
•
•
Ting,,,,
Pintu lift terbuka, Julia dan Pak Fatah keluar beriringan,,,
"Sekarang aku temani kamu tunggu grab Julia, kalau terjadi apapun denganmu, Saya yang akan bertanggung jawab." ucap Pak Fatah yang dijawab anggukan Julia.
Ting!
Pintu lift khusus terbuka, Julia melihat Tn. Satria CEOnya berjalan beriringan dengan Tn. Rico asistennya.
"Rupanya Tuan CEO juga baru keluar?" gumam Julia.
Satria berjalan ke arah Julia dan Fatah,,,,
"Ehm,,,, Pak Fatah, baru pulang? Oh ya,,,, gimana berkas penawaran Relokasi Pabrik di Papua? apa sudah siap?" tanya Satria datar kepada Fatah, sambil melirik Julia.
"Iya Tuan Satria, Saya baru menugaskan Julia untuk menyelesaikan berkasnya, kemarin ada kekurangan di RABnya, sekarang sedang direvisi oleh Julia, mudah-mudahan berkas besok sudah ditangan Tn. Satria. Iya kan Julia?" tukas Pak Fatah cepat.
"Eh emm,,, i-iya Tn. Satria, insyaa Allah besok sudah selesai." jawab Julia gugup karena tiba-tiba ditanya, ia memilinkan jemarinya.
wajahnya memanas karena kaget.
Satria masih berdiri dan mengobrol dengan Pak Fatah, sedangkan Julia gelisah menunggu karena grab yang dipesannya tak kunjung datang.
__ADS_1
Satria melirik ke arah Julia yang sedang gelisah, ketika Pak Fatah menoleh ke arah Julia dan bertanya.
"Grabnya belum datang Julia? coba kamu pastikan lagi." tanya Pak Fatah yang juga gelisah.
Suara ponsel Pak Fatah berdering, sepertinya dari istri Pak Fatah, setelah berbicara di telpon, Pak Fatah berkata lagi pada Julia. "Julia Saya antarkan kamu saja ya? sekalian jalan pulang, kebetulan istri sudah menunggu." raut muka Pak Fatah gelisah, ia meraba tengkuknya.
Julia merasa tidak enak hati menyadari Pak Fatah yang gelisah.
"Tidak apa-apa pak, Saya tunggu grab disini, Pak Fatah duluan saja." jawab Julia tersenyum.
"Sudah kamu pulang saja Fatah, biar Saya dan Rico yang tunggu Nona Julia disini." potong Tn. Satria cepat.
"Whaaatttt?! hati Julia mencelos,,, ia gugup karena tak menyangka gara-gara menyelesaikan tugas, akan berakibat seperti ini. Julia sempat melirik Tn. Rico yang sempat terheran-heran kepada Bosnya.
"Ma-maaf Tuan Saya rasa tidak perlu, Sa-saya jadi merepotkan semuanya." jawab Julia tak enak hati.
Julia mengangkat ponselnya yang berbunyi, "Iya Halo met malam?" Jawab Julia.
"Ka maaf, ini dari grab, maaf karena menunggu lama, sekali lagi Saya minta maaf, karena tidak bisa mengantar kaka,,, Mobil Saya keban-nan, Saya masih dongkrak mobil untuk ganti ban, gimana ka? kalau menunggu Saya, nanti kaka kemalaman." tanya sopir grab kebingungan.
"Oh No,,,, " bathin Julia. " Oke Pak gak papa,,, saya cari grab yang lain ya? terima kasih pak." jawab Julia yang langsung panik. Ia memutuskan sambungan telpon, galau.
Tuan Satria yang menyadari wajah Julia yang menjadi pucat, dan langsung berkata." Udah Fatah kamu langsung pulang, biar Saya dan Rico yang mengantar Nona Julia pulang. Ayo Ric?" ajaknya pada Tuan Rico.
Saat Pak Fatah, Tuan Satria dan Tuan Rico hendak melangkah pergi, Julia dengan cepat berkata lagi. " Ti-tidak usah Tuan,,, biar Saya pulang sendiri, tidak apa-apa,,, sungguh." sekarang Julia merasa benar-benar tidak nyaman.
"Nona Julia! Ini perintah!! ayo jalan!!" cetus Tn. Satria tak sabar.
__ADS_1
Karena takut ditinggal sendiri, akhirnya dengan rasa serba salah, Julia melangkah juga mengikuti.
Pak Fatah melangkah tergesa ke mobilnya, begitupun dengan Tuan Satria dan Tuan Rico.
Tuan Rico membuka Pintu untuk Tuan Satria, lalu ia berpindah ke sisi kiri mobil, dan membukakan pintu untuk Julia, yang sudah berada di pintu depan mobil, Tuan Rico berkata." Nona Julia silahkan masuk disini." sambil menggaruk kepalanya.
Saat itu juga Julia rasanya mau pingsan! bagaimana tidak?! ia harus semobil dengan Tn. Satria dan duduk disebelahnya pula.
"Ya Allah,,, aku belum pernah se-nervouse ini!" bathin Julia.
Karena takut keadaan gedung yang sudah sepi, cuma sekuriti gedung saja yang terlihat, lantas ia berjalan juga ke arah yang ditunjuk Tuan Rico. Julia masuk ke dalam mobil, dan langsung menghempaskan pantatnya di jok mobil, tepat di sebelah Tuan Satria.
Julia melirik sekilas ke Tuan Satria, yang tampak diam memandang lurus ke depan.
Dag dig dug suara detak jantung Julia.
Julia duduk sambil menutupi roknya dengan tas, karena saat ia duduk, roknya naik, setengah paha mulusnya tersingkap.
Tn. Satria masih saja memandang ke depan. Julia benar-benar membuktikan kata-kata Santi, bahwa Tn. Satria adalah orang yang dingin dan kaku.
Tapi karena itu, Julia justru beruntung, Sang Tuan pasti tidak akan macam-macam, karena dulu di kotanya, banyak bos yang suka sekali menggoda anak buahnya, atau mencari daun muda diluaran. Saking banyaknya, ia sampai sering mendengar cerita si A dilabrak oleh istri dari bosnya. Apalagi Bos sebesar dan seganteng Tn. Satria, ia pasti memiliki banyak kekasih. Julia terkekeh dalam hati.
•
•
•
__ADS_1
( ............... )