
"Tuan muda, apa yang harus kita lakukan sekarang? apa perlu kita obrak-abrik cafe ini?" Tanya sang asisten penuh amarah.
"No, just wait hmmmm.... Sudah kau tanya security di depan mengenai hal yang mencurigakan? " Tanya Earl dengan pandangan datar.
"Sudah tuan muda, mereka mengatakan tidak ada hal yang mencurigakan tapi saat kita sampai sebuah mobil bugatti biru dan dua mobil jeep baru saja pergi ke arah selatan".Jawab asisten Earl.
"Mobil daddy.... Kalian pergi ke mansion om Ziddan, kumpulkan anggota kita, aku akan mencoba menyusul mereka ke arah selatan".
"Baik tuan muda, berhati, hatilah tuan".
"Ok".
Earl berlari kecil masul ke dalam mobil, lalu mengendara dengan kecepatan sedang keluar dari areal parkir menuju jalan raya untuk mencoba mencari mobil daddynya ke arah selatan. Sementara sang asisten dan yang lainnya pergi ke mansion Ziddan untuk melaporkan yang terjadi.
****
"Hallo om Zid, aku sedang mencari keberadaan mommy dan daddy yang hilang saat hendak menemui seseorang di cafe pinggiran kota". Earl menelepon Ziddan sambil terus menyetir.
"Oh shiit, sekarang dimana kamu? "
"Aku sedang di jalan berharap bisa menemui mobil daddy, om Ziddan tolong handle semuanya, sebentar lagi asistenku sampai di mansion om, aku off dulu nanti aku telepon jika ada berita baru". Earl memutuskan sambungan teleponnya.
****
Asisten Earl sudah tiba di mansion Ziddan bersama 5 orang anggotanya, sementara Ziddan menyiapkan anggota khusus algadra hanya 10 orang saja. Melihat hal itu sang asisten bersuara.
"Tuan, apakah bisa kita menghadapi lawan dengan jumlah anggota dari algadra hanya 10 orang saja? ".
"Hmm... mungkin kau melihatnya 10 tapi mereka ini menyamai 50 orang. Mereka terlatih dengan keahlian masing-masing dan aku yakin Raja mafia seperti Nick tidak akan mudah ditaklukan, walaupun dia sudah tidak muda lagi tapi dia tidak juga tua. Pasti ada penjelasan dibalik ini semua mengapa dia sampai masuk ke dalam jebakan musuh". Ucap Ziddan penuh dengan rasa ingin tahu juga cemas.
"Kalian semua pakai mobil Van hitam". Titah Ziddan kepada anggota algadra yang selalu siap sedia saat dibutuhkan.
"Siap bos". Jawab mereka serempak.
"Kita akan menyisir seputaran kafe lalu arah selatan Cafe, sekarang jalan semua cepat-cepat aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada bos kita. Dan kalian berlima awasi sekitar mansion, lihat pergerakan yang mencurigakan dan lapor segera apapun itu padaku". Titah Ziddan kepafa asisten Earl dan kelima anggotanya.
__ADS_1
"Baik tuan".
Mereka semua bergerak sesuai dengan yang diperintahkan Ziddan, dua mobil Van hitam, sedangkan Ziddan dan asistennya mengendarai mobil jeep.
****
Di RS Elisabet di pusat kota London, salah satu RS Elite dengan segala fasilitas lengkap dengan bangunan gedung yang mewah tempat dimana Abigail, isterinya Ziddan juga ibu dari Maira bekerja sebagai Dokter Umum Senior. Walaupun serba berkecukupan Abigai tetaplah seorang dokter yang selalu ingin mengabdikan dirinya untuk orang banyak. Abigail saat ini sedang berada di ruangannya sehabis melakukan visit terhadap pasien. Abigail ditemani seorang perawat sedang bersiap-siapn akan pulang ke mansionnya.
"Dokter, semua sudah selesai apakah dokter langsung pulang? Tanya perawat itu dengan sopan penuh perhatian.
"Sepertinya begitu, tapi aku harus pergi ke klinik. Ada pasien yang harus aku tangani mungkin setelah itu baru aku akan pulang". Jawab Abigail dengan senyum menghias bibirnya.
"Baiklah kalau begitu dokter, kalau begitu saya permisi".
"Silahkan, pulanglah".
Abigail meraih tas tangannya, memasukan ponselnya lalu keluar ruangan, diikuti perawatnya tersebut.
Abigail kali ini tidak bersama supir karena dia ingin pergi sendiri apalagi Ziddan sangat sibuk dengan urusan kantornya jadi otomatis tidak bisa mengantarnya, walau Ziddan sudah berulang kali menyuruh Abigail untuk ditemani penhawal, namun Abigail kali ini menolaknya, lagi pula Abigail sangat senang menyetir sendiri jadi pergi sendiri adalah hal biasa.
"Jangan berteriak, jika tidak sayang nyawamu". Seorang pria dengan suara baritonnya berbicara dengan penuh penekanan yang membuat Abigail ketakutan.
