
pagi harinya, semua masih berada di rumah sakit kecuali putra dan lisa, mereka berdua memilih untuk pulang karena putra harus ke kantor, dan lisa harus mengurus Arjuna. bianca pun kebetulan tidak ada mata kuliah jadi ia memilih untuk tetap di rumah sakit,
" ma.. pa.. kak abi ini sarapan nya, bianca membeli nya di depan " ucap bianca yang baru saja masuk ke ruangan Utari, Utari pun sudah duduk dan bersandar di brankar. dan sedang sarapan, dan abi menyuapi Utari.
" sudah abi.. aku sudah kenyang.. " ucap Utari yang sudah merasa kenyang dan tidak mau lagi memakan makanan nya.
" baiklah.. ini minum nya, dan ini obat nya " ucap abi setelah selesai menyuapi Utari dan tersenyum.
tak lama suster pun datang membawa bayi abi dan Utari, yang sudah di mandikan dan saat nya untuk menyusu.
" maaf tuan nyonya, saatnya memberikan asi " ucap suster lalu memberikan bayinya pada Utari
" Terima kasih suster " ucap Utari, saat sudah memangku bayinya
"kalau begitu saya permisi nyonya " ucap suster sopan lalu keluar dari kamar ruangan
" abi.. ini bagaimana " ucap Utari yang masih bingung cara memberikan asi
" butuh bantuan.. " tanya Wina saat menghampiri Utari.
" eum.. iya ma.. eum.. " ucap Utari sedikit canggung
" abi ambilkan bantal " ucap Wina sembari mengambil bayi Utari dari pangkuan Utari
" ini ma.. "
" letakkan di pangkuan Utari " perintah Wina, abi langsung meletakkan bantal di pangkuan Utari
" begini sayang.. " ucap Wina yang mengajari Utari cara menyusui bayinya.
" Terima kasih ma.. " ucap Utari dan tersenyum bayi Utari pun mulai menyusu. namun Utari diam menahan sakit sembari memejamkan matanya.
" ma sakit.. " ucap Utari menahan rasa sakit di pun*ing nya karena pertama kali menyusui.
" tahan ya.. nanti lama kelamaan tidak sakit. " ucap Wina
" tapi waktu abi tidak ma.. " ucap Utari polos, sontak Wina tertawa, dan abi langsung pura pura terbatuk lalu mengusap kasar wajah nya.
" ada apa ma.. " tanya bianca menghampiri karena mendengar Wina tertawa dan abi terbatuk
__ADS_1
" eum.. tidak apa apa.. sudah lanjutkan sarapan mu ucap Wina, lalu mengajak bianca kembali bergabung di sofa bersama Bram untuk menyelesaikan sarapan nya.
" sayang.. abi kenapa.. ? tanya Bram sembari menyantap makanan nya.
" eum.. itu.. eum.. " Wina pun tertawa kembali tanpa suara, dan membuat Bram dan bianca menjadi heran
" kak abi kenapa ma.. " tanya bianca penasaran
" tidak apa apa, ini pembicaraan orang dewasa yang sudah menikah " jelas Wina
" eumh.. mama selalu menganggap ku anak kecil " ucap bianca lalu keluar ruangan karena sedari tadi ponsel nya berdering.
bianca berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan menuju taman yang berada di rumah sakit dan menjawab telepon dari reza
" hallo sayang.. " ucap bianca menjawab telepon reza
"halo.. apa kamu masih ada di rumah sakit " tanya reza
" masih.. dan hari ini aku tidak ada kuliah " jawab bianca sembari duduk di bangku taman.
" aku ada di depan rumah sakit, " ucap reza
" mau ikut dengan ku, ada yang ingin aku bicarakan pada mu, penting.. " ucap reza begitu serius
" eum.. baiklah.. tunggu sebentar " ucap bianca lalu mematikan ponsel nya, dan menunju ruangan Utari dan langsung menghampiri abi
"kak.. aku izin keluar bersama reza, ada yang ingin ia bicarakan pada ku " bisik bianca pada abi
" ya.. pergilah, reza sudah meminta izin pada ku untuk bicara hal penting pada mu " ucap abi lirih lalu tersenyum ke arah bianca.
" Terima kasih Kak " bianca lalu mencium pipi abi lalu berpamitan dengan Bram dan Wina
" ma.. pa.. aku keluar sebentar ada urusan mendadak " ucap bianca lalu mengambil tas nya
" ya, hati hati " ucap Bram santai
" iya pa...? " ucap bianca lalu mencium pipi Bram dan Wina, lalu keluar dari rumah sakit
" anak itu, usia 19 tahun tapi sudah sangat sibuk " ucap Wina menggelengkan Kepala nya
__ADS_1
bianca berjalan menyusuri lorong rumah sakit tak lupa ia menggunakan masker dan kacamata hitam nya, ia berjalan sedikit berlari keluar dari rumah sakit menuju mobil reza yang sudah menunggu nya di luar
"reza.. " ucap nya, saat sudah masuk kedalam mobil dan melepaskan masker dan kaca mata nya lalu memeluk reza,
" kamu ingin membicarakan apa? " tanya bianca penasaran
"nanti, sekarang ikut dengan ku " ucap reza dan tersenyum lalu melajukan mobil nya.
"rumah..? " ucap bianca saat sampai didepan sebuah rumah
" ayo.. " ucap reza lalu mereka berdua turun dari mobil
" dua bulan lalu aku membeli rumah ini, untuk kita berdua nanti " ucap reza lalu mengandeng bianca masuk kedalam rumah .
" reza.. apa kamu menyiapkan ini semua " ucap bianca, sembari melihat sekeliling rumah
" ya sayang.. rumah ini aku persiapan untuk kita berdua dan anak kita nanti " ucap reza dan memeluk bianca dari belakang
" reza.. aku mencintaimu.. " ucap bianca lalu membalikkan badan nya dan mencium pipi reza
" aku akan datang pada orang tua mu besok malam, aku akan melamar mu " ucap reza bersungguh sungguh
" apa kamu bersedia menikah muda dengan ku " ucap reza yang berlutut di hadapan bianca
" iya.. aku mau.. " ucap bianca yang sudah berkaca kaca karena terharu. reza pun berdiri dan menyematkan cincin ke jari manis bianca
" tapi reza..bagaimana jika papa dan mama tau jika kamu adalah anak..? "
" sstttt.. masalah itu kita pikirkan nanti, aku tau resiko nya, tapi sebagai laki laki aku harus datang menemui orang tua mu untuk meminta mu menjadi istri ku secara baik baik. " ucap reza meyakinkan
" reza... " ucap bianca lalu memeluk reza
" reza.. apa kamu yakin dengan ku, hubungan kita baru berjalan 5 bulan, dan usia kita terpaut 12 tahun. "ucap bianca sedikit ragu dan melepaskan pelukan nya
" hubungan kita sudah terjalin sejak pertama kali kita bertemu sayang.. dan usia, cinta tidak mengenal usia, apa kamu masih ragu dengan ku yang sudah tua ini " tanya reza
" reza.. aku mencintaimu, aku tidak pernah ragu dengan mu " ucap bianca lalu memeluk reza kembali
reza dan bianca tidak mengetahui jika diam diam Bram sudah mengetahui hubungan mereka, Bram juga sudah menyelidiki reza, dan sudah mengetahui reza sebenarnya, namun ia memilih diam untuk sementara waktu dan membiarkan mereka terlebih dahulu, dan menunggu waktu yang tepat untuk memisahkan mereka.
__ADS_1