Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
HASIL PENGHIANATAN


__ADS_3

Di sebuah ruangan di rumah sakit. Clara menangis karena kehilangan bayinya. Karena kecelakaan, ia mengalami keguguran.


"Bodoh sekali sih kamu, seharusnya kamu tak perlu berlari untuk menyeberang." ucap Daffin.


"Aku takut, mereka mengejarku Mas Daffin.'" isak Clara.


"Sekarang kita susah memberikan tuntutan pada Satria. Rencanaku gagal lagi!" dengus Daffin, menahan kesal.


Gagal lagi Daffin berusaha memisahkan Satria dengan Julia. Beberapa tahun di USA membangun bisnisnya, tapi dalam jangka waktu tersebut, ia tak juga bisa melupakan Julia. Bahkan sekarang setelah ia kembali sukses, ia malah makin menggebu untuk mendapatkan Julia.


"Aku kehilangan bayiku, bayi kita!" ucap Clara masih terisak, ia sangat terpukul.


"Sssttttt,,,, diamlah! jangan berbicara terus, nanti ada yang mendengar." teriak Daffin.


" Mas Daffin kenapa kita tidak menikah saja? aku mencintaimu, bukan Tuan Satria. Aku hanya mengikuti perintahmu, karena aku mencintaimu!" ucap Clara masih terisak.


"Diam Clara!!! mana mungkin aku bersamamu? kamu gadis ingusan yang bodoh. Usiamu baru 25 tahun. Kamu masih muda dan banyak kesempatan. Aku hanya menginginkan Julia, dia sangat cantik, dan juga cerdas, pantas untuk melahirkan anak-anakku nanti." ucap Daffin terkekeh.


Clara merasa tersinggung dengan ucapan Daffin, ia menyebutnya gadis ingusan dan bodoh. Kalau memang ia gadis ingusan, kenapa Daffin merenggut kegadisannya, sampai ia hamil? Daffin memanfaatkannya untuk menjebak Tuan Satria, agar Tuan Satria berpisah dengan istrinya.


Walaupun sebenarnya ia menikmati permainan cinta keduanya, Daffin dan Tuan Satria, keduanya sama-sama tampan, dan postur keduanyapun sama, tinggi besar. Tapi ia sangat menyukai Daffin yang memang lebih dulu ia kenal.


Clara mengingat pertemuan keduanya di kantor Daffin, ia diterima sebagai sekretaris setahun yang lalu. Ia mengagumi pria yang usianya 14 tahun lebih tua darinya. Perceraian kedua orang tuanya selagi ia berusia 5 tahun, membuat Clara merindukan sosok laki-laki yang kebapakan.


Usia Daffin sekarang 39 tahun, selisih 2 tahun dengan Satria dan ia belum juga menikah. Di USA, ia menjalin hubungan dengan beberapa perempuan disana, tapi ia tetap tak bisa melupakan Julia. Hingga ia akhirnya tergoda dengan kecantikan dan keluguan Clara. Walaupun sangat muda bagi Daffin, tapi Clara agresif sekali mendekatinya.


Daffin terlihat kesal karena kebodohan Clara yang menyeberang dengan berlari. Walaupun si pengemudi bertanggung jawab atas pengobatan Clara, tapi rencana Daffin justru gagal.


"Sudahlah Clara, lebih baik kamu beristirahat. Biar kamu segera sembuh." ucap Daffin sambil beranjak pergi menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Mau kemana kamu Mas Daffin? jangan pergi! aku takut disini!" rengek Clara.


"Aku cuma keluar untuk merokok!" ucap Daffin sambil berjalan keluar.


***


Satria pulang ke rumahnya, Ia segera naik ke atas mencari istrinya. Ia masuk ke kamar tidur mereka, dilihatnya Julia sudah tertidur. Apakah Julia sudah makan? pikirnya, ia sangat khawatir dengan kondisi istri dan bayi yang dikandung Julia. Ditatapnya Julia, matanya sembab, pertanda ia menangis lama sepeninggal Satria. Satria mengelus lembut rambut istrinya, dikecupnya kening Julia.


Julia terbangun, tapi karena ia kelelahan menangis, ia diam saja, hanya bergerak sedikit menata posisi tubuhnya menyamping. Satria menarik nafas pelan, ia sudah menyakiti perasaan istrinya, ia bingung harus memulai darimana agar istrinya bisa memaafkan.


