
Pramuji disetiap kesempatan selalu mencoba memberikan nasehat untuk Jade juga Dirga berharap mereka berdua bisa berbaikan. Pramuji sendiri tidak tahu jelas apa akar dari permasalahan mereka, seingat Pramuji hanya karena Dirga seorang pengusaha muda, sang junior yang sukses hanya kurun waktu 3 tahun, apalagi dunia mafia yang juga membalutinya menjadi sangat mudah bagi Dirga untuk cepat melejit. Beda halnya dengan Jade, berawal dari nol hingga 10 tahun baru bisa seperti saat ini. Usaha yang meroket, itupun karena bantuan Pramuji sebagai mitra, sahabat serta keluarganya. Jade sangat marah saat proyek nya dikalahkan oleh Dirga padahal semua dilalui dengan cara yang fair.
"Jade mari aku antarkan kau ke Rumah Sakit." Ucap Pramuji sedikit memaksa.
"Untuk apa, aku sudah sehat." Jawab Jade acuh tak acuh.
"Ayolah, kau selalu saja membantah." Pramuji menarik tangan Jade membawanya menuju mobil layaknya anak kecil yang ditarik paksa ayahnya.
"Hey Pram apa-apaan kau ini. " Jade berusaha melepas tangannya.
Pramuji mendudukan Jade di kursi depan mobilnya, lalu menyetir menuju Rumah Sakit.
"Tuan Jade, kau harus banyak istirahat, sakitmu ini serius. " Dokter menasehati Jade saat sudah selesai melakukan pemeriksaan.
"Aku tidak apa-apa, tenanglah dokter. "
Tiba-tiba handphone Pramuji berdering, Pramuji keluar ruangan untuk menerima telepon tersebut.
"Sorry Jade, aku terima panggilan ini dulu."
Setelah selesai menelepon, Pramuji masuk kembali ke ruangan dokter menemui Jade.
"Jade sorry aku harus ke perusahaan, ada sedikit masalah. Aku akan menelepon Robert untuk menjemputmu oke." Pramuji lalu menelepon Robert.
"Hallo Robert, segera ke RS jemput tuan Jade, aku ada urusan ke perusahaan, tolong jaga dia oke. Aku mempercayaimu."
"Oke tuan baik, saya segera kesana."
Ucap Robert sopan.
Pramuji segera pergi menuju perusahaan meninggalkan Jade di RS bersama sang dokter.
__ADS_1
Tak lama Robert datang menjemput Jade di RS.
"Tuan Jade." Sapa Robert sopan.
"Kau sudah datang? antar aku ke apartemen, aku ingin istirahat. " Jade keliatan begitu lemah.
"Tuan apakah anda baik-baik saja? "
"Dokter bilang aku hanya perlu istirahat dan minum obat, jika aku mematuhi semua yang disuruh dokter aku pasti baik-baik saja." Jade mencoba meyakinkan asistennya ini.
"Baiklah tuan."
Mereka sudah di dalam mobil, Jade merebahkan tubuhnya di jok yang sudah di set ke belakang sehingga dia bisa tidur sejenak.
"Tidurlah tuan, sebentar lagi anda akan tidur selamanya. " Batin Robert yang tersenyum smirk melihat Jade dari kaca spion mobil.
Mobil sampai di apartemen Jade, karena sedikit lemah Robert membopongnya masuk ke dalam.
"Aku ingin di sofa ini sejenak, aku ingin istirahat." Ucap Jade melemah.
Namun diluar dugaan Robert menghempas tubuh Jade yang melemah itu ke sofa.
"Hey Robert ada apa denganmu hah! " Hardik Jade marah.
"Aku baik-baik saja tuan, disini yang tidak baik itu adalah anda tuan Jade Andersen."
"Mengapa kau seperti ini? " Jade sangat heran dengan perubahan sikap Robert.
