CERITA CINTA

CERITA CINTA
134


__ADS_3

abi dengan segala emosi nya menghajar emon di kantor polisi, polisi dan pengacara nya berusaha melerai namun tidak ada satu pun yang bisa melerai nya, hingga Bram datang dan menarik bajunya lalu menampar abi


"stop abi.. !!! kamu gila..! kamu bisa terkena pasal menganiayaan " nada tinggi Bram menggema di kantor polisi


" abi tidak akan melepaskan nya pa.. dia sudah mengancam keselamatan adik dan anak abi "


" plak.. " Bram menampar abi lagi


" dengar.. !! jika sikap mu seperti ini, ini merugikan mu sendiri ,ingat Utari yang baru saja melahirkan " ucap Bram emosi, abi yang mendengar nama Utari di sebut pun emosi nya mulai mereda walau tatapan nya masih tajam ke arah emon yang masih tersungkur.


" hahhhh... !! " geram abi mengacak rambutnya sendiri, lalu keluar dari kantor polisi , Bram hanya menggelengkan kepalanya melihat abi keluar dari kantor polisi , ia paham apa yang di rasakan abi saat ini


" delon.. aku percayakan kasus ini pada mu, aku kan menyusul abi " ucap Bram pada pengacara nya,


" baik tuan.. " jawab Delon lalu tersenyum ,kemudian Bram menyusul abi.


" tidak biasanya emosi mu seperti tadi, apa kamu ada masalah lain? " tanya Bram pada abi saat di dalam mobil melihat raut wajah abi yang begitu khawatir dan cemas


" tidak ada pa, abi teringat arya dan caca, abi membayangkan Arya dan caca dalam bahaya, bayangkan pa, Emon menodongkan pistol ke arah caca.. " jawab abi begitu cemas membayangkan adik dan anaknya sambil memukul setir mobil


" papa tahu kamu sangat menyayangi adik mu caca dan juga anak mu arya, tapi ketahuilah adik mu itu pintar menjaga dirinya , terbukti dia yang melumpuhkan emon ,dan kamu jangan lupa ada reza, orang yang selalu ada untuk adik mu " jelas Bram menepuk pundak abi dan tersenyum,


"sudah.. pulanglah, lihat anak mu Arya dan caca, Utari biar mama dan papa yang menjaganya. " ucap Bram lagi, abi melihat Bram lalu mengangguk. kemudian melajukan mobil nya menuju rumah.


🔹


rumah


" kak putra.. tolong bukakan ini, tangan ku sakit " ucap bianca saat ingin membuka tutup toples biskuit


" kenapa tangan mu " tanya putra sambil meraih toplesnya, dan meletakkan toplesnya di meja dan meraih tangan Bianca


" aduh kak sakit " pekik bianca saat putra melihat pergelangan tangannya


" lurus kan tangan mu " ucap putra sambil membantu bianca meluruskan tangan nya


" seperti nya ada yang salah .., tahan ini akan sedikit sakit " ucap putra, lalu menarik tangan bianca


" krek " putra menarik tangan bianca


" Ouwh.... !!! sakit kak.. "


" sudah.. nanti di kompres " jawab putra lalu duduk kembali kemudian membukakan toplesnya


" bagaimana.. masih sakit ? " tanya putra sambil meletakkan toplesnya di meja

__ADS_1


" tidak begitu "


" berapa lama kamu tidak latihan..? "


" lama kak, dari hamil sampai sekarang belum latihan bela diri lagi " jawab nya santai sambil memakan biskuit


" latihan fisik mu mulai besok, tidak perlu yang berat berat, yoga saja, kamu bisa yoga dengan mama di ruangan gym papa, lihat perut mu sedikit ada lemak " ucap putra datar, seperti biasa ekpresinya yang dingin, namun sangat perhatian dengan adiknya dan sedikit menggoda nya


" caca, masih menyusui kak " jawab bianca lalu mengerucut bibir nya dan mendengus kesal, putra sebenarnya gemas melihat adik nya namun ia tetap dengan ekpresi dingin nya sambil membaca majalah bisnis


" kakak tahu, setidaknya olahraga ringan bisa melenturkan otot otot mu yang kaku dan tidak menumpuk lemak di perut mu, kamu mau reza melirik wanita lain yang lebih seksi " goda putra menahan tawanya


" kakak..!! ck.. menyebalkan " jawab bianca menghentakkan satu kakinya lalu berdiri meninggalkan putra, sontak putra tertawa saat bianca sedikit menjauh darinya ,tak lama abi datang dan berpas pasan dengan bianca


