
Pramuji sudah tiba di RS International di Jakarta. Jaraknya cukup jauh sehingga memakan waktu 1.5 jam dan untungnya kendaraan tidak terlalu padat sehingga mereka bisa tiba di RS dengan cepat. Pramuji membawa Robert yang menggigil karena kedinginan. Walau pakaiannya sudah diganti sejak tadi namun Robert tetap merasa kedinginan. Robert dibawa ke ruang IGD. Dokter menanganinya dengan cepat. Pramuji duduk di kursi tunggu dengan perasaan yang sangat cemas. Alex yang melihat sang bos berduka seperti itu langsung mendekatinya.
"Bos apakah aku diijinkan menelepon tuan Nick? "
"Jangan Lex, dia akan datang kemari dengan sendirinya, semoga saja tidak terlambat. " Pramuji menghela napasnya dengan kasar.
Setelah setengah jam pintu IGD terbuka, muncul seorang perawat memanggil Pramuji.
"Tuan, mengapa pasien ini tidak dibawa ke RS sebelumnya, kondisinya sedang kristis"
"Saya tahu nona, tapi dia sendiri keluar dari RS sehingga jadi seperti ini. Apakah dia bisa sembuh? " Tanya Pramuji.
"Anda bisa bicara dengan dokter setelah ini, pasien akan kami pindahkan ke ruang ICU, kondisinya begitu lemah."
"Baik nona terimakasih." Pramuji masuk ke ruang dokter yang sudah diarahkan perawat tadi.
"Permisi dokter." Pramuji masuk ke dalam ruangan dokter yang bersebelahan dengan ruang UGD.
"Ya tuan silahkan masuk." Ucap seorang dokter pria setengah baya yang sedang membaca beberapa berkas ditangannya.
"Pak dokter maaf kan saya, apakah keluarga saya ini bisa sembuh? bagaimana kondisi nya dokter? "
"Tuan, pasien ini menderita kanker hati stadium akhir, dalam beberapa bulan ini sepertinya tidak ada perawatan sehingga kondisinya semakin buruk."
"Kami juga baru tahu kemaren, selama ini Robert tinggal di London tuan." Jawab Pramuji apa adanya.
"Pasien kami pindahkan ke ruang ICU, saat ini operasi sekalipun tidak bisa menjamin kesembuhannya namun kami akan mengupayakannya semaksimal mungkin, bantu kami dengan doa. Oh ya tuan tolong tanda tangani berkas yang akan diberikan staff admin RS."
"Baik dokter, saya permisi."
Pramuji keluar dari ruangan dokter dengan kepala yang benar-benar sakit. Pramuji memijit kepalanya.
"Lex, kau pergi ikut perawat ke ruang ICU, tuan Robert akan dipindahkan ke sana, kau berjaga diluar ruangan. Aku mau ke admin ada yang harus aku selesaikan." Ucap Pramuji.
__ADS_1
"Baik tuan." Alex pergi bersana perawat membawa Robert ke lt 8 menuju ruang ICU. Robert berbaring lemah dalam kondisi setengah sadar.
"Nick... "Dengan suara lemah Robert bertanya ke Alex.
"Tuan Nick belum datang tuan, sabarlah dia pasti kemari."
"Queen...? " Robert bertanya kembali.
"Nyonya Queen juga belum sampai tuan." Jawab Alex sopan.
Pintu lift terbuka, mereka telah sampai di lantai 8 lalu keluar lift menuju ruang ICU.
"Tuan anda bisa menunggu di luar, kami akan memanggil anda jika ada yang kami perlukan. Kami akan melakukan perawatan terhadap pasien." Ucap salah satu perawat ke Alex.
"Baik nona, terimakasih."
Alex duduk dikursi menunggu dengan cemas, namun tiba-tiba seorang dokter masuk sambil berlari ke dalam ruangan ICU. Alex semakin cemas melihat suasana ruang ICU dari kaca pintu yang tidak terlalu jelas. Tampak disana para perawat sedang menangani Robert, memasang alat-alat medis elektrik, selang infus dll. Tak berapa lama keluar seorang dokter dari dalam ruangan bersamaan dengan itu Pramujipun sampai di sana.
