Bukan Perempuan Pilihan

Bukan Perempuan Pilihan
CEMBURU


__ADS_3

☆☆☆


Julia terduduk lemas, ia tak menyangka Satria berada di depannya, dan sempat membuatnya ketakutan setengah mati, padahal hari baru saja jam empat sore, tapi serasa mencekam dengan kehadiran lelaki asing, yang ternyata adalah Satria. Pantas saja Aroma tubuhnya sangat ia hafal,,, aroma tubuh lelaki yang ia rindukan.


"Jadi kamu ke jogja karena kencan dengan laki-laki dari masa lalumu Julia? hmm? kenapa kamu beralasan dengan resign dari pekerjaan?" tanya Satria mengintimidasi.


"Apa maksudmu sebenarnya Mas?" tanya Julia masih lemas.


"Tidak perlu berpura-pura! aku kecewa padamu Julia! Sangat kecewa!!" ucap Satria menghujat.


"Kenapa?! kamu cemburu Mas?! ucap Julia sinis.


"Cemburu?! untuk apa aku cemburu?! Aku cuma kecewa kamu bohongi! Aku tidak menyangka kamu serendah itu Julia!" hardik Satria merasa gemas.


"Oh kalau tidak cemburu, untuk apa Mas mengikutiku?! untuk apa?! bukankah semua ini sudah berakhir? aku resign dari kantor, itu hakku kan?! ucap Julia kasar.


"Sekarang tolong tinggalkan aku, ini hotel, aku tidak ingin bikin keributan disini Mas! please,,,,, ?!" ucap Julia memohon, hatinya begitu perih dengan hujatan demi hujatan Satria yang ditujukan padanya.


"Tidak! aku ingin mengajakmu keluar sekarang! kalau kamu tidak mau? aku akan memaksamu!" ucap Satria keras kepala.


"Untuk apa Mas ajak aku keluar?! aku tidak mau!" jawab Julia tak mau kalah.


"Oke,,,, kalau kamu tidak mau, aku akan buat keributan! bukanya kamu tadi bilang ini di hotel? dan kamu tidak mau ribut?!" Satria terus mengintimidasi Julia.


Julia tidak berkata apa-apa lagi, ia hanya menurut mengikuti keinginan Satria, yah,,, ia memang tidak pernah bisa menolak keinginan Bosnya ini. Ini betul-betul absurd buatnya, pikirnya gemas!


***


Satria sudah menstarter mobil yang ia sewa dari pihak hotel, ia melajukan mobil sekencang-kencangnya, sama persis dengan Julia waktu ia mengendarai mobil ke rumah Nenek. Julia cuma diam,,,, hanya rasa takut di dalam hatinya, jantungnya berdegup kencang.


"Kita mau kemana Mas?!" tanya Julia.


"Ke Parangtritis!!" jawab Satria ketus.


"Untuk apa kita kesana?!" tanya Julia terkejut.


"Kenapa memangnya? aneh?!" sahut Satria dingin.


Kenapa sesulit ini berbicara dengan Bosnya ini, Satria keterlaluan, kadang ia bersikap dingin, kadang manis, kadang lembut, tapi kadang pula ia sangat kasar dan mendominasi.


Air mata Julia bercucuran sepanjang jalan, ia tak ingin berbicara dengan Satria, karena hatinya sudah lelah untuk bicara.

__ADS_1


Suara adzan magrib sayup-sayup terdengar, ketika mereka sampai di pantai Parangtritis. Julia pamit untuk sholat magrib di sebuah Masjid terdekat. Satria mengikutinya, sebenarnya ia merasa tak tega pada Julia, saat melihat gadisnya itu menangis. Tapi Satria terbakar oleh api cemburu, melihat Julia tadi siang bersama laki-laki teman kuliahnya. Ia mendengar semua cerita tentangnya dengan hati panas. Hatinya sekarang agak lebih dingin setelah sholat magrib bersama Julia.


Setelah sholat, Satria mengajak Julia untuk makan malam, tapi Julia menolaknya, ia benar-benar marah pada Satria.


Julia berjalan di pasir pantai parangtritis, dan kemudian duduk menikmati suasana malam disana, ia tidak berpikir apapun, cuma satu keinginannya menikmati hangatnya pasir pantai di malam hari. Satria memandanginya dengan penuh selidik, tapi ia ikut saja duduk di samping Julia,,,,


"Julia, seberapa banyak kenanganmu bersama laki-laki itu?" tanya Satria mengejutkan lamunan Julia.


"Kenapa kamu ingin tahu?" jawab Julia sekenanya. Satria mengernyitkan kening, ia tak menyangka Julia bereaksi seperti itu.


"Hmmm,,, lalu seperti apa ia menciummu waktu itu?" tanya Satria lembut, kata-katanya mengandung pancingan.


Julia diam saja. Pikirannya penuh tanda tanya.


