
Stasiun gambir pukul 16.45
Julia tiba di stasiun, ia membeli ticket di locket. Ia mendapatkan ticket kereta eksekutif KA. gajayana, kereta berangkat jam 18.10 nanti.
Julia menunggu di restaurant sebelum masuk ke peron, mengisi perutnya sedikit, lalu meminum obat yang dibelinya di apotik. jam 17.45 Julia masuk ke boarding pass stasiun, mengecek ticket, lalu segera menuju tangga naik keatas menuju ke jalur keberangkatan.
Kereta yang ditunggu datang, dengan lemas ia masuk ke gerbong 5, dan mencari tempat duduk sesuai yang tertera di ticket 15A. Julia duduk, rasanya tak tertahankan, badannya semakin lemas saja. Padahal ia sudah minum obat 2 kali.
Pandangan Julia kosong,,,,
Kata-kata Tn. Satria begitu jelas terdengar, bahwa ia seorang penghianat, perempuan tidak tahu diri. Julia terus mengingatnya,,,,
Ucapan Tn. Satria bagaikan mortir yang dilontarkan bertubi-tubi hingga yang terkena tembakannya tak bisa lagi berkutik. Mati tak berdaya.
Dadanya terasa sesak, mengingat kelembutan Tn. Satria saat bersamanya, saat di Perancis, Tn. Satria menggandeng tangannya bagaikan sepasang kekasih. Ia menerima perlakuan Tn. Satria dengan pasrah,,,, kelembutannya, perhatiannya, dan sekarang? kemarahannya yang tidak bisa Tn. Satria kontrol.
Kereta melaju dengan cepat,,,,
***
Santi menghampiri Tn. Rico yang keluar dari ruangan CEO. Ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Tn. Rico,,, " sapa Santi.
Rico menoleh kepada Santi sekretaris bosnya, yang lama ditaksirnya.
"Ada apa San?" tanya Rico.
Santi menghela nafas.
"Tn. Rico, apakah Anda percaya kalau Julia berkhianat atau,,,, sengaja berbuat kesalahan?" tanya Santi akhirnya.
"Entahlah San,,,, aku juga tidak tahu. Aku baru saja kembali dari Malaysia, dan ada insiden seperti ini." ucap Rico sambil berdecak.
"Aku mohon,,, carilah kebenarannya, kasihan kalau ternyata Julia tidak bersalah. Ini pasti ada yang tidak beres! Lagipula ini masih evaluasi juga kan? pemenang masih dalam masa sanggah." ucap Santi mengharap.
Rico mengerutkan keningnya,,, Ia berpikir keras. Demi melihat permintaan tolong orang yang ditaksirnya diam-diam, akhirnya ia berkata.
"Yah mungkin saja,,, Tapi baiklah, aku akan cari tahu." jawab Rico.
"Te-terima kasih Tn. Rico,,, " ucap Santi tulus.
Rico cuma melemparkan senyum, dan mengangguk.
***
Kereta yang membawa Julia pulang, sudah sampai stasiun Brebes. Julia meraih ponselnya. Ia menelpon sepupunya.
Telponnya sudah terhubung,,,,
"Halo Jul, udah sampai mana? maaf waktu kamu wa, aku baru bangun tidur,,, " jawab Rendy.
__ADS_1
"Iya ga papa Ren,,, Ohya bisa kan kamu jemput aku di stasiun purwokerto? Perkiraan jam 23.15 aku sampai. ini udah di Brebes." ucap Julia.
"Oke Jul, aku otw sekarang." jawab Rendy.
Julia lega mendengarnya, Ia tidak perlu khawatir karena sudah ada yang menjemputnya nanti. Ia kasihan kalau harus meminta ayahnya menjemput, mata tuanya pasti lelah kalau menyupir malam hari.
***
Satria berdiri mematung bersandaran di pintu teras samping ruang makan, Ia menekuri kolam ikan koi. Dipandanginya ikan-ikan koi sambil melemparkan makanan ke dalam kolam.
Pikirannya berkecamuk, Ia tidak pernah menyangka akan seperti ini. Ia sudah begitu mempercayai Julia,,, Ia bukannya mempermasalahkan kerugian yang ia dapat, karena pundi uangnya masih banyak. Satu kekalahan tidak akan membuatnya bangkrut. Ia murka karena kekalahannya ini diakibatkan pengkhianatan orang yang sudah ia percaya. Apalagi ia telah jatuh cinta padanya.
Satria meremas rambutnya kuat-kuat.
"Aaaarrrggghhhh!!" ia menggeram.
Pak Amad memperhatikan Tuannya dengan sedih. Beberapa minggu lalu, Tuannya begitu keliatan bahagia, dan sepertinya ia sedang jatuh cinta.
Tapi Malam ini, ia melihat Tuannya begitu murung, sampai tidak mau menyentuh makanan apapun.
"Tuan,,,,, makan malamnya?" Pak Amad bertanya dengan ragu, ia tidak menyelesaikan kata-katanya.
"Udah singkirkan saja makan malamnya, aku gak selera makan." jawab Satria, sambil terus melemparkan makanan ikan ke kolam. Satria pergi ke tangga menuju kamar. Sementara Pak Amad memanggil pelayan untuk membereskan meja makan.
