
Earl tiba di mansion dengan baju yang basah, spontan membuat Dev yang sudah di rumah sejak tadi heran melihat sang kakak. Sedangkan Maira tidak begitu memperdulikan nya.
"Kak, sepeetinya kau naik mobil bukan motor, bagaimana bisa kau jadi basah kuyup seperri ini? " Dev menghampiri sang kakak yang terus berjalan melewati Dev menuju kamarnya di lantai 2.
"Woy.... disapa malah gak respon". Jerit Dev kesal.
"Masak iya kau tidak mengenal saudaramu itu hah? ngapain juga kau tegur si angka satu itu". Celoteh Maira tiba-tiba tanpa dosa.
"Jaga bicaramu, dia itu kakak ku, dasar kau... ". Dev pergi menyusul sang kakak ke kamarnya.
Dev menaiki tangga meninggalkan Maira yang asyik dengan ponselnya. Dev berlari kecil menuju kamar Earl yang pintumya tertutup rapat. Dev mengetuk pintu lalu mencoba membuka pintu dan ternyata pintunya tidak dikunci. Dev masuk ke dalam kamar Earl, mencari sang kakak.
"Kak Earl, kau dimana? "
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, muncul Earl dari balik pintu dengan handuk yang dililitkan dipinggangnya.
"Ada apa? ada masalah? " Tanya Earl yang langsung masuk ke dalam walk in closet miliknya meninggalkan Dev di sofa dekat ranjangnya.
"No kak, malah aku kira kau sedang dalam masalah". Ucap. Dev.
"Atap mobilmu bocor? kok bisa sampai basah kuyup bajumu kak?" Dev bertanya lagi.
__ADS_1
Tak lama Earl keluar dari walk in closet dengan memakai kaus tangan panjang dipadu dengan celana training menuju Ranjangnya. Earl tiba-tiba bersin cukup lama membuat kepalanya pusing. Earl mendekati sang kakak.
"Kak Earl kau sakit? Ah aku sudah menduganya, kau tak bisa kena hujan sejak kecil lalu mengapa main hujan? apa tidak punya kerjaan? " Tanya Dev yang memegang kening sang kakak, sementara Earl merebahkan tubuhnya diranjang.
"Ini seriusan loh, lihatlah kau bersin-bersin terus, kepalamuulai hangat". Dev semakin cemas, lalu menelpon asisten rumah tangganya.
"Bik ina, tolong buatkan teh panas buat kakak, bawa ke kamar sekarang". Titah Dev dengan sangat sopan.
"Baik tuan muda". Jawab bik inah yang langsung melaksanakan titah bos nya.
Earl yang sudah membaringkan tubuhnya di ranjang merasa kedinginan, sepertinya Earl benar-benar sakit. Dev melihat hal itu semakin cemas.
"Kau sudah makan kak Earl? " Tanya Dev.
"Oh God, sejak siang hingga malam gini? ada apa sih kak? tak biasa nya kak Earl seperti ini".
"Kau keluarlah kalau hanya ngomel tak karuan". Umpat Earl kesal.
"Is sudah sakit masih saja arrogant, betul juga kata Maia kau ini amgka satu".
"What? dasar wanita tengil". Umpat Dev.
" Sudahlah, aku akan suruh bik inah menyiapkan makan untukmu. Kau istirahatlah dulu". Dev memakaikan selimut ke tubuh Earl, dan memegang keningnya, mulai terasa panas. Dev menelepon seseorang dari ponselnya.
__ADS_1
"Hallo Dokter Arya, bisa kau ke mansion ku segera? kak Earl sedang sakit, tadi dia kehujanan entahlah, aku tak yakin".
"Hallo Dev, baiklah aku akan kesana tapi kau harus membayar mahal untuk ini". Arya tersenyum smirk.
"Pikiranmu itu isinya hanya uang sajakah? dasar". Umpat Dev.
Arya adalah teman Dev juga Earl. Arya seangkatan Dev tapi beda jurusan waktu kuliah dulu, mereka berteman sejak kecil hingga sekarang hubungan mereka semakin akrab sejak Arya menjadi dokter pribadi keluarga mereka. Arya seorang pecinta uang walau hartanya melimpah tapi Arya selalu bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi cuan. Entahlah sebegitu cintanya Arya dengan uang sehingga baginya uang adalah segalanya.
"Mengapa kau telpon dokter materialis itu".
Earl protes ke adiknya.
"Dia profesional kak, thats why".Jawab Dev singkat.
"Maksudku aku tidak apa-apa hanya butuh iatirahat sejenak saja, tak perlu panik". Earl berusaha meyakinkan Dev.
*****
...Bersambung...
...Thank you guys atas dukungannya...
...Love you so much...
__ADS_1