
"Mom apakah kau baik-baik saja? " Tanya seorang gadis muda kepada wanita misterius itu yang baru saja turun dari kapal pesiarnya.
"Its ok". Jawab wanita misterius itu yang tidak lain adalah ibu dari wanita muda yang bertanya tersebut.
****
Sementara Earl sudah berada di pelabuhan lalu mencoba mencari informasi mengenai keberadaan sang mommy.
"Tuan, nyonya besar Queen sudah pergi dengan kapal cepat yang di sewa punya orang yang disana itu". Sambil menunjuk ke arah seseorang yang sedang memperhatikan mereka.
"Semua kapal cepat hari ini sudah beroperasi semua, apa yang akan kita lakukan tuan? " Tanya anak buahnya.
"Shiit...".
"Tapi tuan diseberang sana hanya ada 1 pulau kecil yang sepertinya mereka ke sana dan kita bisa menggunakan helikopter tuan".
"Hmm...mengapa tak terpikir olehku, kau benar. Ayo semua berangkat, kita keseberang dengan helikopter walau malam sekalipun kita tetap menyusul mommy". Ucap Earl yang langsung pergi masuk ke dalam mobil. Orang-orang disekitar pelabuhan melihat ke arah mereka dengan pandangan yang heran karena tingkah mereka sejak tadi sangat menarik perhatian mereka semua di pelabuhan sore ini, mengapa tidak, seorang pemuda tampan yang dikelilingi 5 orang berpakaian serba hitam berkeliling sekitar dermaga seakan sedang mencari sesuatu.
****
Sementara itu Queen akhirnya sampai di suatu pulau terpencil yang menurut perkiraannya wanita misterius itu sudah berada disana sejak tadi. Namun sampai saat ini Queen masih menebak-nebak siapa wanita misterius yang menjadi penyebab kritisnya Abigail, yang membuat keluarganya berduka, padahal seingatnya dia tidak pernah berbuat jahat kepada orang lain bahkan hampir tak punya musuh sama sekali. Queen menatap kosong ke depan saat di dalam perjalanan mengendarai mobil rental yang mereka dapat di pelabuhan saat berlabuh beberapa menit yang lalu.
"Nyonya besar maafkan saya, kita bahkan tidak tahu arah mana yang harus kita tuju saat ini? " Tanya salah satu anak buahnya.
"Hmm.., kita kehilangan jejaknya tapi pulau ini kecil, kita pasti bisa menemukannya. Cari pemukiman warga atau mungkin penginapan jika ada. Sepertinya hari mulai senja dan kita tidak bisa menyisir pulau dalam keadaan gelap, sebaiknya kita istirahat dan besok kita akan mencari pra bajingan itu". Jawab Queen datar.
__ADS_1
"Baik bos". Jawab para anak buahnya serempak.
****
Di RS semua orang sedang berduka karena nyawa Abigail tidak dapat tertolong, Abigail meninggal karena kehilangan banyak darah akibat luka tembak yang sangat lama tidak mendapatkan pertolongan. Nick dan Ziddan membawa jasad Abigail pulang ke mansion Ziddan dengan penuh kesedihan. Semua orang disana berduka, tak terkecuali para anak buah Ziddan dan Nick. Para anak buah mereka sudah berkumpul di mansion, sebagian dari mereka sedang menyiapkan segala keperluan untuk upacara pemakaman besok pagi. Banyak penjagaan di luar mansion dengan berseragam serba hitam, para tamu melayat pun hadir disana dengan penjagaan sangat ketat. Hampir semua rekan bisnis Ziddan hadir, kerabat dan rekan seprofesi Abigail semua merasakan duka mendalam atas kepergian Abigail dengan cara yang sangat memilukan, bahkan sekelompok mafia relasi Nick menawarkan bantuan untuk menangkap pembunuh Abigail.
Di ruangan yang luas itu Jasad Abigail sudah berada di dalam peti, diletakkan di tengah-tengah ruangan, tidak jauh dari peti jenazah itu ada kursi berjejer disana duduk Ziddan dan Nick juga beberapa orang kerabat dekat, diantaranya papa dan mama Abigail. Lalu dibelakang mereka terdapat kursi yang diperuntukan bagi tamu yang hadir.
Seorang pria datang ke tengah-tengah ruangan lalu duduk disebelah Nick berbisik pelan.
"Tuan Nick, kami semua turut berduka atas meninggalnya nyonya Abigail. Jika dibutuhkan kami akan bersedia dengan senang hati membantu anda tuan, untuk menangkap para pembunuh itu". Ucapnya dengan suara yang penuh duka.