" caca.. kamu tidak apa.. " tanya abi cemas


" tidak.. " jawab bianca kesal


" kamu kenapa, kenapa wajah mu kusut seperti itu " tanya abi melihat bianca kesal


" kak apa aku gendut "


" eum.. iya.. "


" ck.. , papa.., apa caca sekarang gendut..? " tanya bianca memastikan


" papa sama saja " ucap bianca mendengkus kesal dan menghentakkan kakinya lalu menuju kamarnya, abi dan bram pun menjadi heran sedangkan putra terpingkal pingkal


" kamu apa kan adik mu " tanya bram


" sedikit menggoda nya pa " jawab putra lalu masih tertawa kecil


" terserah... kamu saja.. " terik bianca yang baru saja keluar dari kamar, di ikuti reza sambil menggendong baby rafi


" sayang.. tidak apa, aku tetep mencintai mu "


jawab reza meraih tangan bianca


" lihat anak kita, di bisa tumbuh seperti ini karena mu " rayu reza merangkul bianca, bram dan abi hanya menggelengkan Kepala nya dan kini mereka mengetahui permasalahan nya


" kamu pasti mengatai adik mu gendut ? " selidik bram pada putra namun putra tertawa kecil


" menggemaskan, dari dulu caca lucu bagi putra pa , adik kecil yang menggemaskan " jawab putra santai dan masih tertawa kecil


" sudah tahu dari kecil caca itu tidak suka di bilang gendut , tapi kamu selalu menggoda nya " saut abi yang juga tertawa kecil

__ADS_1


" mana istrimu ? " tanya Bram


" ada pa.. di kamar sedang menyusui bima "


" oh.. " jawab bram dan mengangguk


" abi.. kamu mandi lah dan temui Arya lalu kembali ke rumah sakit, gantikan mama mu, untuk menjaga Utari, papa juga mau mandi dan menjemput mama mu di rumah sakit " ucap bram menepuk pundak abi


" mama bisa pulang sendiri pa.. tidak perlu di jemput, ada sopir dan bodyguard yang setia bersama mama "


" sayangnya papa tidak akan membiarkan mama mu pulang sendiri " jawab bram lalu menyentil kening abi kemudian menuju kamarnya


" sakit pa.. " pekik abi mengusap keningnya sedangkan putra tertawa


" makanya, kamu jangan pernah berkomentar tentang bagaimana papa memperlakukan mama, mama itu ratunya papa " saut putra sambil berdiri lalu menuju lantai atas


" ck.. berlebihan " gumam putra namun ia tersenyum mengingat cara bram kepada Wina sangat lah manis, dari ia kecil sampai mempunyai cucu


" papa memang laki-laki idaman " batin abi Lalu tersenyum kemudian menuju lantai atas menuju kamarnya dan membiarkan reza dan bianca duduk di sudut ruangan .


" susui rafi, rafi sudah aku mandikan " ucap reza memberikan rafi pada bianca


" sayang.. anak mami " ucap bianca mencium pipi rafi lalu menyusuinya


" sayang.. kamu semakin hari semakin cantik " ucap reza mengusap pipi reza


" aku sudah cantik dari lahir reza.. " jawab bianca melihat reza dan tertawa kecil


" iya aku tahu itu, apa lagi saat kecil kamu suka marah marah tidak jelas, dan sekarang kamu semakin cantik saat memberikan asi untuk rafi "


" gombal " jawab bianca lalu menepuk lengan reza, reza pun hanya tertawa kecil


" aku jadi teringat saat pertama kali kamu menjaga ku reza , aku selalu memarahi mu tapi kamu selalu sabar, dan kamu tahu semenjak itu aku menjadi ketergantungan dengan mu " jelas bianca Lalu tersenyum, hatinya terasa damai saat melihat wajah tulus reza dan tidak menyangka akan selamanya bersama reza


" i love you nona bianca, I love you so much " jawab reza mengecup kening bianca lalu melihat sorot matanya


" I love you too reza " tak lama mereka pun berciuman, beruntung rafi belum mengetahui apa pun.


" ck.. anak muda.. " gumam bram tidak sengaja melihat reza dan bianca berciuman saat membuka pintu kamarnya, tak lama menutup pintu kamarnya kembali dan duduk di tempat tidur.


"Wina.. aku merindukan mu " batin bram mengingat Wina saat masih muda


🔹🔹🔹🔹


Terima kasih

__ADS_1


vote like komen


__ADS_2