
Setelah tiba di Jakarta Julia langsung menuju ke apartemen, diantar mobil bandara.
Beno mengantar Julia sampai ke lantai tujuh tempat apartemen Santi berada. Julia langsung memencet bel apartemen. Tak lama kemudian Santi membukakan pintu.
"Juliaaa? kamu sudah pulang?" tanya Santi sambil memeluk Julia.
Julia menoleh ke Beno, "Terima kasih mas Beno, mau mampir masuk?" tanya Julia.
"Tidak usah Nona Julia, terima kasih, saya langsung saja, takut Tn. Satria menunggu. Met malam Nona Julia, Nona Santi." jawab Beno.
Mereka menyahut bebarengan."Sama-sama."
Di dalam apartemen, Julia langsung memasukkan koper dan tas jinjing berisi oleh-oleh ke kamar, ia langsung melompat ke tempat tidur,,
"Cihhuuuiiii,,,, senangnya kembali ke apartemen!" teriak Julia sambil bergulingan di tempat tidur. Santi yang mengikuti ke kamar, terkekeh.
"Mbok bersihin badan dulu, baru rebahan Jul! biar enak, ga gatel-gatel badannya. Aku bikinin teh dulu ya,,, kamu pasti masih capek." ucap Santi.
"Oke cintaaa,,,, makasih yaaa,,,," Julia mengerling, ia lalu bangkit dari ranjang menuju ke kamar mandi, dibukanya pakaian yang menempel di tubuhnya satu demi satu, menyiapkan air hangat di bathub, lalu berendam,,,, Julia kecipak kecipuk mainan air.
Sekeluarnya dari bathroom, Julia membuka lemari, mengambil daster, dan mengenakannya. Di rumah memang paling nyaman pake daster.
Santi masuk ke kamar Julia sambil membawa dua cangkir teh, diletakkannya dimeja. "
Jul, nih tehnya, minumlah dulu." kata Santi.
"Oke makasih San,,,, " jawab Julia sambil meraih tehnya.
Setelah itu ia membuka tas jinjing berisi oleh-oleh, dan mengambil sebuah dress berwarna merah yang sangat cantik, sekotak praline berbentuk aneka buah, dan sekotak kecil berisi bros berbentuk menara eiffel.
"Ini buatmu San,,, " ucap Julia sambil menyodorkannya kepada Santi.
"Wah bagus banget ini! pasti mahal harga gaun ini?" ucap Santi riang.
"Tn. Satria yang membayari semua San." ucap Julia.
"Apaaa?! Tn. Satria yang bayari ini semua?" Santi bertanya, ia mengerucutkan bibirnya, lalu tertawa.
"Malah ketawa?! Julia cemberut.
"Ck ck ck,,,, sebegitunya Tn. Satria sama kamu Jul, fixed!! ia pasti naksir kamu!!" tandas Santi sambil masih tertawa.
"Udah udah,,,, ga usah berstatement yang aneh-aneh. mau tidak?!" Ucap Julia galak.
"Mauuuuuuu,,,,,,," jawab Santi masih dengan tertawa.
***
__ADS_1
Julia telah tiba di kantor,
"hadèeehh kenapa ini, kok kepalaku pusing gini ya?" gumam Julia sambil memegangi kepalanya. Ia baru saja mengurus beberapa dokumen penunjang untuk penawaran. Ia sibuk sendiri, karena kebetulan Tika sedang sakit.
Lift sampai di lantai 13, dan pintu terbuka, Julia keluar dari dalam lift,,,, dan langsung masuk ruangan, loh kok aku disini, ruangan siapa ini? jangan-jangan aku salah lantai. Bathin Julia.
"Aduh pandanganku gelap," Julia sempoyongan, tubuhnya hampir saja jatuh. Tiba-tiba seseorang menyangga tubuhnya.
"Ju-liaa? kamu kenapa?" seseorang mengenali Julia, dan langsung meraih tubuh Julia aga tidak terjatuh.
Ia menyandarkan Julia ke kursi, dan mengambilkan minuman hangat, ia menyodorkan kepada mulut Julia yang masih lemas.
"Minumlah biar kamu baikan." ucap Indra.
Setelah minum air yang disodorkan padanya, Julia meminumnya perlahan sampai habis. Ia merasa lebih baik. Ia mendongakkan kepalanya, dan terkejut.
"In-indra? kamu mas Indra kan?" tanya Julia kaget.
"Iya Julia, aku Indra. td kamu hampir pingsan, aku yang membawamu duduk disini.
"Ini lantai berapa?" tanya Julia lagi.
"Lantai 13, lantai tempat aku bekerja, baru dua minggu aku dipindah kesini." jawab Indra
Melihat Indra, ia jadi teringat betapa sakitnya saat Indra meninggalkannya enam bulan yang lalu, Tapi dengan cepat juga ia melupakannya.
"Di lantai 16 Mas,,, aku tadi mau ke lantai 16, tapi kenapa aku justru masuk kesini?" jawab Julia datar.
