuk ke kamarnya." ucap Nenek memberitahu.
"Mas Satria disana Nek? alhamdulillah,,, aku khawatir Nek, ada apa-apa dengan mereka berdua. Tadi Mas Satria pergi sambil marah Nek." ucap Julia.
"Nenek sudah tahu. Makanya Nenek ngabari kamu. Mereka aman-aman saja disini!" jawab Nenek terkekeh.
"Baiklah Nek, terima kasih ya Nek, Nenek menelpon. Sekarang Nenek istirahat ya,,,, maaf kalau Arga merepotkan." jawab Julia tenang.
"Iya Julia. kamu juga, jangan tidur terlalu malam. Jaga kesehatanmu, dan ASImu, tidak baik begadang untuk Ibu menyusui." nasehat Nenek.
"Oke Nek,,,, met malam,,,, Assalamu'alaikum." ucap Julia.
"Wa'alaikumsalam,,,,,." jawab Nenek, mengakhiri telpon.
***
Julia bangun kesiangan, itupun karena ada suara tangisan Arga disebelahnya.
"Arga? Anak Bunda, kok kamu sudah disini sayang? mana Ayahmu?" Julia mengajak Arga berbicara, sambil menciumi Arga yang sudah bau wangi telon dan bedak. Julia melihat sekitar, mencari suaminya.
Digendongnya Arga sambil duduk, untuk menyusuinya. Setelah Arga puas, ia menegakkan tubuh Arga dan mendekapkan ke tubuhnya dan menepuk-nepuk pelan punggungnya, sampai terdengar Arga bersendawa.
Julia lalu turun ke bawah sambil menggendong Arga, mencari Satria suaminya.
"Pak Amad, dimana Tuan Satria? dia tidak kelihatan? apa Tuan sudah sarapan?" tanya Julia.
"Tuan udah berangkat Nyonya, tadi pagi-pagi sekali Tuan pulang ke rumah, lalu membawa den Arga ke atas. Terus turun lagi dan langsung berangkat kantor sama Mas Dicky." ucap Pak
Amad.
"Tidak sarapan?!" tanya Julia lagi.
"Tidak Nyonya, katanya mau sarapan di kantor saja. Ohya saya disuruh menyampaikan ke Nyonya, buket bunga yang di ruang tamu, mau diapakan Nyonya?" tanya Pak Amad ragu.
"Siapa yang suruh menyampaikan Pak? Tuan?" tanya Julia lagi.
"Iya Nyonya,,,, Maaf saya jadi bingung." ucap Pak Amad serba salah.
"Tidak usah dibuang, bagus bunganya. Biar saja Pak. Biar tambah panas,,,,." ucap Julia terkekeh. Pak Amad tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.
"Nyonya mau sarapan? makanannya sudah siap Nyonya,,,,." tanya Pak Amad.
__ADS_1
"Nanti saja Pak, tolong buatkan saya teh hangat saja ya Pak,,, Ohya mana Mba Mar?" tanya Julia.
"Tadi sih katanya mau ke minimarket, beli apa gitu,,,,? paling bentar lagi pulang. Saya buatkan teh dulu Nyonya." jawab Pak Amad, sambil berjalan ke dapur.
Tak lama kemudian, Pak Amad membawa teh hangat untuk Julia.
"Terima kasih Pak,,,." ucap Julia.
"Iya Nyonya, silahkan,,,." jawab Pak Amad, dan segera kembali ke dapur.
Julia sedang menikmati teh hangat di ruang tengah, sambil memangku Arga, ketika dengan tergopoh Maryati kembali.
"Maaf bu, saya habis dari minimarket, beli pembalut bu, kebetulan baru datang tamu." ucap Maryati.
"Iya tidak apa Mba Mar." jawab Julia, dan menyuruh Maryati menyelesaikan dulu keperluannya.
Setelah Maryati kembali dari kamarnya, dan mengurus Arga, Julia naik ke kamarnya, untuk segera mandi.
***
Baru saja selesai mandi, ponselnya berdering. Julia melihat nomor telpon di layar ponsel.
"Nomor siapa ini ya?" gumamnya sambil mengernyitkan kening. Julia tak segera mengangkatnya, karena nomor itu tak bernama. Julia langsung saja berpakaian dan berdandan simpel, karena tidak ada rencana pergi kemana-mana.
***
Daffin mondar mandir di kamarnya. beberapa hari lagi, ia akan berangkat ke Amerika, untuj keperluan bisnis. Arzhad akhirnya mengajaknya bergabung, menjalankan proyek disana. Sebenarnya Daffin punya beberapa proyek di Indonesia, apalagi bisnis kelapa sawitnya di Kalimantan pun mulai menampakkan hasil.
