
Hari ke minggu...minggu ke bulan. Setelah kelahiran Mita 4 bulan terasa begitu singkat. Cici pun juga sudah melahirkan putranya sebulan yang lalu dan di beri nama DEMIAN ANDRA DONISAPUTRA.
Setelah kelahiran Mita, Yoga dan Aulidia semakin dekat sejak kejadian waktu itu.
Hari ini para pasangan yang masih terbilang cukup muda itu sedang makan siang tentu saja tanpa anak-anak mereka karena ada di rumah. Mereka pun hanya ada waktu bersama jika makan siang saja.
" eih kalian bawa kan foto kalian waktu kecil." tanya Cici.
" bawa sih tapi mau di apain dari kemarin nyuru mulu." ucap Mita.
" ya cuma mau gua gantung gitu. Di ruangan khusus di rumah gua jadi ntar juga ada waktu SMA ada waktu kuliah dan ya kayak gini." ucap Cici.
" astaga para loe udah jadi Bundanya Demian masih aja lebay." ucap Citra.
" hehehe justru itu kita udah jadi orangtua makanya minta itu jadi kalau kangen tinggal di lihat deh." ucap Cici cekikikan.
" Buat apa coba ada yang namanya vidio call." ucap Aulia.
" bedalah sayang-sayangku. Masa gitu aja nggak ngerti." ucap Cici.
" hmm terserah deh ci..asal loe bahagia." ucap Mita.
Sementara para cowok dan Aulidia hanya mendengarkan percakapan mereka sambil menyantap makanannya.
" eh kalau kalian Yoga, Aulidia kapan nyusul nikah gih." ucap Cici membuat wajah Aulidia merah malu sementara Yoga hanya menatap Cici dengan ekspresi datar. Tetapi yang lainnya tersenyum bahkan menahan tawanya.
" ngomong gitu lagi. Habis gigi kalian." ucap Aulidia membuat tawa mereka pecah.
__ADS_1
" galak amat." ucap Mita.
" seremmmm." ucap Cici.
" udah-udah makan cepet. Dan Cici nih foto aku sama Aldi." ucap Aulia menyerahkan fotonya sesuai permintaan Aulia.
" makasih." ucap Cici menatap foto itu lalu tertawa. " ternyata kalian gemesin mukanya lucu banget hahaha." ucap Cici.
" iya lah."
" ini dari aku sama Beni." ucap Mita menyerahkan dua lembar foto.
" ini aku sama Aris." ucap Citra menyerahkan dua lembar foto.
" ini aku." ucap Aulidia.
" bentar ada di dompet gua." Yoga mengeluarkan dompetnya." nih.." Yoga menyerahkan fotonya.
" widihh isinya itu loh." ucap Aris.
" banyak amat kartu-kartu loe itu. Berapa aja isinya." ucap Beni.
Aulia yang menoleh ke arah Yoga dan matanya terbelalak sempurna bukan karena kartu-kartunya tapi sesuatu yang menganggu menurut Aulia. Aulia langsung merampas dompet Yoga.
" eh main rampas aja. Uang bulanan Aldi kurang apa." protes Yoga, Aulia tidak menjawab tapi Yoga juga tidak segera mengambil dompetnya dan membiarkan Aulia memeriksanya.
" Astaga Aldi ini pasti loe nggak pernah kasi Aulia uang bulanan yah." ucap Doni.
__ADS_1
" enak aja sebulan 50 juta gua kirim kadang lebih malahan." protes Aldi yang di katain tidak menafkahi Aulia.
" hah...50 juta." ucap mereka bersamaan dan wajah kaget. Aulia tidak peduli dengan ucapannya dia melepas semua isi dompet Yoga.
" ini gimana caranya di ambil." ucap Aulia menunjuk sebuah foto.
" oh foto itu ternyata." ucap Yoga. " emangnya ada apa sih."
" inikan Intan waktu kecil." ucap Aldi.
" hah..." Yoga kaget.
" dan aku nggak pernah lihat deh nih anak kecil." ucap Aulia.
" dan ini kayaknya di Makassar deh latarnya. Perasaan Intan nggak pernah ke sana waktu kecil." ucap Aldi. " oh apa ini kamu yah lidia."
" coba lihat." ucap Aulidia.
" iya ini sih kayaknya aku. Soalnya ini kayaknya waktu umur aku sekitar 6 tahun. Dan aku ada di Makassar waktu umur segitu sampai umur 11 kayaknya." jelas Aulidia. " terus kayak pernah lihat juga sih nih anak cowok." ucap Aulidia mengingat kembali.
" itu gua." ucap Yoga. " kenal sama kalung ini." ucap Yoga memperlihatkan sebuah kalung berhuruf A.
Aulidia menatap Yoga dalam yang sedang memengang sebuah kalung.
Aulidia mengambil kalung itu dan melihat di belakang kalung itu ada ukiran halus bertuliskan Aulidia.
" iya tahu ini kalung aku waktu kecil. Dan aku beri ini sama anak cowok yang ada di foto itu. Karena waktu itu aku lihat dia lagi bersedih di Pantai Losari, menangis sendirian." ucap Aulidia agak pelan dan gelagapan. " lalu kita foto bersama saat neneknya datang menjemput, untuk...." ucapan Aulidia terpotong karena Yoga.
__ADS_1