"Oke Mas Indra, terima kasih pertolongannya, aku mau ke kantorku." ucap Julia dingin.
Julia buru-buru pergi sebelum Indra mengatakan sesuatu, walaupun ia sudah melupakan Indra, tapi tak memungkiri juga ia merasa gugup.
Sambil berjalan menuju lift hatinya bertanya, kenapa ia harus bertemu lagi dengan pria dari masalalunya. Bukan suatu kebohongan, Julia pernah jatuh cinta pada laki-laki yang dijodohkan orangtuanya itu. Tapi karena ia ditinggalkan begitu saja, dan mengenal laki-laki tersebut hanya sebentar, ia dengan mudah melupakannya, dan itu juga bukanlah suatu kesalahan. Tapi,,,, bagaimanapun juga ia belumlah mengurus perceraian dengan Indra, bukan karena ia tak mau bercerai, tapi karena Julia sekarang ini terlalu sibuk hingga ia lupa.
Pintu lift terbuka, ia brenti sejenak untuk memastikan bahwa ini lantai 16 dimana kantornya berada, ia tidak mau salah masuk lagi.
Ia mampir ke meja Hendro untuk meminta gambar desain.
"Mas, gimana gambarnya sudah selesai belum? kalau sudah aku bawa sekarang." pinta Julia.
"Ya ampun Jul,,,, belum, kalau sudah selesai aku serahkan ke kamu deh." jawab Hendro sambil menggarukkan kepala.
"Okeee ,,,, tak tunggu ya mas?" tuntut Julia.
Julia berjalan menuju mejanya, hmmm aku harus lembur nih,,, bathinnya. Dengan cekatan Julia membuka laptopnya, ia mulai mengerjakan RAB. Hari sudah sore, belum ada satupun karyawan di bagian perencanaan yang beranjak untuk pulang. Semua orang sibuk mengerjakan tugasnya, alhamdulillah, proyek demi proyek mereka dapatkan pertengahan tahun ini.
Pak Fatah mendatangi meja Julia.
__ADS_1
"Nona Julia, bagaimana RAB proyek Lyon? sudah selesai?" tanya Pak Fatah mengejutkan.
"Belum Pak, gambarnya aja belum selesai, Saya baru menyiapkan item pekerjaannya saja." keluh Julia.
"Oke, paling tidak besok sore sudah jadi, nanti saya cek lagi apakah ada yang harus revisi atau tidak." ucap Pak Fatah lagi, sambil meninggalkan meja Julia.
"Fokus! Fokus! Fokus! Julia mengingatkan dirinya sendiri.
"Apanya yang fokus Mba?" tiba-tiba Hendro bersuara dari balik meja kerjanya.
"Hahaha ya kerjanya lah Mas, daritadi Pak Fatah nanyain terus RABnya. Kalau tidak via Wa, via telpon? hmmmhhhh." Julia mengeluh lagi.
Setelah itu, ruangan sunyi, cuma terdengar suara keyboard laptop yang diketik.
Suara langkah kaki terdengar terburu-buru, ia menghampiri meja Julia.
"Selamat malam kak,,, betul saya bicara dengan kak Julia? Ini Saya mau mengantarkan Makanan buat Kakak,,,, " Kurir restaurant pizza bertanya.
"Iya mas, Pizza? tapi Saya ga pesan pizza mas. masnya salah orang kali?! sahut Julia sambil masih mengetik.
"Tapi benar kakak kak Julia kan? yang pesen laki-laki kak, sudah dibayar juga. Kalau tidak ada yang terima, nanti saya kena omelan customer kak." ucap sang kurir sedikit takut.
Hendro menongolkan kepalanya,,,,
"Udah terima aja Jul,,, lumayan banyak itu, kebetulan laper juga nih,,,, " ucap Hendro ngarep. Julia memonyongkan bibirnya.
"Huuuuu!!!"
"Ya udah sini mas taruh sini saja, ohya tadi siapa yang memesankan?" tanya Julia.
"Nah itu kak,,, dia ga nyebutin namanya, pokoknya suruh antar aja ke kak Julia, alamatnya gedung ini, lantai ini,,, " ucap sang kurir polos.
"Ya sudah terima kasih yaaa" jawab Julia.
"Ya kak sama-sama." ucap sang kurir merasa lega.
Sambil mengetik Julia berpikir keras, siapa sih yang mengantarkan makanan ini? atau jangan-jangan,,,, ?! Indra?
Tapi tidak mungkin, pikirnya, karena sebelumnya juga sering ada makanan yang tiba-tiba sudah ada di meja Julia. Saat ia menanyakan pada semua orang di ruangang itu, tidak ada yang tahu.
♤
♤
♡
( Penasaran?! hihihi,,,, aku juga. Tapi sebelum lanjut, ditunggu ya like n commentnya. dan Maaf buat yang udah kirim komentar, besok dijwb kalau sudah sempat. promise!! )
__ADS_1