
" Mita sekarang posisi bayi kamu salah dan harus segera di tindak lanjuti. Kalau nggak bukan cuma kamu aja yang kesiksa tapi anak kamu juga. Ini anak pertamamu Mita pasti seorang ibu akan berusaha menyelamatkan anaknya dengan cara apapun. Tapi kamu maukan lahiran normal." tanya Aulia.
" iya...aku bahkan rela menyerahkan nyawaku yang penting anakku selamat." ucap Mita. Aulia tersenyum.
" Mita itu pasti nyawa jadi tidak ada harganya jika sedang seperti ini. Tapi apa kamu mau anak kamu tumbuh tanpa sentuhan halus darimu, kamu mau anakmu tumbuh hanya kasih sayang ayahnya, nggak ada anak yang mau seperti itu... Mita bukan hanya kamu yang pernah mengalami seperti ini tapi sudah ada puluhan wanita yang seperti ini....Mita pasti kamu itu pernah berkhayal akan bermain bersama dengan anakmu ini, menggendongnya, menyusuinya,merawatnya bahkan sampai melihatnya menikah, hmm itu hal wajar Mita. Kamu mau semua itu kan." ucap Aulia, Mita kembali mengangguk.
" Suamimu juga seperti itu. Mungkin kamu mau menyelamatkan anakmu tapi suamimu mau menyelamatkan dirimu dan anak kalian. Ingat kalau pun anakmu lahir selamat, sehat. ya....kamu sudah memenuhi ke inginan suamimu setengah...tapi setengahnya kamu buang karena kamu nggak merawatnya bersamanya."
" Mita keinginan seorang ibu adalah melahirkan ya itu pertama. Tapi melihatnya tumbuh dengan cintamu itu hal yang di inginkan anakmu...dan Melihatmu dan Anakmu bermain bersama, senang bersama, itu keinginan suamimu."
" Mita ingat suamimu masih membutuhkanmu. Biarkan anakmu merasakan indahnya dunia. Jika ada jalan yang baik untuk kalian berdua lakukanlah demi keluarga kecilmu yang sebentar lagi lengkap." ucap Aulia yang sukses membuat Mita menangis haru.
Mita memeluk Aulia, Mita merasa bersyukur adanya Aulia di hidupnya sebagai sahabat konyolnya.
" hikss...maafin aku Lia...aku terlalu egois hanya untuk menjadi seorang ibu seutuhnya. Aku terlalu egois."
" Mita seorang wanita akan melakukan hal sama yaitu menolak. Tapi mereka juga akan berfikir suami, anak akan sangat butuh seorang perempuan." ucap Aulia. " dan untuk seorang ibu.. Tidak ada yang namanya ibu yang tidak sempurna jika telah mengandung, melahirkan meskipun cara berbeda, menyusui, memberi kasih sayang, merawat hingga dewasa. Itulah seorang ibu. Mita kau itu masih terbilang beruntung...ada banyak wanita yang sudah menikah tapi tak bisa memiliki anak...apa kau tidak mau menggendong anakmu hmm." ucap Aulia tersenyum menatap wajah sendu Mita.
__ADS_1
" udah yah...ngomongnya ntar aku nangisnya membanjiri rumah sakut ini. Jadi udah yah...baiklah aku mau operasi demi Beni dan demi Anakku." ucap Mita tersenyum dengan penuh semangat.
" gitu dong pintar anak mama." canda Aulia.
" hehehe iya mama...makasih yah.." ucap Mita. " aku sekarang yakin 1000% demi anakku demi Beni aku operasi...jadi kapan operasinya." tanya Mita semangat.
" kan belum di urus...tapi kemungkinan besok." ucap Aulia. " ehh kalau di operasi nggak perlu takut lagi. Mau ngerasain sakitnya tapi...takut dengerin suara Citra waktu lahiran." goda Aulia.
" hmm...iya iya udah sana urusin operasiku ibu dokter."
" ada yang kurang kayaknya."
" tadi kamu bilang ibu dokter kok nggak ada cantimnya sih" ucap Aulia pura-pura merajuk.
" iya iya ibu dokter cantik. Gemesin." Mita menarik pipi Aulia.
" hehehe oke siap nyonya Beni." goda Aulia membuat Mita tersenyum malu.
__ADS_1
" perutnya nggak sakitkan." tanya Aulia sebelum keluar.
" nggak sejak kamu masuk perutnya berhenti keram."
" hehehe kayaknya calon mantu aku ini udah suka dan hormatin calon mertuanya."
" hehehe iya."
" ya udah bayy ntar balik lagi." ucap Aulia.
" iyaa.." Mita tersenyum.
Aulia keluar ruangan dengan wajah tersenyum, " Bagaimana Aulia Mita maukan di operasi." tanya Citra. sedangkan Beni masih terdududk lemas tak mampu mengeluarkan kata apapun.
" iya dia mau." ucap Aulia tersenyum.
" Beneran Mita udah mau." tanya Beni.
__ADS_1
" iya...mending sekarang urus untuk operasi Mita." ucap Aulia.
" iya...makasih Aulia ...makasih banyak." ucap Beni langsung pergi mengurus apa saja untuk operasi Mita.