
"Shiit, mengapa kau begitu ceroboh huh!! mengatasi hal kecil seperti ini saja kau tak bisa, sekarang kita akan semakin sulit memusnahkan algadra". Wanita paruh baya itu terus mengomeli anak buahnya, lalu dengan penuh emosi dia menampar anak buahnya yang mengakibatkan Abigail tertembak.
"Kalian cepat singkirkan dia, masukan ke dalam mobil, buang ke jurang". Titah sang bos.
"Siap bos". Semua anak buahnya bergerak dengan cepat membawa tubuh Abigail yang berlumuran darah lunglai tak bergerak sama sekali masuk ke dalam mobil lalu memepatkannya di kursi belakang. Mereka menidurkannya di sana, dan menutup mobil itu dengan cepat, namun tak berapa lama datang iring-iringan mobil anak buah yang lain dari wanita paruh baya itu. Mobil itu berhenti, lalu turunlah beberapa orang pria dari mobil jeep menghampiri sang bos.
"Bos kami membawa bos algadra dan isterinya". Ucap salah satu anak buahnya kepada sang bos yang sejak tadi sudah berada di luar untuk memastikan Abigail masuk ke dalam mobil untuk di terjunkan ke jurang.
"Apakah mereka sudah siuman? ". Tanya sang bos ke anak buahnya
"belum bos".
"Keluarkan dan ikat mereka jangan sampai kabur". Titah sang bos dengan wajah penuh kemenanga.
Dengan cepat dua orang anak buahnya mengeluarkan Nick juga Queen yang masih dalam kondisi tidur, mereka membopong keduanya keluar dari mobil, keduanya di letakan di lantai tanpa curiga sama sekali sementara yang lain mengambil tali untuk mengikat mereka, namun diluar dugaan Nick dan Queen bangkit lalu dengan gerakan sangat cepat bahkan mereka semua yang ada di lokasi itu sama sekali tidak menduga akan terjadi hal seperti itu. Nick menembaki semua orang disana dengan senjata api yang sejak tadi disembunyikan di kakinya, sementara Queen melakukan hal yang sama. Semua orang berhamburan, wanita paruh baya itu mengeluarkan senjatanya lalu membalas tembakan ke arah Nick dan Queen sementara para anak buahnya semakin terdesak karena tadi sempat lengah, namun senjata Nick berhasil ditendang oleh salah seorang anak buah wanita paruh baya itu, lalu menodongkan senjata ke kepala Nick, sementara wanita paruh baya itu pergi kabur bersama supirnya meninggalkan tiga orang anak buahnya yang tersisa dari penyerangan Nick dan Queen. Pria itu menyandera Nick dengan senjata api nya. Queen mulai menghentikan aksinya karena melihat suaminya ditodongkan senjata namun tiba-tiba suara tembakan terdengar dari arah belakang pria yang menyandera Nick. Seseorang menembakan besi panas ke arah pria itu tepat mengenai kepalanya yang langsung merubuhkannya ke lantai, secepat kilat Nick mengambil senjata api yang tergeletak dilantai lalu menembak dua orang yang tersisa dari para anak buah wanita paruh baya itu. Sementara Queen melihat ke arah seseorang itu dan alangkah sangat terkejut karena putranya yang pamit pulang ke Jakarta malah masih di London.
"Maaf daddy mommy aku telat". Earl menghampiri Nick dan juga Queen.
"Dasar kau keras kepala". Ucap Queen sambil tersenyum memeluk Earl dengan hangat.
"Hey, itu mobil Abigail". Teriak Nick, semua menoleh ke arah mobil yang ditunjuk oleh Nick, mereka mendekati mobil itu dan melihat tubuh Abigail disana tergeletak bersimbah darah.
"Oh God Abigail, oh no Abigail". Teriak Queen seraya masuk ke dalam mobil dan meletakan kepala Abigail di pahanya, sambil menangis terisak.