"Aku lelah kalian perintah! aku menjalani semua pekerjaan kalian, mengawasi semua usaha kalian, aku bekerja siang malam membantu kalian. hampir delapan tahun aku bersama mu tuan, dan lihatlah sahabatmu sombongmu itu yang memerintahku untuk mengurusmu, kalian pikir aku ini apa hah!? Jade semakin heran melihat perubahan sikap asisten kepercayaannya yang sangat dia andalkan selama ini. Jade mencoba berdiri namun tubuhnya tidak cukup kuat untuk itu.
"Kau ingin menyerangku Algadra Blue? Hahaha seorang Raja Mafia berbaring lemah sekarang. "
__ADS_1
Jade melihat kanan kiri, mencoba meraih handphone nya tapi ternyata handphonenya tak ada, kemungkinan tertinggal di RS karena saat pemeriksaan handphonenya dia letakan di meja dokter.
"Ambilkan obatku, aku akan memaafkanmu, aku akan melupakan semua ini, Akan aku berikan semua yang kau inginkan. "
"Oh kau pikir ini tentang uang hah? kau memililiki segalanya bukan, jika aku mau aku bisa mengambil semuanya dari kalian secara diam-diam. Tapi aku tidak butuh itu tuan? Aku butuh dihargai sebagai manusia. Paham? 24 jam aku membantu kalian, siang malam tapi kalian berdua dengan sombongnya memperlakukan aku seperti pelayan rendahan." Robert mendekat ke arah Jade yang memegang dadanya, seperi orang yang menahan sakit.
"Satu hal lagi tuan, isterimu itu nona Rianti adalah kekasihku sebelum kau membawanya ke London. Kami satu kantor saat itu di Jakarta, hubungan kami baik-baik saja hingga kau datang menikahinya lalu membawanya. Sejak itu duniaku hancur, lalu aku bersumpah akan merebutnya dari mu. Akhirnya aku menyusul kalian ke London berharap bisa bertemu orang yang kucintai, tapi begitu aku berjumpa dengannya, dia menolak ku karena dia sudah mencintaimu, cintanya padaku sudah lenyap. Aku melihat dia sedang hamil, saat itu aku yakin bahwa itu adalah anakku. Namun sayang dia tak mengakuinya. Tapi aku yakin itu anakku."
"Apa... ah.... ?" Jade menahan dadanya yang semakin sakit.
"Jangan katakan kebohongan baji**an."
"Kau menyembunyikan keluargamu begitu rapi sehingga aku juga semua musuh-musuhmu tak ada yang tahu keberadaannya, bahkan Pramuji sekalipun. Tapi aku pasti menemukannya." Robert lalu duduk di depan Jade, sambil menuang minuman ke dalam gelas.
"Aku mencari tahu tentangmu, menyelidiki setiap aktifitasmu, hingga akhirnya takdir mempertemukan kita, aku datang sebagai penyelamatmu saat sekelompok mafia menyerangmu waktu itu, apa kau masih ingat? kau mempekerjakan aku sampai sekarang seperti yang aku rencanakan. Yah semua ini adalah rencanaku." Robert tertawa keras.
"Kau...! " Jade semakin lemah.
"Oh dadamu sakit hahaha, itu sangat baik. Jadi aku tak perlu repot mengotori tangan ku ini."
"Kau tau tuan, cctc apartemenmu sudah kumatikan, jadi sudah tentu aku tidak akan meninggalkan jejak, saat kau mati nanti maka penyebab kematianmu itu adalah karena serangan jantung hahaha... kau yang mengajariku bukan?"
"Kurang ajar kau.... " Jade mencoba bangkit tapi kepalanya sangat pusing saat ini, mendengar informasi yang membuat jantungnya seperti hendak melompat keluar. Jade tak menyangka kebenaran yang diungkapkan sang asistennya ini, yang membuatnya semakin sakit saat mendengar anaknya itu bukanlah ananknya. Tubuh jade semakin melemah. Jade tak bisa berbuat apa-apa tiba-tiba pandangannya gelap, semakin gelap, tubuhnya rubuh ke sofa dan tak sadarkan diri.
******
...Happy Sunday guys!...
...Terimakasih atas dukungannya....
...Love you so much ππ...
__ADS_1