Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
GALAU


__ADS_3

☆☆☆


Satria mendapatkan ide alasan apa yang akan ia gunakan nanti, saat ia mengajak berkunjung ke rumah Nenek.


Sebelum ia lupa, Satria langsung meluncur ke ruang perencanaan.


Satria berjalan santai,,, ia tiba di meja Julia, saat Julia sedang membantu Tika mengerjakan tugasnya.


"Ehm,,, Julia, bisa bicara sebentar?" ucap Satria mengejutkan Julia.


"Oh Tn. Satria, tentu saja Tuan, mau bicara apa?" tanya Julia kalem.


"Ikut saya!" perintahnya kepada Julia.


Julia menuruti perintah, ia mengikuti berjalan di belakang Satria. Mereka turun menggunakan lift khusus yang langsung menuju ruang CEO. Pintu lift terbuka, Julia keluar mengikuti sang Bos.


Kebetulan Santi sedang ia suruh memesankan makanan untuk makan siang nanti. Sementara Rico sedang mewakili Satria untuk bertemu mitra bisnis. Jadi pasti aman, tidak akan ada yang mendengar.


"Julia,,,, Nenek memintaku mengunjunginya Sabtu ini." ucap Satria. "Tapi Nenek memintaku untuk mengajakmu, kuharap kamu ga keberatan?" Satria memohon.


"Tidak masalah Tuan,,,,." jawab Julia.


"Julia, jangan panggil aku Tuan, saat kita berdua!" ucap Satria tegas.


"Saya sungkan Tuan,,, saya ini kan cuma karyawan disini." ucap Julia merendah.


"Hmmhh,,, ." Satria mendengus.


Julia memandang Satria tanpa berkedip. ditatap seperti itu Satria merasa gugup, kenapa Julia menatapnya seperti itu? erangnya dalam hati.


Julia memonyongkan bibirnya, dalam hati satria terkekeh, jelek sekali dia.


"Kalau memang sudah tidak ada apa-apa lagi, Saya bisa keluar dari sini kan Tuan? atau,,,,, ada yang masih ingin disampaikan?" ucap Julia mengingatkan, sambil menaikkan alis.


"Hmmm berani sekali dia mengaturku?" rutuk Satria dalam hati. Dan bukannya menjawab, Satria cuma menggerutu dalam hati.


"Baiklah,,, saya masih akan duduk disini, siapa tahu saya bisa membantu pekerjaan Tuan Satria!" ejek Julia.


"Oke oke,,,, Baiklah! kamu boleh pergi Julia!" ucap Satria ketus.


Julia berdiri dan berjalan santai melangkah keluar.


Satria hanya bisa memandangi kepergian Julia dengan perasaan hampa. Sejujurnya ia masih ingin Julia disini, tapi tak sepatah katapun bisa ia lontarkan dengan baik.


"Tuan!" Julia masih di pintu.

__ADS_1


"Julia!" panggil satria


Mereka memanggil berbarengan. Akhirnya terdiam lagi.


"Oke Julia, kamu dulu, ada apa?" ucap Satria berdebar.


"Apakah Tuan mengajak Saya ke rumah Nenek cuma karena Nenek yang meminta?" Julia memberanikan diri untuk bertanya. Bathin Satria mencelos mendengarnya


"Ha ha ha apa yang ada di dalam pikiranmu Julia?! tentu saja karena Nenek yang meminta! memangnya kenapa?" jawab Satria terkekeh, padahal ia gugup sekali.


"Baiklah,,,,." ucap Julia, ada nada kecewa disana. Dan itu membuat Satria merasa bersalah. tanpa berkata apapun lagi, Julia langsung keluar. Dia tidak ingin mendengarkan lagi Satria mau mengatakan apa tadi.


Loh kenapa ia malah pergi? aku kan belum bicara lagi. satria menggerutu.


Saat Julia keluar ruangan, ia berpapasan dengan Santi yang kembali dari memesan makanan. Santi menatapnya sambil tersenyum, tatapannya penuh arti.


"Oh jangan tanya sekarang Santi! aku sedang badmood" ucap Julia malas.


Santi melongo,,,,,


Ia langsung masuk ruangan Satria, untuk mengantarkan pesanannya.


"Ada apa dengan Julia Tuan? aku menyapanya, tapi dia malah bilang sedang badmood?!" tanya Santi.