"Memangnya kapan Herdi menciumku?" gumam Julia agak terdengar.


"Oh,,, jadi Herdi namanya? hmmhhh,,,!" ejek Satria.


Keduanya sontak sama-sama terdiam, dengan pikiran mereka masing-masing.


Ponsel Julia berdering, Julia mencari arah suara ponselnya, karena ia tersadar ponselnya tidak ditangannya. Dan Satria tiba-tiba menyerahkan ponsel Julia.


Julia langsung mengambilnya dengan kasar. Satria terkekeh mencibir.


"Assalamu"alaikum Her,,,? Ada apa menelpon?" sapa Julia ramah, ia sengaja menjawabnya dengan antusias. Tak lupa ia meloudspeaker pembicaraan.


"Walaikumsalam,,, maaf ganggu. Kamu udah makan malam Julia? tadi Riza ke hotel, tapi kamu tidak disana?" tanya Herdi.


"Hmm Riza?" Julia teringat, Riza janji akan menemuinya lagi selepas kerja.


"Iya Riza,,, nih aku sama Riza sekarang, kamu dimana? kalau bisa, kita makan malam bareng?" tanya Herdi lembut.


Dilihatnya daritadi Satria mencibir setiap omongan Herdi di seberang sana. Bibirnya ia monyongkan sejelek-jeleknya, hingga Julia merasa keki, dan tertawa dalam hati.


"Emm aku ga bisa Her, maaf,,,, karena aku ada urusan sebentar. Lain kali aja ya?" jawab Julia lembut dan merdu merayu.


"Memang kamu ada urusan apa? sama siapa kalau boleh tahu? coba kamu bilang tadi, aku siap kok nganter kamu?" tanya Herdi terkekeh.


Satria mencibir lagi,,,, sambil pura-pura tak melihat Julia.


"Ehm,,, aku sama supir!! aku lagi nemuin orang buat urusan bisnis. Aduuuhhh sebel banget aku tuh sama supirnya! bisa-bisanya dia bawa aku ngebut!!!" ucap Julia terbahak. "Gila aja kan? gini-gini aku juga pengin kawin kan?!" Julia tertawa lagi, kali ini lebih keras.

__ADS_1


Dan Satriapun melototi Julia dengan sadis. Bathin Julia bersorak menang.


Tep,,, ponsel mati, hubungan telpon terputus, dengan sangat tidak sopan Satria memutuskan telpon.


"Apaan siihhh? main matiin aja?!" protes Julia ketus.


"Telpon ga penting! ngapain juga?! lagian kok bisa kamu sebut aku supir?!" jawab Satria cuek.


Julia menarik nafas panjang,,, sepertinya percuma berbicara dengan orang di sebelahnya ini, Julia meraup pasir pantai, ia benamkan kedua kakinya dalam pasir. Satria yang melihatnya asyik, akhirnya mengikuti Julia bermain pasir.


"Julia,,,, kamu tidak lapar?" tanya Satria lembut.


"Hmm ya,,,, sebenarnya aku lapar, tapi aku malas kalau harus ditemani orang yang menyebalkan sepertimu Mas!" sahut Julia tergelak.


"Menyebalkan katamu?!" tanya Satria bersungut-sungut.


"Iyyaaaaa!!! menyebalkan!" sahut Julia gemas.


"Oh iya menyenangkan itu? kalau kamu bersama Herdi, pasti dulu kamu bermain pasir bersamanya, dan kalian berpacaran disini kan? udara disini dingin Julia! asyik buat pacaran!" ucap Satria yang kembali sinis.


Rasanya Julia ingin berteriak sekencang-kencangnya dan tak peduli orang mau ngomong apa. Ia benar-benar kesal dibuat Satria.


Air mata kembali tumpah dari sudut matanya. Satria yang melihat Julia menangis, meraih tangan Julia untuk berdiri, dan membawanya kembali ke mobil, Julia menurut. Satria membukakan pintu mobil dan membiarkan Julia masuk. Di dalam mobil tangis Julia betul-betul meledak, Satria merasa iba, tapi ia biarkan Julia tetap menangis, dan mendekap Julia kedalam pelukannya.


"Julia,,, berhentilah menangis, aku tak sanggup melihatmu seperti ini." ucap Satria lembut.


"Aku tahu, aku sangat kasar padamu! tapi itu karena aku,,,,?" kata-kata Satria terhenti.


"Aku mencintaimu Julia!" ucap Satria mengerang.


Ia memandang kearah Julia,,,,


"OMG gadis ini malah tertidur,,,,,?!" Satria mendengus. Ia tertawa kecil, menertawai kebodohannya.


💖


💖


💖


( Waduuhhh tiap episode sekarang penuh cinta, menggambarkan perasaan Julia dan Satria tentunya,,,, 💖💖💖, tunggu aja kelanjutan ceritanya!! )

__ADS_1


__ADS_2