
Pramuji memanggil Ziddan ke kamarnya, ada hal penting yang harus dibicarakan.
"Seharusnya uncle mendengarkan aku, kalo kita sekamar setidaknya aku tidak mondar-mandir ke kamarmu. " Ziddan ke kamar Pramuji sambil terus mengomel tak jelas.
"Hmm... dengar boy, kalau kau masih mau bekerja denganku silahkan ikuti aturanku jika kau tidak mau kau bisa complain ke tuanmu, tanpa kau, Nick atau siapapun aku bisa jalan sendiri karena aku punya power." Pramuji begitu kesal dengan Ziddan.
"Sorry tuan... " Ziddan mendekat lalu duduk di sofa, di depan Pramuji yang sejak tadi sudah sangat kesal dengan asisten Nick ini. Namun didalam hatinya Pramuji mengakui akan kehebatan Ziddan dalam urusan pekerjaannya, serba bisa serta profesional. Tanpa disadarinya dia tersenyum tipis namun ditangkap oleh Ziddan.
"Nah uncle malah senyum sendiri now." Ziddan menekuk wajahnya.
"Ah sudahlah, listen boy... Robert ada dihotel ini mereka baru saja tiba, kamarnya ada dilantai ini juga."
"What? " Ziddan terkejut hampir saja dia menumpahkan kopi yang sedang dia minum.
"Maksud tuan, Robert Alfiro? mantan asisten tuan dulu, yang tuan titipkan wasiat peninggalan daddynya Nick, yang... "
"Yang... yang... yang... yang ada kepalamu melayang sebentar lagi kalau kau tidak waspada." Pramuji memotong ucapan Ziddan kesal.
"Menuruit informanku, malam ini akan ada pertemuan antara Robert, Albert serta Viona, tepatnya jam 11 di kamar Robert, tapi jika mereka meubah rencananya anak buah ku pasti menginformasikan padaku."
"Apakah mereka tau kita sini? " Kelihatan di wajah Ziddan kekhawatirannya.
"Kau lupa? kita registrasi disini pake identitas palsu jadi jika ada yang mengecek data tamu, otomatis nama kita tak akan terdaftar. Mereka tau kita ada di Bali tapi tidak tahu kalau kita ada di sini tapi harus tetap waspada."
__ADS_1
"Wah tuan kau hebat. " Ziddan mengacungkan jempolnya.
"Aku berencana menugaskan anak buahku sebelumnya untuk menyadap kamar mereka tapi sepertinya akan sangat sulit karena Robert pasti sudah memperkirakan semua kemungkinan. So aku membayar room boy untuk bekerjasama dengan kita, semoga semua berjalan sesuai dengan rancana." Pramuji mengambil handphonenya membuka chat pribadinya.
"Apakah tuan punya rencana B kalo rencana A tak berhasil? "
"Aku menyiapakan sampai empat but who knows... everyrhing can be happening."
Pramuji melihat jam tangannya.
Jam sudah menunjukan pukul 10:45. Pramuji membaca pesan di handphonenya, lalu tesenyum.
"Sepertinya rencanaku telah berjalan, kita lihat saja bagaimana hasilnya. "
****
"Tuan Albert, Nona Viona?" Tanya salah satu pria itu datar.
"Ya itu kami." Jawab Albert singkat.
"Silahkan lewat sini, kami akan mengantar anda ke tempat tuan kami. "
Albert dan Viona mengikuti dua pria yang menjemput mereka di lobi hotel. Keduanya saling menatap sambil terus berjalan menaiki lift menuju kamar seseorang yang masih misterius bagi mereka.
__ADS_1
Akhirnya mereka telah sampai di kamar tujuan mereka, pintu kamar dibuka lalu mereka semua masuk.
"Selamat datang tuan Albert, Nona Viona." Seorang lelaki berusia 5 tahun lebih tua dari Albert duduk di sebuah sofa dengan senyum smirk nya menyapa mereka berdua.
"Silahkan duduk, maaf kalau kalian kurang berkenan dengan undanganku. " Pria misterius itu memerintahkan anak buahnya untuk memberikan minuman.
"Silahkan minum, jangan sungkan." Pria misterius itu berbasa basi.
"Kami kemari bukan untuk minum tuan, kami butuh penjelas..." Ucapannya terputus dipotong pria misterius itu.
"Diamlah!.. Hardik Pria misterius itu.
"Ikuti saja alur nya, aku tidak suka dibantah, minumlah."
Albert lalu mengambil minuman yang ada di atas meja, juga Viona. Mereka meminumnya perlahan.
*****
...Segini dulu ya update nya...
...Terimakasih untuk dukungannya...
...Like, Comment dan Vote nya....
__ADS_1
...Salam sayang buat kalian semua ...
... Love you ππ...