CERITA CINTA

CERITA CINTA
94


__ADS_3

Utari sedang memasak kesukaan abi di dapur , dan sedang mengiris bawang. namun ia seperti orang menangis, ia pun berceloteh.


" di saat seperti ini aku selalu membutuhkan mu, tapi di saat aku menyentuh mu, dirimu selalu membuat ku menangis " ucap Utari sambil mengiris bawang lalu mengusap matanya, menggunakan lengannya layak nya orang menangis, abi yang mendengar pun menjadi salah paham lalu menghampiri nya, namun kehadiran abi tidak disadari Utari


" maaf sayang, jika aku membuat mu menangis, dan di saat kamu membutuhkan ku aku tidak ada. maafkan aku " ucap abi lirih di belakang Utari


" tidak ada maaf bagi mu, rasakan ini, ih.. " ucap Utari yang mengiris bawang begitu cepat, lalu membuang pisau nya


" aku tidak sanggup lagi, sudah cukup aku mau pergi dari mu " ucap Utari sembari mengusap matanya lagi, abi pun semakin salah paham dan berlutut di belakang Utari, tak lama Utari membalikkan badan nya dan terkejut melihat abi yang sedang berlutut


" astaga.. abi apa yang kamu lakukan " ucap Utari terkejut melihat abi yang berlutut di depan nya, Wina dan Bram yang melihat dari ruang makan yang tidak jauh dari dapur hanya tersenyum melihat kekonyolan anak dan menantunya itu, Wina dan Bram mengetahui jika abi salah paham


" Utari maafkan aku, jika aku membuat mu menangis, tapi jangan pergi dari ku "


" apa yang kamu bicarakan, aku tidak tahu maksud mu? "


" bukan nya tadi kamu mengatakan sudah tidak sanggup lagi dengan ku " ucap abi yang masih berlutut dan memegang kaki Utari, seketika Utari tertawa keras sampai membungkuk, begitu juga Wina dan Bram


" kenapa kamu malah tertawa " ucap abi bingung


" astaga suami ku, aku sedang berbicara dengan bawah merah, yang selalu membuat aku menangis saat aku membuat kan masakan kesukaan mu yang satu itu dan sekarang, kamu buat sendiri, aku tidak sanggup, mata ku perih , aku mau menyusui arya , ini pisau nya, masak sendiri ya.. much " ucap Utari yang langsung memberikan pisau pada abi dan langsung mencium pipi nya tak lupa Utari mencuci tangan nya, abi pun bingung dan gemas pada Utari dan hanya melihat nya keluar dari dapur dengan santainya.


" abi Utari , banyu, bayu dengan tingkah konyol mereka, putri Damian yang bisa mencairkan suasana, bianca dengan manja nya, reza dengan sabarnya, putra, lisa dengan ke misteriusan mereka, harus sangat hati hati berbicara dengan mereka berdua "


" juna ? tanya Bram


" juna.. ? anak bungsu ku itu manja tapi mandiri, dan pelengkap keluarga ini, aku jadi merindukan anak itu . " ucap Wina yang tiba-tiba merindukan juna


" dan syasa adalah kakak yang tegas untuk adik adiknya " ucap Bram menimpali


" mama.. " panggil Bianca yang baru saja pulang dari dokter kandungan lalu menghampiri wina di meja makan


" apa sayang.. bagaimana hasil nya " tanya Wina


" positif ma dan sudah berjalan 3 bulan, aku lupa hampir 3 bulan ini tidak datang bulan, pantas saja bulan bulan lalu aku merasa cepat sekali lelah dan pusing " ucap biaca antusias lalu duduk di samping Bram sedangkan reza mengambil air minum untuk Bianca.


" sayang minum lah dulu " ucap reza memberikan minuman untuk bianca. lalu duduk di sebelah bianca

__ADS_1


" Terima kasih sayang, kamu sangat perhatian pada ku " ucap bianca lalu mencium pipi reza, reza hanya tersenyum.


" akhirnya telur dadar bawang ku sudah jadi " ucap abi yang duduk di sebelah wina


" kak seperti nya enak , caca mau kak " ucap caca, yang matanya sudah berbinar melihat masakan abi


" buat sendiri, aku susah payah membuat nya, dan penuh drama "


" kakak ! , " ucap bianca manja


" iya iya..ini semua untuk mu, kaka akan membuatnya lagi " ucap abi lalu memberikan telur nya pada bianca, lalu ia kembali ke dapur dan membuat nya lagi, bianca pun langsung memakan namun baru satu suap ia meminta reza menyuapi nya


" reza suapi " ucap bianca manja lalu reza pun menyuapi nya dengan sabar.bram yang melihat kesabaran dan ketulusan reza pun tersenyum.