"Ada apa dokter?" Tanya Pramuji cemas.
"Baik dokter ka.... " Belum sempat Pramuji melanjutkan ucapannya tiba-tiba ada suara dari belakangnya menyahut.
"Saya anaknya dokter... "
Pramuji membalikan tubuhnya ke belakang dan tampak Nick juga Queen disana serta Rianti.
"Nick... kau... " Pramuji tak dapat bicara apa-apa lagi saat ini dia merasa samgat lega karena Nick sudaj hadir.
"Tuan sebaiknya anda masuk ke dalam, mari ikut saya." Ucap dokter ke Nick yang langsung diikuti oleh Nick.
Didalam ruangan Nick sudah memakai pakaian steril ruangan ICU dengan masker, lalu menghampiri Robert di bed yang tubuhnya penuh alat-alat medis. Nick menatap Robert dengan tatapan sedih, benci entahlah perasaannya campur aduk saat ini.
"Son kau datang... " Suara lirih Robert dengan wajah berseri menatap Nick.
__ADS_1
"Hmm... yah.. kau kenapa seperti ini? kau hanya berenang sebentar." Nick masih menatap Robert dengan rasa yang bercampur aduk, ada amarah disana.
"Aku sudah tua berenang sebentar bisa membuat aku sakit."
"Tapi tidak seperti ini, ada apa denganmu di London? Mengapa kau sakit? "
"Son aku tahu tidak pantas kau maafkan. Aku penyebab kau membunuh orang tua Queen yang sekarang menjadi isteri juga ibu anak-anakmu, cucu-cucuku. Aku... tak pantas mendapat maaf dari mu. Aku juga tak pantas meminta apapun kepadamu."
Robert mulai meneteskan air matanya.
Nick hanya diam, tanpa kata-kata. Nick sadar bahwa pria dihadapannya ini sudah mendapat hukuman dari Tuhan atas semua dosanya tapi apa yang harus dia lalukan sekarang, karena sesungguhnya Nick membencinya.
"Daddy.... kau harus sehat jika kau ingin bersama cucu-cucumu... " dengan suara berat Nick akhirnya bersuara.
"Oh son kau memanggilku apa son,,?" Robert tak kuasa menahan tangisnya, dia menangis dan langsung dipeluk oleh Nick dengan isak tangis yang ditahan sejak tadi.
"Daddy... " Nick mengulang ucapannya ke Robert disela isak tangisnya. Robert memeluk Nick dengan perasaan bahagia namun tiba-tiba pegangan tangannya melemah dan semakin melemah. Nick melepas pelukannya lalu memanggil dokter.
"Dokter apa yang terjadi mengapa dia diam saja, dokter ada apa dengan daddy ku? Daddy... daddy.... teriak Nick yang begitu panik melihat tubuh Robert yang tidak bergerak lagi. Dokter juga para perawat datang menghampiri Robert.
"Tuan minggir lah, biar kami tangani." Dokter mulai memeriksa Robert. Detak jantungnya di monitor mulai melemah hingga akhirnya berhenti.
"Masf tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Beliau sudah pergi tuan, maaf." Ucap sang dokter dengan wajah bersedih lalu memerintahkan kepada perawat untuk membersihkan jenazahnya.
"Oh God... daddy... daddy aku sudah maafkanmu, tolong kembalilah daddy. Bahkan kau belum sempat bermain dengan cucu-cucumu, daddy please don't go, please come back. Daddy.... " Nick menangis histeris, betapa hancur hatinya, menyesal sudah pasti. Tapi apa lagi yang harus dilakukannya, Robert sudah pergi untuk selamanya.
Robert seorang pria paruh baya, Raja dunia hitam yang karena dendam membuat hidup anaknya berantakan, dibenci oleh wanita yang dia cinta. Karena dendam juga membuat hidupnya sendiri hancur. Robert kehilangan banyak hal namun saat menjelang akhir hayatnya dia bisa membuat hal baik dengan menyelamatkan cucunya hingga dimaafkan oleh anaknya. Robert pergi dengan senyuman dibibirnya penuh kebahagiaan.
****
...Bersambung......
...Terimakasih atas dukungannya ya guys...
__ADS_1
...Love you so much....