"Oh tuan terimakasih, akan kami pertimbangkan nanti, terimakasih". Jawab Nick sopan. Pria itu lalu menyalami Nick dan juga Ziddan kemudian keluar meninggalkan ruangan. Disusul oleh para tamu yang lain mereka bergantian menyalami Ziddan dan Nick hingga tinggal kerabat dekat saja yang masih tersisa.
"Nick apa tidak sebaiknya kita menunggu Queen baru memakamkan Abigail? " Tanya Ziddan yang saat ini berusaha untuk kuat dan menerima kenyataan pahit ini.
Para kerabat kini berkumpul bersama Ziddan di ruang tengah, mereka membahas untuk acara pemakaman besok pagi. Ziddan mempercayakan semua untuk acara tersebut kepada keluarga Abigail karena aesungguhnya dia begitu lelah dan yang paling dibutuhkannya adalah istirahat.
"Zid, makanlah sesuatu lalu istirahatlah". Ucap papa Abigail yang sangat tabah walau kehilangan putri satu-satunya itu.
"Iya papa dont worry, tapi bagaimana dengan Maira? bagaimana kita memberitahukannya? bagaimana perasaannya? ". Ziddan meneteskan air mata kepedihan saat membayangkan keadaan putrinya itu jika mengetahui mommy nya telah pergi untuk selamanya.
"Maafkan mama sayang, mama sudah memberitahu Maira dan kini Maira sedang dalam perjalanan kemari bersama Dev". Ucap mama Abigail disela-sela tangisnya.
"Tak apa mah, cepat atau lambat Maira harus tahu, semoga saja dia bisa tabah". Jawab Ziddan lalu meminta ijin untuk masuk ke kamarnya.
__ADS_1
***
Di dalam pesawat jet pribadi keluarga Nick, tampak Maira dengan mata sembabnya yang baru saja berhenti menangis tidur terlelap disamping Dev dengan menyandarkan kepalanya dibahu Dev. Dev begitu iba dengan kondisi Maira saay ini. Dev seakan merasakan apa yang Maira rasakan, kehilangan seorang sosok ibu yang sempurna apalah artinya hidup ini, tanpa disadari air matanya jatuh menetes membasahi pipinya. Dev tersadar saat Maira bergerak, dengan cepat Dev menghapus air matanya.
"Ada apa Maira? apa yang kau butuhkan, aku akan mengambilkannya untukmu". Tanya Dev lembut.
Maira mengambil tisyu lalu mengelap sisa air mata dipipinya berusaha untuk tegar walau hatinya saat ini begitu rapuh.
"No Dev, thank you. Aku hanya ingin cepat melihat jasad mommy untuk terakhir kalinya". Ucap Maira lirih.
"Aku akan membalaskan dendam mu Maira, akan ku cari para bajingan itu dan akan ku hancurkan mereka semua".
"No Dev, please don't do that... dendam hanya akan membawa kehancuran bagi diri kita dan orang banyak, ini sudah menjadi takdir bagi ku. Tuhan mengambil mommy karena mommy itu orang yang baik, sebagai anak aku harus bangga karena Tuhan menyayangi mommy walau caranya membuat aku sangat sedih tapi aku yakin semua ini adalah yang terbaik. Jangan ada dendam Dev, please don't. Aku tahu kau akan sangat mampu melakukan apapun, aku juga yakin kau sangat mampu mengatasi masalah data perusahaan yang di hack, itu masalah kecil buatmu. Hanya saja kau pura-pura tidak paham sehingga membuat daddy ku cemas lalu memintaku membantumu".
Dev terkejut akan ucapan Maira, sehingga wajahnya menjadi memerah, karena modus nya diketahui oleh wanita yang sangat dicintainya yang berada tepat disebelahnya ini. Walau Dev tidak pernah mengutarakan isi hatinya. Dev hanya teridiam menatap Maira yang terus berbicara dengan kalimat yang bijaksana.
"Aku tahu Dev, tapi untuk kali ini jangan kau melakukan hal yang tidak aku inginkan, jangan melakukan balas dendam, aku ikhlas Dev, walau menyakitkan tapi aku ikhlas". Maira memegang tangan Dev dengan kedua tangannya.
"Berjanjilah, demi aku jangan ada dendam kepada siapapun pembunuh mommy ku".
"Maira.. aku... akan mencoba sebisa mungkin tapi saat ini kau harus menenangkan dirimu, penerbangan ini masih sangat panjang, istirahatlah". Dev membalas pegangan tangan Maira lalu membawa Maira ke dalam dekapannya.
***
...Bersambung...
__ADS_1
...Mohon dukungannya ya guys...
...Love you so much...