CERITA CINTA

CERITA CINTA
143


__ADS_3

putra melangkah memasuki kantornya, dengan wibawanya. ia melangkah memasuki lift khususnya, putra hanya mengangguk saat karyawan menyapanya. Pagi ia menghadiri rapat penting dengan dewan direksi, Damian Sang asisten sekaligus adik ipar sudah menyiapkan semua dan mengatur jadwal putra dari pagi hingga malam.


Sebenarnya putra sangat letih di karenakan hanya tidur 2 jam dan itu pun selepas subuh, namun demi tanggung jawabnya ia harus mengesampingkan rasa itu. putra tahu betul jika tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, ia benar benar lelah hingga akhirnya ia pun jatuh pingsan di dalam lift tanpa ada yang tahu. perlahan lift terus naik ke lantai di mana tepat ia bekerja dan ''ting'' suara pintu lif terbuka beruntung ada salah satu karyawan yang melihat ia tergeletak di lantai lift.


''Tuan putra!!" Ucapnya lalu masuk kedalam lift dan memeriksanya.


''Masih bernafas.'' Batinnya lalu ia keluar dan meminta bantuan.


''Pak Damian tolong!!" Panggilnya melihat Damian melintas dengan beberapa rekan kerjanya.


''Ada apa?"


''Tuan putra pingsan.'' Jawabnya lalu Damian bergegas menghampiri putra yang masih di dalam lift.


''Put..., Putra!'' Panggil Damian menepuk-nepuk pipinya


''Aldo bantu aku mengangkatnya.'' Titah Damian kemudian mereka mengangkat putra dan menidurkannya di sofa dekat bagian staff.


''Put...! Kau kenapa? Suhu tubuhnya juga tinggi.'' Ujar Damian sambil membuka dasi dan kancing jas milik putra.


Damian tampak cemas dan panik melihat kondisi Kakak iparnya yang tidak berdaya.


''Arhqqqq...! Kepalaku.'' Rintih putra memegang kepalanya.


''Ini minum.'' Ucap Damian membantu putra bangun dan duduk lalu memberikan segelas air putih.


''Yerima kasih."


''Baiknya kamu pulang saja, rapat aku yang akan mewakili. Lihat wajah kau pucat, suhu tubuh mu juga tinggi."


"Undur dua jam, biarkan aku istirahat sejenak dan tolong panggilkan dokter Ryan suruh datang keruang ku." Jawab putra yang tidak mau meninggalkan pekerjaannya.


"Gila kamu ya! lihat kondisimu put,"


"Aku tidak mau di bantah!" Jawab putra berdiri walau tertatih ia berjalan menuju ruangannya.


"Dasar kepala batu." Gumam Damian melihat putra yang masuk kedalam ruangan. Damian mengikutinya karena takut terjadi sesuatu pada putra.

__ADS_1


Damian menghubungi Lisa tanpa sepengetahuan Putra. Damian tahu jika putra hanya menurut dengan Lisa dan Sang Mama, Wina. selanjutnya Damian menghubungi dokter Ryan agar datang ke kantor untuk memeriksa kondisi putra.


Putra berbaring di sofa panjang ruangannya dengan menyelimuti tubuhnya dengan jasnya sendiri.


"Aku tidak boleh sakit, pekerjaan ku masih banyak dan janji ku pada Lisa untuk mengajaknya jalan-jalan." Gumam Putra di sela ia memejamkan mata, Putra melakukan semua ini demi istri dan keluarga sampai- sampai mengabaikan kesehatannya sendiri.


Disisi lain Lisa yang mengetahui putra sakit pun, bergegas ke kantor dan menitipkan Bima pada wina.


"Ma..., Lisa titip Bima, Lisa mau menyusul putra ke kantor," ucap Lisa khawatir


"Menyusul putra? Memangnya ada apa? Putra kenapa?" Tanya Wina heran, karena tidak biasanya Lisa menyusul ke kantor.


"Putra tadi sempat pingsan di kantor, Damian bilang suhu badannya tinggi. Damian sudah menyuruhnya pulang tapi putra tidak mau ma, jadi Lisa ingin menjemputnya" Terang lisa melihat Wina yang juga khawatir.


"Iya susul saja suamimu, anak itu memang keras kepala."


"Iya Ma, Lisa berpangkat sekarang, titip Bima ya Ma." Pamit Lisa di angguki Wina lalu ia bergegas ke kantor putra.