"Kalian makan saja makanan itu, Tn. Satria tidak mau makan." ucap Pak Amad kepada pelayan.
***
Ayahnya yang masih terjaga, mengintip dari balik gordyn, Julia? Ayahnya segera membukakan pintu untuk Julia.
Julia memeluk ayahnya dengan erat,,,, ia menangis lagi dalam pelukan hangat Pak Rusman ayahnya. Menyadari mereka masih di depan pintu, Julia segera melepaskan pelukannya.
Ayah Julia mengajak masuk ke dalam rumah.
"Ren masuk dulu,,, jangan diluar aja." ucap Ayah Julia.
"Ga usah om, Rendy pamit aja,,, pagi nanti Rendy kan ngantor om?" tolak Rendy tersenyum.
"Ya udah, ati-ati ya Ren, makasih udah nganter Julia." ucap ayahnya lagi.
"Oke om,,, " Rendy lantas pergi.
"Makasih Rendy!" teriak Julia,,,
Rendy mengerling,,,,
***
Sudah dini hari tapi Satria belum juga bisa memejamkan matanya. Ia menatap ponselnya. Ingin rasanya menelpon Julia, walaupun ia tahu Julia pasti tak akan menerima panggilan telpon darinya.
Akhirnya ia menatap foto yang dikirimkan Rico tadi sore, Ia sudah menyuruh Rico untuk mencari tahu anak buah Daffin yang bernama Indra itu, dan ada hubungan apa Julia dengannya.
__ADS_1
Sudah pukul 2 dini hari, Satria cuma membolak balikkan tubuhnya di spring bed mewahnya. Empuk spring bed ternyata tak mampu mengalahkan kegelisahan.
Dalam kegalauannya, ia teringat, sebulan lalu ia disuruh Nenek untung datang. Tapi ia lupa, apalagi ia sangat sibuk dengan bisnisnya.
"Besok aku akan ke tempat Nenek." gumamnya.
Sudah menjadi kebiasaan Satria, Ia akan mengunjungi Nenek saat hatinya gundah gulana.
***
Setelah mandi dengan air hangat, Julia kembali ke kamarnya, Ia mengambil mukena untuk sholat hajat.
Dalam sujud terakhirnya Julia menangis tersedu, menyayat hati bagi siapapun yang mendengarkannya. Julia meratap, mengharap pada Tuhannya, kenapa ia mendapatkan cobaan demi cobaan, disaat ia baru mengecap kebahagiaan?
Selesai sholat, Julia melipat mukena dan sajadah dengan rapi, dan meletakkannya di nakas samping tempat tidur.
Julia mengecek ponselnya, siapa tahu ada yang menghubunginya. Tapi ternyata, tidak ada,,,,
Semua orang mungkin sudah melupakannya. Julia merebahkan badannya,,, akhirnya Julia tertidur.
Jam 4 pagi, tubuh Julia menggigil, kepalanya mulai pusing lagi, kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Julia mengerang karena demam.
Suara adzan terdengar dari Masjid dekat rumah. Ayah dan ibu Julia sudah bangun, hendak sholat subuh.
"Ohiya bu, Julia sudah pulang, dia ada di kamarnya sekarang, ibu bangunin sana, biar kita subuhan bareng?" ucap ayah julia merasa senang.
"Yang benar Yah? Baik kalau begitu ibu ke kamar Julia sekarang." ucap ibu Julia dengan rasa senang yang sama dengan ayah Julia.
Ibu Julia berjalan ke kamar Julia, ia mengetuk pintu, tapi tidak ada yang menyahut. Akhirnya ibu Julia memutuskan untuk langsung membuka pintu kamar Julia. Ibu Julia terkejut, melihat anak semata wayangnya menggigil.
"Julia, kamu kenapa Nak?! ucapnya khawatir.
Ibu Julia menyentuh kening Julia, punggung tanganya terasa panas. Ibu Julia memanggil suaminya.
"Yah! Ayah,,,, !! kesini yah,,, " ibu Julia teriak memanggil suaminya dengan panik.
"Iya bu,,, ?" tanya ayah Julia sambil berjalan cepat ke kamar anaknya.
"Julia demam Yah,,, Ayah tungguin Julia dulu, ibu mau ambil handuk buat ngompres." ucap istrinya tergesa. Ayah Julia mendekati anaknya dan duduk di samping anaknya berbaring, ia menempelkan punggung tangannya di kening Julia. "Iya panas." ayah Julia mulai merasa cemas.
Ibu Julia datang dengan tergopoh sambil membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil bersih. Ia mencelupkan handuk ke dalam baskom lalu memerasnya, dan menempelkan ke kening anaknya.
"Bismillah,,, semoga cepet sembuh Nak." gumam ibu Julia. Julia menatap ibunya lemah.
Ayah dan ibu, lalu meninggalkan Julia di kamarnya sebentar untuk sholat subuh.
β€
β€
β€
__ADS_1
( Haloooo,,, ditunggu ya like n commentnya. semoga para readers suka,,,,ππΌππΌππΌ )