Satria duduk terdiam disamping Julia, sambil terus memandangi wajah, yang tak ingin ia lupa seumur hidupnya.


Satria mengenang pertama kalinya ia berjumpa dengan Julia, gadis tomboi yang ceroboh, tapi cerdas, dan juga ternyata sangat lembut hati. Julia, satu-satunya perempuan yang bisa membuat Nenek luluh dan sangat sayang padanya. Mereka berdua suka sekali berkelakar, berbeda dengan Satria yang cenderung lebih serius dan dingin. Tapi kini, Julia malah menulari Satria sifat kocaknya.


Satria yang biasanya tak peduli dengan kesukaan orang lain, bahkan termasuk mantan istrinya, Srianti. Tapi dengan Julia, ia sangat tahu makanan kesukaan Julia, apa yang disukai dan tidak oleh Julia, karena Julia juga tahu apa yang disukai atau tidak olehnya, apa makanan kesukaanya. Dari Julia, Satria belajar saling peduli. Bersama Julia pula, yang kemudian Satria menjadi orang yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang.


Satria menoleh ke arah pintu, yang ternyata Arga puteranya membuka pintu kamar.


"Sekarang Arga bobo ya, sama Ayah." Satria membuka kemejanya dan celana panjangnya, ia hanya mengenakan kaos oblong dan celana boxer, kemudian mengeloni Arga.


Pagi harinya, Julia seperti biasa, membuatkan kopi untuk Satria, dan menaruhnya di meja makan. Lalu menyiapkan sarapan pagi untuk Satria, mungkin hari ini Satria masih belum ke kantor.


Arga yang dimandikan oleh ayahnya sudah rapi, dan mengajak ayahnya sarapan.


"Ayah, Alga lapal, ayuk maem yah,,,,." ucap Arga.


"Oke siap komandan! yuk kita sarapan. Bunda pasti sudah masak yang enak-enak buat kita." jawab Satria semangat.


Keduanya menuruni tangga, menuju ruang makan.

__ADS_1


Satria membukakan kursi untuk Arga duduk, di sebelahnya, dan langsung menyeruput kopi, sedangkan Arga minum teh hangat, yang dituangkan oleh ayahnya dari teko.


Julia meletakkan lauk pauk diatas meja, yang baru saja digoreng. Kemudian mereka sarapan bertiga dalam diam, hanya celotehan Arga saja yang terdengar, dan sesekali saja Julia dan Satria menyahut celotehan Arga.


Julia makan sangat sedikit, karena nafsu makannya hilang sejak kepergian Nenek, dan mengetahui perselingkuhan Satria.


"Yank, kenapa sedikit sekali kamu makan? kasihan bayi yang ada di perutmu. Makanlah yang banyak yank,,,,." bujuk Satria.


Julia diam saja tidak menyahut.


Sampai mereka selesai sarapan, Julia langsung membereskan semuanya dibantu Pak Amad. Julia langsung pergi ke teras belakang, dia melihat ke sekeliling taman, dalam kesedihannya, ia ingin menciptakan suasana baru. Ia ingin melupakan kehilangan Nenek dan juga penghianatan suaminya. Ia merasa percuma saja ia bertengkar dengan Satria, toh semuanya sudah terjadi. Yang ia takutkan, Satria menikahi gadis yang hamil itu. Bagaimanapun Julia tak pernah siap menghadapinya.


Ia menggeser pot-pot di teras belakang, dan menata ulang. Ada beberapa tanaman yang daunnya menguning di pinggirnya, ia harus menggantinya dengan pot baru, dan juga mengganti media.


Keringatnya bercucuran, lelah juga mengurusi tanaman, yang biasanya dilakukan oleh tukang kebun. Tapi kali ini ia ingin menata sendiri.


Satria menghampiri Julia.


"Yank, jangan terlalu capek, kamu sedang hamil muda." ucap Satria.


Julia cuma melengos, ia benar-benar tidak ingin menatap suaminya.


Julia berjalan menjauh, masuk ke dalam rumah. Ia melewati Arga yang sedang mengikuti ayahnya.




__ADS_1


( Bersambung,,,, )


__ADS_2