"Oh eh tidak ada apa-apa Santi. Benar dia bilang begitu?" tanya Satria.


"Iya terima kasih Santi." jawab Satria.


Satria memikirkan ucapan Santi tadi, Julia badmood setelah bertemu dengannya. Ia berpikir mungkin ada yang salah dengan ucapannya pada Julia. Ia merasa bersalah.


Ia meraih ponselnya, dan mulai mengetikkan beberapa pesan di whatsapp.


\=Kalau kamu tidak mau ikut ke tempat nenek, aku tidak memaksamu Julia.\=


pesan dikirim.


***


Julia merasa dipermainkan oleh Satria. Hatinya bimbang, benarkah Satria menaruh hati padanya? seperti yang dikatakan Santi? atau itu hanya karena Julia salah duga. Tapi ia ingat saat Satria memeluknya di dapur apartemen, tatapannya begitu mendamba. Sampai Julia larut dan menikmati setiap perlakuan Satria.


Jaman Now gapapa perempuan lebih dulu mengungkapkan perasaan, tapi jangan to the point, pakai pura-pura dikit lah, artinya bukan dengan langsung mengatakan I love u, tapi dengan perbuatan, sering-sering berjalan di depannya, atau meminta bantuannya agak intens. itu kata-kata Mba Arzhad kepadanya.


hmmm aku mau minta bantuan apa sama Tn. Satria, yang ada dia malah menyuruhku. gerutu Julia.


"Haiiiiii,,,, ngelamun aja Julia?!" suara Tika mengagetkan.

__ADS_1


Julia cuma tertawa,,,,,


"Makan yuk Jul? udah jam istirahat nih,,, lapar!!" ucap Tika.


"Ayuuukkkk kita rame-rame ya,,,, ajak semua." jawab Julia.


beberapa teman langsung ikut untuk makan siang bareng, karena minggu-minggu ini pekerjaan sedang tidak banyak.


***


Satria melihat ruangan perencanaan dari CCTV, dilihatnya ruangan hampir kosong, cuma 1-2 orang yang terlihat.


Kemana Julia? ia tak kelihatan? apa sedang keluar makan? bathinnya.


sejam kemudian ruangan kembali ramai, karyawan yang memanfaatkan jam istirahat dengan makan diluar kantor satu persatu berdatangan.


Hendro mampir ke meja Julia dan mengobrol dengannya, ngobrol soal game, soal cewek dansebagainya. Julia dan Hendro cuma selisih dua tahun, jadi mereka bisa berbincang dengan akrab. Apalagi Hendro juga belum berkeluarga. Tika sesekali menimpali obrolan mereka.


"Nah terus gimana Mas, apa kamu udah menyatakan perasaanmu pada gadis itu? awas loh,,,, kalau ga cepet bisa keduluan, memble deh!" ejek Julia pada Hendro.


"Ah santai aja Jul,,, lagian dia masih nyusun skripsi. Masih banyak kesempatan lah." jawab Hendro pede.


"Nah itu masalahnya, di kampus pasti banyak mahasiswa yang lebih keren dan agresif! iya enggak Tik?" sahut Julia, dan minta dukungan Tika.


"Iyessss bener tuh Mas,,,,!" ucap Tika sambil tertawa.


Satria melotot melihat layar CCTV, ah tidak bisa didiamkan mereka, sungutnya merasa cemburu. Satria keluar ruangan untuk sidak ke ruang perencanaan di lantai 16.


***


Suara langkah kaki Satria mantap menuju meja Julia,,,, Hendro langsung kembali ke mejanya, Tika kembali serius dengan laptopnya. Tinggal Julia sendiri yang masih santai dengan ponselnya. Kerjaannya tidak banyak.


Satria berdehem, Julia langsung menengadahkan wajahnya dan menatap Satria dengan senyum. Sementara Satria menatapnya tajam. Kemudian Satria berjalan menjauhi meja Julia dan jalan berkeliling ruangan.


Menatap Julia hanya membuat perasaannya makin tak karuan.


Hmmm harus segera mencari orang baru untuk mengisi jabatan kepala bagian perencanaan, agar ruangan ini terkontrol. bathinnya.


Satria menuju lift untuk kembali ke ruangannya di lantai 17.




__ADS_1


( Lanjuuuuutttttttt,,,, !!! Jangan lupa like n commentnya pemirsaaaahh,,,, 😘😘😘 )


__ADS_2