
Pramuji memasuki markasnya, Alex berlari menyusul Pramuji.
"Tuan mengapa anda seorang diri seharusnya anda memberitahukan saya biar saya kirim orang untuk menjemput anda tuan. " Sapa Alex sopan.
"Terlalu lama lex, lagi pula aku sudah sampai disini. Hmm.. bagaimana kabar hama-hama itu, rasanya sudah lama aku abaikan mereka."
"Mereka semua aman tuan. Mari tuan silahkan." Alex mengikuti Pramuji masuk ke ruang bawah tanah.
Di dalam sel, disana tampak Robert duduk dilantai dengam pakaian yang sedikit berantakan, disebelahnya ada Albert juga Viona yamg sedang ngomel-ngomel tidak jelas.
"Semua ini gara-gara kau Robert bentak Viona, mengapa kau memilih Jakarta, seandainya saja.... hah!!!!!" Viona berteriak histeris dan hanya diperhatikan saja oleh para pengawal yang mengawal mereka. Albert berusaha menenangkannya.
"Hei Vi tenanglah." Albert memeluk Viona erat penuh kehangatan.
Tak lama Pramuji tiba disana lalu masuk ke dalam ruang penahanan. Dia lalu bertepuk tangan.
"Waw sangat romantis sekali kalian, pasangan serasi." Pramuji berjalan menuju mereka. Para pengawal semua menunduk hormat kepada Pramuji.
"Kau... Brengs*k.! Keluarkan kami." Bentak Viona.
"Oh .... hahaha... " Pramuji tertawa lepas. "Coba kalian flash back ke belakang, apa yang membuat kalian semua seperti ini, hah! "
Pramuji kembali membentak mereka semua.
"Aku tidak pernah menabur genderang perang terlebih dahulu, ingat itu. Saat ada yang jual maka pantang bagiku tak membelinya. Kalian orang-orang bodoh mencari masalah denganku."
"Alex keluarkan si Robert ini bawa kehadapanku, dudukan di kursi itu, ikat kedua tangan dan kakinya." Titah Pramuji.
__ADS_1
"Baik tuan. " Alex masuk ke dalam sel bersama dua anak buahnya, membawa Robert keluar sel, mengikatnya dikursi seperti titah Pramuji.
"Robert, apa yang kau katakan kepada Rianti hah? Sadarkah kau apa yang kau lakukan? Kau sudah membunuh suaminya, lalu menghasut anaknya sehingga menjadi pembunuh, yang parahnya lagi ternyata orang yang dibunuhnya adalah mertuanya sendiri, ayah dari isteri yang saat ini sedang mengandung bayinya. Bisa kau pikirkan hah?!" Lantas Sekarang kau malah ingin membunuh Rianti? ." Pramuji menatap sinis ke arah Robert.
"Apa yang kau bilang? aku hanya mengatakan padanya bahwa aku yakin aku adalah ayah anaknya, aku hanya meminta kebenaran darinya, apa itu salah? aku bahkan tidak menemuinya sama sekali." Robert tampak heran.
"Mana mungkin aku melakukan hal buruk padanya, karena aku masih mencintainya, itulah tujuanku datang ke Jakarta. Aku tahu ini adalah wilayahmu, aku seperti menggali kuburanku sendiri. Tapi setidaknya aku bisa menemui Rianti sebelum aku mati. Katakan padaku, apa yang terjadi, ada apa dengan Rianti?" Robert bertanya lagi.
"Aku tak tahu masalahmu itu, kau begitu bodoh sehingga tak melihat dulu siapa Rianti ini sekarang." Pramuji semakin kesal.
"Saat bertemu denganmu ingin rasanya aku menembakmu, tapi aku tak ingin mengotori tanganku ini."
"Pramuji katakan padaku ada apa? " Robert berteriak histeris.
Pramuji bangkit dari kursinya, mengambil kursi yang ia duduki lalu membantingnya ke arah Robert, sambil berteriak keras."diamlah bajin*an."
"Oh no.... Pramuji please bawa aku kesana please akan aku selesaikan semua ini please, setelah itu kau bisa menahanku secara hukum, atau bahkan kau bisa membunuhku. Aku telah banyak berbuat dosa, aku tidak menyangka rasa cinta butaku membuat orang-orang yang kusayang menderita. Pramuji maafkan aku please.... " Robert menggerak-gerakan tangan dan kakinya, dia begitu stress mendengar perkataan Pramuji. Karena dendam dia tak bisa membedakan mana cinta yang sesungguhnya. Robert begitu menyesal.
Pramuji please maafkan aku." Robert meneteskan air mata penyesalannya tapi tak digubris oleh Pramuji.
"Aku tidak tahu Robert, apakah air matamu itu tulus atau tidak, tapi aku memahami, walau 8 tahun kita bersama setidaknya aku tahu dasarnya kau bukanlah orang jahat. Aku yakin kau masih ada hati. Kali ini kau kumaafkan, aku akan melupakan semua yang telah kau lakukan."
Pramuji memanggil Alex untuk melepaskan ikatan Robert.
"Alex, lepaskan dia." Dengan suara yang lemah Pramuji menatap Robert.
"Tapi tuan, dia.... " Alex merasa ragu.
__ADS_1
"Sudah, lakukan saja."
Alex lalu membuka ikatan tangan Robert, setelah itu Robert lalu bersimpuh dibawah kaki Pramuji.
"Maafkan aku Pram, maafkan aku."
Robert lalu bangkit, "Pram maafkan aku tapi sebelum aku pergi tolong ijinkan aku bertemu Rianti. "
"Biarkan Rianti tenang disini, jika semua sudah kembali baik, aku sendiri yang akan membawa mu bertemu dengan Rianti dan putranya. Aku berjanji, sementara itu pergilah kembali ke London, mulai lah hidup yang baru." Pramuji menepuk pundak Robert.
"Baiklah Pram, aku akan pulang ke London. Aku akan menantikan pertemuan itu. Terimakasih Pram, terimakasih."
Robert memeluk Pramuji penuh rasa persahabatan.
"Lex siapkan mobil dan tuan Robert ini ke mobil." Titah Pramuji.
"Baik tuan, silahkan tuan Robert." Robert berjalan mengikuti Alex dari belakang menuju mobil.
****
...Bersambung.......
...Terimakasih sudah mendukung karya ku...
...Sukses buat kita semua!...
...Love you all ππ...
__ADS_1