*


Bagian resepsionis melapor kepada scurity agar mengejar Lisa yang tidak mau mengisi daftar tamu, karena memang bagian resepsionis tidak mengetahui jika Lisa adalah istri Bosnya.


Lisa keluar dari lift setelah sampai di lantai dimana sang suami bekerja dan ia pun menanyakan ruangan Putra pada salah satu karyawan.


"Maaf..., ruangan Tuan Putra di sebelah mana?" tanya Lisa lembut.


"Maaf, Anda siapa dan mana id card tamu Anda." jawabnya memperhatikan Lisa dari ujung rambut sampai ujung kepala.


"Saya is...," belum selesai menjawab security tiba-tiba meneriakinya penyusup.


"Hei...! Kamu penyusup!" teriak scurity.


"Penyusup?" tanya karyawan tersebut, sontak karyawan yang lain melihat kearah lisa, Lisa heran siapa yang mereka maksud penyusup


"Maaf nona, silahkan keluar dari kantor ini dan jika ada keperluan Anda bisa membuat janji lebih dahulu dan meminta izin ke meja resepsionis," ucap scurity lalu memegang lengan Lisa.


Lisa mengerutkan dahinya dan melihat tangan scurity yang memegang tangannya tanpa izin. seketika Lisa mengibaskan tangannya dan menatap tajam scurity tersebut lalu menatap karyawan suaminya. Tak lama ia melihat sekelilingnya dan matanya mencari dimana ruangan Sang suami. Akhirnya matanya terhenti di pojok lorong. lalu ia kembali menatap tajam scurity dan karyawan tersebut secara bergantian dan jufa melihat karyawan yang lainnya.

__ADS_1


"Maaf saya tidak mempunyai banyak waktu." ucap Lisa tegas seperti wina, dengan tatapan tajam hingga membuat karyawan diam mematung dan hanya bisa melihatnya berjalan menuju ruangan putra. saat Lisa sudah


menghilang di balik pintu ruangan Sang bos scurity baru sadar akan tugasnya dan mengejar Lisa.


"Astaga putra!" Ucap Lisa cemas saat mendapati putra berbaring di sofa. Melihat putra tidak berdaya ia begitu sedih dan khawatir. Tak lama scurity pun masuk dan melihat Lisa memegang kening putra.


"Maaf nona silahkan keluar." Ucap scurity yang masih bersikap sopan.


"Pak Dadang..., ini istri ku." Saut putra lirih memegang jemari Lisa.


"Hah! istri? Eum..., maaf tuan, saya tidak tahu." Jawab scurity merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Bapak sudah menjalankan tugas dengan baik," jawab putra lirih


"kembali Bekerja, dan ingat wajah istri saya jika datang kemari biarkan dia masuk dan beritahu yang lainnya." Jelas putra lalu tersenyum.


"Baik tuan, permisi." Pamit sang scurity diangguki putra.


"Putra..., pulang ya. Lihat diri kamu sayang." ucap Lisa cemas mengusap kening putra.


"Aku senang kamu datang kemari dan melihat dirimu mencemaskan ku " Jawab putra mencium tangan Lisa. Perlahan ia bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar.


"Kamu senang sekali membuat ku cemas Putra."


Lisa melihat wajah pucat putra yang tersenyum padanya kemudian Putra menarik lembut Lisa dan memeluknya.


"Maafkan aku Lisa, aku belum punya banyak waktu untuk mu dan anak kita." ucap putra mencium puncak rambut Lisa.


"Jangan bicara seperti itu, aku tahu kamu sudah berusaha menyisihkan waktu untuk ku dan Bima. Juga waktu untuk mama. sampai kamu sendiri melupakan kesehatanmu. Putra tolong jangan terlalu keras bekerja, ingat kesehatan kamu, ingat aku, Bima dan Mama. Jika kamu sakit kamu membuat kami khawatir, dan aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. " Jawab Lisa yang sudah meneteskan air matanya.


"Lisa..., i love you."


Putra memeluk Lisa dengan erat, ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa, yang jelas ia sangat bersyukur memiliki Lisa yang sangat mengerti dirinya dan pekerjaannya. dan ini yang membuat putra tidak pernah berpaling dari wanita lain. hanya Lisa seorang dari masa SMA sampai saat ini .


"I love you too, pulang ya..., istirahat di rumah."


Akhirnya Lisa membawa Putra pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2