Daffin menghubungi Julia, karena ia ingin melihat Julia untuk terakhir kalinya sekalian berpamitan. Ia sudah berjanji pada Arzhad, dan juga dirinya sendiri untuk bisa melupakan Julia. Tapi sungguh, ia sangat ingin bertemu.
"Lebih baik aku coba menelpon sekali lagi." gumamnya.
***
"Ya ampun,,,,, siapa sih ini? kenapa menelpon terus?" gumam Julia. Ia takut mengangkatnya. Apalagi suaminya sekarang dalam keadaan cemburu buta.
"Bu den Arga sudah tidur, saya baringkan di kamar den Arga atau di kamar Ibu?" tanya Maryati mengejutkan, pandangannya menyelidik, ponsel sang Nyonya berdering terus, tapi tak diangkat.
"Tidurkan disini saja Mba. Makasih ya,,,,." ucap Julia sambil membalurkan handbody ke kedua kakinya yang putih mulus.
"Iya bu,,,, itu ponsel ibu bunyi terus?" tanya Maryati.
"Ohiya biarkan saja, nomor tak dikenal Mba. Malas ngangkatnya." jawab Julia cuek, dan melanjutkan aktifitasnya.
"Ibu mau pergi?" tanya Maryati lagi.
"Tidak Mba, belum ada acara keluar. Emangnya kenapa?" tanya Julia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Endak papa bu, kalau ibu mau pergi, ASI yang di freezer habis bu stoknya." ucap Maryati.
"Oh iya nanti saya pompakan lagi." jawab Julia. Maryatipun segera keluar kamar.
Ponsel Julia berdering lagi, akhirnya dengan menimbang-nimbang, Julia mengangkat telpon itu, karena takut Arga terbangun kalau ponselnya terus berdering.
"Halo,,,,,?" sapa Julia singkat, dia mendengarkan suara bising di seberang sana. Sepertinya sang penelpon sedang mengendarai kendaraan.
"Hai Julia,,,, apa kabar? maaf aku terpaksa mengganggumu. Belasan kali aku menelpon baru sekarang diangkat?" ucap seseorang di seberang telpon. Suaranya seperti Ia kenal, suara Mas Daffin?
"Emm maaf ini siapa?" tanya Julia gelisah.
"Kamu lupa suaraku Julia sayang? ini aku Daffin! bagaimana kabarmu?" tanya Daffin sedikit kecewa, merasa dilupakan.
"Daffin?!" tanya Julia lagi, ia cemas, kenapa Daffin menghubunginya lagi.
"Iya Julia, tolong jangan tutup telponnya. Aku ingin bertemu denganmu Julia, bolehkah?" ucap Daffin berharap.
"Tapi untuk apa?! Mas Daffin tolong, aku sudah bersuami, jangan ganggu aku lagi. Mas,,,, semua tentangmu membuat hubunganku dengan Mas Satria,,,, menjadi tidak harmonis. Maaf kalau aku mengatakan itu." ucap Julia merasa tak enak hati.
"Aku tahu Julia, ini semua salahku! tapi aku mohon,,,,, untuk terakhir kali? boleh?" pinta Daffin memelas.
"Tapi,,,,, tolong Mas, jangan,,,,,!" ucap Julia.
"Apakah aku harus berkunjung ke rumahmu? kalau kamu tidak mau bertemu denganku diluar?" ucap Daffin memberikan pilihan.
Julia tak menyadari ada sepasang kuping yang mendengarkan obrolannya.
"Jangan! apa maksud Mas Daffin sih? apa Mas Daffin ingin rumah tanggaku hancur?!" ucap Julia setengah berteriak.
"Tidak, tidak,,,, Julia jangan curiga padaku! aku cuma ingin bertemu sekali denganmu, aku ingin berpamitan. itu saja!" ucap Daffin setengah memaksa.
Julia berpikir,,, kalau ia tak menemui Daffin, ia takut, Daffin akan nekat ke rumah. Bisa jadi perang kalau begini.
"Hmmmmhhhhh,,,, baiklah Mas, aku mau ketemu, tapi janji, ini untuk yang terakhir kalinya!" ucap Julia, tangannya gemetar, karena baru saja menyanggupi keinginan Daffin. Kemudian ia menutup telpon secepat mungkin, sampai lupa menanyakan, lokasi tempat ketemuan mereka.
Ponsel Julia bergetar, ia melihat notifikasi pesan whatsapp dari Daffin.
Alamat sebuah restaurant ala Italia
♣️
♣️
♣️
( Bersambung,,,,, )
__ADS_1