__ADS_1
"Daddy biar aku yang nyetir". Earl panik lalu membawa mobil menuju RS secepat kilat bersama Queen. Saat Nick akan menyusul dengan mobil bugatti nya, Iringan mobil algadra yang dipimpin Ziddan pun tiba.
"Oh God bos, kau selamat. Syukurlah". Ziddan keluar mobil lalu memeluk Nick".
"Ada apa? dimana musuh-musuh kita? dan mengapa kau menangis? mengapa kau sendiri? dimana Queen?" Ziddan melontarkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Nick. Nick mengusap air matanya seraya berkata dengan lirih.
"Queen ke RS bersama Earl".
"What? ada apa? Apa yang terjadi dengan mereka? " Tanya Ziddan semakin cemas.
"Ayo kita cepat ke RS, ikutlah aku". Jawab Nick dengan suara tertahan.
"Kalian semua ikut ke RS". Titah Nick kepada semua anak buahnya.
"Siap bos". Anak buah Nick menjawab dengan serempak. Kemudian mereka semua mengikuti Nick yang melajukan mobilnya bersama Ziddan.
"Queen dan Earl baik-baik saja tapi.... " Nick tidak melanjutlan ucapannya. Nick terus melajukan mobilnya hingga mereka tiba di RS tujuannya. Tampak mobil Abigail di parkiran yang sontak membuat Ziddan heran.
"Ini mobil Abigail? bukankah dia di klinik saat ini? Lalu mengapa bisa mobilnya ada di sini? Tanya Ziddan yang semakin heran bercampur cemas.
"Zid, aku tak tahu mulai dari mana, tapi saat ini Abigail ada di sini tadi Earl membawanya bersama Queen". Akhirnya Nick mengatakan kebenaran kepada Ziddan.
"What? jangan bercanda". Ziddan yang masih merasa heran kini berlari ke arah ruang UGD, disana dia mendapati Queen dengan baju penuh bercak darah yang sedang duduk di kursi tunggu di luar ruang UGD bersama Earl. Ziddan memaksa masuk ke dalam ruang UGD yang dihalangi seorang perawat dengan berteriak memanggil nama isterinya dengan bercucuran air mata.
__ADS_1
"Abigail.... honey..... please ijinkan aku masuk suster, please dia isteriku.... ". Ziddan terus mencoba memaksa masuk namun suster menghalangi dan memberi penjelasan dengan lembut.
"Tuan bersabarlah, tunggu diluar sejenak biar dokter menangani nyonya Abigail, silahkan tunggulah tuan diluar".
"Aku ingin melihat isteriku suster". Ziddan terus memohon untuk masuk, Nick kemudian datang dan menghampiri Ziddan lalu memberi pengertian kepadanya.
"Ziddan, biarkan dokter menangani Abigail berdoalah semoga dia bisa selamat berdoalah". Ucap Nick lalu memeluk tubuhnya yang mulai melemah. Sementara Queen hanya bisa meneteskan air mata melihat Ziddan yang sedang dalam kondisi memprihatinkan.
****
"Mommy, aku keluar sebentar". Ucap Earl yang kini bangkit dari duduknya.
"Mau kemana son? ingat jangan bertindak gegabah, biarkan ini menjadi urusan daddymu, kita tunggu saja keputusan daddy untuk hal ini". Jawab Queen sambil mengusap air matanya.
"I know mommy, jangan cemas akan hal itu. Aku bisa menjaga sikap mom". Jawab Earl lalu keluar meninggalkan ruangan IGD dengan cepat. Nick melihat sekilas lalu kemudian membawa tubuh Ziddan untuk duduk di kursi tunggu.
"Duduklah Zid, tenanglah mari kita sama-sama berdoa untuk keselamatan Abigail aku yakin Tuhan akan mengabulkan doa hamba-Nya yang sedang benar-benar tulus".
Ziddan mulai sedikit tenang, dia duduk sambil memejamkan matanya lalu berdoa dalam hatinya kepada Tuhan untuk kesembuhan isteri tercintanya Abigail.
***
...Bersambung.......
__ADS_1
...Mohon dukungamnya ya guys...
...Terimakasih ππ...