"Tenanglah, kemudikan mobil ini perlahan keluar gedung, ingat kami tidak akan melukaimu jika kau melalukan seperti yang kami inginkan". Ucap pria itu yang perlahan melepas tangannya dari mulut Abigail namun senjata api masih tetap ditodongkan ke arahnya.
Abigail berusaha tenang, menyetir mobilnya keluar dari parkiran hingga di depan pos security Abigail seperti salah tingkah namun pria di belakangnya yang sedang bersembunyi menarik pelatuk senjata apinya yang membuat Abigail tak berani berkata apapun kepada petugas di pos itu. Abigail hanya tersenyum kepada dua petugas itu sambil membuka sedikit kaca mobilnya lalu terus melajukan mobilnya menjauh dari gedung RS. Melihat mobil Abigail melaju semakin jauh salah satu petugas bertanya kepada rekannya.
"Ada yang aneh".
"Apanya? "
"Tak biasanya dokter Abigail begitu kaku dan dingin, dia itu selalu ceria tapi tadi mengapa tidak menyapa kita? hanya tersenyum saja".
"Iya juga ya.... apa yang srdang terjadi? tapi tadi sewaktu kaca dibukanya tidak tampak siapapun dibelakang mobil, hanya dokter Abigail seorang".
"Tapi perasaanku kok tidak enak ya? jangan-jangan,, ".
__ADS_1
"Ah sudahlah mungkin perasaan kita saja, mari kembali bertugas".
Kedua security itu akhirnya melanjutkan tugasnya menjaga pintu masuk dan keluar kendaraan di RS tersebut dengan mengkesampingkan perasaan aneh mereka.
***
"Menepilah, stop disini". Perintah pria yang menodongkan senjata ke arah Abigail saat mereka sudah sangat jauh dari RS dan berada di daerah yang sunyi sesuai yang diarahkan pria itu sejak keluar dari RS, Abigail lalu menepikan mobil dan teman pria asing yang lain keluar mobil lalu menarik paksa Abigail keluar untuk dipindahkan ke belakang mobil masih dengan todongan senjata.
"Apa yang kalian inginkan? " Tanya Abigail disela-sela rasa takutnya, yang sebenarnya sudah pernah terpikir olehnya saat dia memutuskan untuk menikah dengan seorang tangan kanan ketua mafia dari Algadra Blue yang sudah pasti akan banyak menjumpai musuh atau lawan dari sesama mafia yang pasti orang-orang jahat. Namun selama 24 tahun menikah Abigail sama sekali tidak pernah tersentuh oleh orang-orang jahat, Ziddan selalu melindungi nya dengan baik, hanya saja kali ini berbeda, Abigail disandera dengan senjata saat pergi tanpa pengawasan suaminya. Padahal pagi tadi Ziddan sudah mewanti-wanti untuk pergi bersama pengawalnya namun ditolak Abigail.
"Patuhi kami dan diam, kau akan baik-baik saja setelah kami membawamu kepada bos kami". Jawab pria asing yang menodongkan senjatanya, dan kini Abigail duduk di belakang kemudi bersama pria itu.
Mobil melaju dengan cepat hingga akhirnya tiba di gudang tua di pinggir kota.
"Turun, dan jangan banyak tanya". Ucap pria yang menodongkan senjaya apinya ke arah Abigail. Mereka masuk ke dalam dan sesampainya di dalam, Abigail begitu terkejut melihat begitu banyak orang di dalam dan ada seorang wanita paruh baya duduk di sofa merah dengan tersenyum kepadanya.
"Selamat datang Dokter Abigail, Nyonya Ziddan, isteri dari tangan kanan Algadra Blue yang kejam". Ucap wanita itu.
"Siapa kau? ". Tanya Abigail.
"Seorang teman lama suamimu, lebih tepatnya bos suamimu, ah sudah lah. Kau tidak akan mengerti".
"Apa yang kau inginkan? " Tanya Abigail lagi dengan suara yang keras.
"Oh.... kau bisa juga membentak? kau sudah ketularan sifat suamimu itu ya? hahahhaha, ikat dia di tiang itu, dan jangan sampai lepas". Titah wanita paruh baya itu. Lalu pria tadi berusaha mengikat Abigail namun Abigail melawan, meronta berusaha untuk meololoskan diri lalu dia mencoba merebut senjata api dari pria itu hingga akhirnya..
Dor.......
Satu tembakan yang tidak sengaja terlepas yang membuat wanita paruh baya itu marah, karena ternyata tembakan itu mengenai perut Abigail yang berusaha merebut senjata api dari tangan pria yang mencoba mengikatnya. Darah mengalir deras, Abigail merasakan sakit, panas diperutnya dan tak lama kemudian dia terjatuh ke lantai.
****
...Bersambung...
...Mohon dukungannya ya guys...
__ADS_1
...Love you so much π...