Ceo Queen Arrogant

Ceo Queen Arrogant
BAB 88 Pandangan Pertama


__ADS_3

Pramuji sampai di apartemennya, bersamaan dengan Alex.


"Tuan... " Suara Alex begitu datar menyapa Pramuji dengan sopan.


"Apa tindakan tuan ini sudah tepat tuan? " Tanya Alex.


"Tindakan apa Lex? " Pramuji terus berjalan menuju ruang tamu sambil membuka jasnya.


"Membebaskan mereka semua tuan? " Ucap Alex lagi.


"Oh itu, yah. Aku yakin mereka akan berubah. " Jawab Pramuji datar, duduk di sofa membuka sepatunya.


"Tapi..." Alex tidak melanjutkan kalimatnya.


"Aku mau bersih-bersih setelah itu kita ke RS, kau juga boleh bersih-bersih pakai kamar diujung itu, disitu ada beberapa baju yang bisa kau pakai." Pramuji tidak menanggapai kegelisahan Alex sang asisten, tangan kanan profesional yang selalu bekerja dengan rapi.


"Baiklah tuan, terimakasih. " Alex tidak ingin berkata-kata lagi, karena takut akan membuat mood bosnya berubah.


Alex berjalan menuju kamar yang sudah diarahkan sang bos, yah kamar di ujung. Alex ingin mencuci wajahnya lalu mengganti bajunya dengan yang lebih casual. Dia harus tetap menjaga penampilannya secara dia masih jomblo.


Biar semakin tampan, mana tau dapat jodoh ya kan bang... 😁


****

__ADS_1


Di RS.


Rianti sudah masuk ke ruangan Super VIP yang khusus ditangani oleh dokter spesialis yang terbaik di negara ini, dengan perawatan yang sangat ekslusif tentunya, disertai dengan pelayanan spesial layaknya di hotel berbintang dengan fasilitas Super (Namanya juga Milyarder 😊 apapun bisa ya kan ya 😁)


Ziddan dengan setia menunggu sang Majikan yang sudah dianggap ibu nya sendiri, karena sejak Nick dibawa ke Jakarta oleh Rianti, Ziddan adalah teman pertama Nick, seorang yatim piatu, yang diangkat anak oleh Rianti hingga saat ini.


"Mommy bangunlah, aku disini. Kau bisa memarahiku seperti biasa mommy. please wake up." Ucap Ziddan dengan suara tertahan sambil memegang tangan Rianti yang sedang di infus. Tak lama tangan itu bergerak lemah. Rianti membuka matanya menatap. Ziddan yang sedang memegang tangannya.


"Mommy, mommy bangun? " Tanpa disadarinya air matanya jatuh mengenai tangan Rianti, Ziddan tersenyum bahagia melihat Rianti membuka mata.


"Hey son, kenapa menangis." Rianti mengacak-ngacak rambut Ziddan yang sedang duduk di samping bednya.


"Thanks God, Wait mom, aku panggil dokter dulu." Ziddan menekan tombol panggilan yang terhubung dengan ruangan perawat. Tak berapa lama dua orang perawat masuk bersama seorang dokter wanita yang cantik, untuk memeriksa keadaan Rianti.


Ziddan menatap dokter itu dengan tatapan penuh arti, entahlah jantung Ziddan tiba-tiba berdetak cepat.


Ziddan terus mengikuti gerakan sang dokter yang sedang memeriksa Rianti. Seorang wanita berusia 25 tahun, dokter spesialis jantung termuda di RS namun jam terbangnya sudah cukup tinggi dengan segidang prestasi, berkulit putih, wajah bule dengan rambut terurai, semakin menambah kecantikan sang dokter. Ziddan menatapnya tanpa berkedip.


Dokrer muda nan cantik jelita tersenyum manis sambil melakukan pemeriksaan. Karena sangat fokus dengan pekerjaannya dokter itu tak menyadari bahwa Ziddan sang asisten gak ada akhlaknya Algadra Blue memperhatikannya dengan tatapan penuh makna. Akhirnya pemeriksaan selesai.


"Nyonya jangan terlalu memaksakan diri, anda harus istirahat, jangan lupa obatnya diminum." Ucap dokter ramah dengan suara yang sangat lembut.


"Baik bu dokter, terimakasih." Jawab Rianti lemah sambil tersenyum. Sementara Ziddan matanya tak lepas menatap dokter muda itu. Sadar dirinya diperhatikan Ziddan dokter itu lalu menyapa Ziddan ramah.

__ADS_1


"Tuan, Kondisi ibu anda sudah mulai stabil, tekanan darah mulai naik dari kemaren sempat rendah walau belum normal tapi ini sudah cukup baik, detak jantungpun sudah mulai normal. Untuk lebih jelasnya anda bisa ke ruangan saya, untuk mengambil hasil tes terakhir." Ucap dokter itu kepada Ziddan yang terus menatap nya. Ziddan yang sedang melamun tiba-tiba tersadar.


Byaaarr.....


"Apa ... eeh... iya... hm... " Ziddan gelagapan, berusaha mengontrol detakan jantungnya yang berdetak tidak teratur.


Dag... dig.... dug....


"Ah maksud saya, iya bu dokyer, ehm dokter Abigail saya akan ke sana secepatnya." Ucap Ziddan salting.


"Bagaimana bisa tuan tahu nama saya.... " Dokter itu sedikit heran, lalu Ziddan menunjuk bed nama dibajunya.


"Ah... iya saya lupa." Dokter Abigail melirik bed nama yang terpasang di baju nya, terkesan kikuk lalu tertawa kecil.


"Baik nyonya, tuan saya permisi." Dokter Abigail pamit undur diri.


"Kok terburu-buru... ah ehmm. maksud saya baik dokter terimakasih." Ziddan semakin parah geroginya. 😁


Dokter beserta dua perawat itu lalu keluar ruangan meninggalkan Ziddan yang mematung memandangi kepergian mereka eeh salah maksud othor kepergian dokter abigail 😁.


******


...Terimakasih atas dukungannya ya guys...

__ADS_1


...Terimakasih sudah menghargai karya saya dengan komentar positif....


...Love you all πŸ˜ŠπŸ˜πŸ™...


__ADS_2