"malam ma.. " ucap putra yang baru saja datang bersama lisa lalu menyalami Bram dan wina lalu bergabung di ruang makan dan melihat bianca sedang di suapi reza.


" reza aku mau menambah nasi, kak abi caca mau telur nya lagi " ucap Bianca pada reza lalu berteriak pada abi


" iya .. tunggu ini kakak buatkan lagi untuk mu " jawab abi sedikit berteriak


" sayang segini cukup " tanya reza saat mengambilkan nasi


" pakai sayur sayang " ucap Wina yang begitu bahagia melihat bianca makan begitu lahat teringat saat ia hamil dulu


" tidak ma.. caca mau seperti ini saja " ucap caca yang tidak sabar untuk memakannya.


" ini sudah jadi, aku tahu ibu hamil pasti nafsu makannya dua kali lipat " ucap abi saat membawakan telur dadar barangnya untuk bianca


" kakak sangat pengertian, paman mu the best sayang " ucap bianca sembari mengusap perutnya


" caca hamil ma " ucap putra sedikit terkejut pasalnya putra mengetahui jika bianca dan reza menundanya


" iya.. tidak disengaja, " ucap Wina lalu tersenyum


" selamat ya caca " ucap lisa lalu tersenyum tipis, sebenarnya hati ingin sekali seperti bianca .


" lisa bagaimana hasil kesehatan mu " tanya Wina hati hati

__ADS_1


" semua nya sudah membaik ma, putra juga baik, mungkin belum di beri kepercayaan saja " ucap lisa sendu.


" sabar ya kak, tetap semangat, " ucap bianca memberikan semangat pada lisa


" sabar mungkin ini ujian rumah tangga kalian, kita semua selalu mendukung kalian " ucap bram menimpali


" jika semua sudah membaik namun belum juga di beri kepercayaan, mungkin salah satu di antara kalian mempunyai kesalahan dan belum meminta maaf " ucap abi spontan, pada putra dan lisa terlebih kalimat terakhir ia menatap putra tajam. yah putra memang belum meminta sama sekali dengan Utari saat insiden setengah tahun lebih yang lalu


" abi.. jaga bicara mu " ucap Wina


" apa yang aku katakan benar ma.. sampai detik ini putra tidak ada niat untuk meminta maaf pada Utari masalah disain kemasan prodak nya dan pada akhir nya ia menggunakan disain milik Utari, memalukan, apa mama pernah melihat dan mendengar Utari menyapa putra setelah kejadian waktu itu, tidak pernah ma, karena Utari tidak mau lagi di hina oleh nya " ucap abi lalu pergi begitu saja dari ruang makan, dan sudah tidak lagi bernafsu untuk makan. sedangkan reza dan bianca, serta Bram hanya menyimak, dan membiarkan anak anak nya menyelesaikan permasalahan secara dewasa


" abi sebenarnya apa yang terjadi,? " tanya lisa bingung dan penasaran maksud abi


" tanyakan saja pada suami mu sendiri " ucap abi yang langkah nya belum jauh dari meja makan.


" putra.. ? " ucap lisa meminta penjelasan dan menatap serius putra


" baiknya kita ke kamar " ucap putra dingin lalu meninggalkan ruang makan dan di ikuti lisa.


" kenapa anak ku yang satu ini sifat nya berbeda " ucap Wina menghela nafas panjang


" kak putra itu seperti papa waktu muda dan belum mengenal mama, " ucap bianca, Bram hanya diam saja karena memang Bram sewaktu muda seperti putra.


" dari mana kamu mengetahui nya " tanya Wina


" almarhum opa dan oma " ucap bianca santai dan tersenyum sembari mengambil telur milik abi yang masih tersisa.


" sayang sudah, kamu makan sudah terlalu banyak " ucap reza saat melihat bianca memakan telur dadar milik abi


" reza kamu makan lah jangan terlalu memanjakan caca " ucap bram lalu meninggalkan meja makan dan tersenyum, lalu Wina pun mengikuti bram


" sayang sudah makan nya "


" reza.. " jawab manja bianca


" ya sudah habiskan, aku juga lapar, " ucap dengan sabar nya lalu ia pun makan bersama bianca.

__ADS_1


🔹🔹🔹🔹🔹


__ADS_2