
Di rumah sakit....
Sesampai disana aulia langsung berlari menuju ruangan yang sudah di beri tahu ervin. Yang lainnya mengikuti langkah aulia.
" kak!! Kak bagaimana keadaan papa." kata aulia cemas.
" belum ada kabar."
" papa nggak akan kenapa-napakan, papa akan baik-baik saja iya kan kak, papa baik- baik saja hikss hikss." aulia memeluk ervin dan menangis.
" kita doain saja yah." ervin mengelus kepala aulia.
" sebenarnya ada apa ervin." tanya ibu ana.
" papa....papa tiba-tiba serangan jantung bu." kata ervin masih di peluk aulia.
" ya ampun semoga papa baik-baik saja." kata aldi mendekati mereka dan berusaha menenangkan aulia.
Aulia menunggu keluarnya dokter yang merawat papa ray. 10, 20, 30 menit akhirnya keluarlah dokter.
" dokter bagaimana keadaan papa ray." tanya aulia.
" keadaan pak raymond memburuk dan tapi dia sudah sadar, dia minta untuk tuan ervin dan nyonya aulia masuk menemuinya." jelas dokter.
" baik dok, terima kasih." aulia dan ervin masuk.
" papa....papa akan baik-baik saja kan." aulia mengenggam tangan papa ray.
" aulia, ervin anakku." kata papa ray lemas.
" papa, papa mau apa. Hmm."
" papa mungkin sudah tidak lama lagi. Papa mau kalian yang ada di samping papa meskipun papa mau ada satu orang lagi. Tapi dia tidak ada di sini jadi kalian saja."
__ADS_1
" papa...jangan bilang begitu. Aulia sayang sama papa. Kita baru bersama 4 tahun yang lalu itu belum cukup pa."
" sayang, kamu jangan nangis ya. Papa juga sayang sama kamu dan ervin. Asisten papa sudah kamu telfon ervin."
" iya pa. Dia ada diluar."
" kalau begitu panggil dia. Ibu kamu, syamsul, reza, aldi dan tania yah." pinta papa ray pada ervin.
" iya pa."
" mereka sudah di sini pa."
" pak rafli tolong." kata papa ray pada asistennya.
" baik pak."
Asisten papa ray membacakan surat wasiat, yang akan di berikan pada anak-anaknya, bukan hanya ervin dan aulia tapi papa ray memberikan juga pada reza dan cucunya serta mantunya dan satu nama lagi dirahasiakan sementara ini di titipkan oleh bu ana dan jika suatu saat nanti ketemu akan di berikan padanya tapi jika tidak itu di berikan pada aulia.
" siapa yang dirahasiakan namanya." aulia bingung.
" papa, aku tidak peduli dengan wasiatnya aku mau papa sehat sehat saja." aulia menangis dia membaringkan kepalanya di samping papa ray.
" semua akan kembali ke pangkuan ilahi nak. Mungkin papa akan sebentar lagi."
" ervin jagalah adikmu, istrimu dan cucu papa."
" iya pa. Papa..." ervin tidak kuasa untuk bicara bahkan air matanya mengalir dia tidak peduli siapa yang melihatnya menangis.
" aldi jagalah anak papa, sayangi dia jangan pernah berbuat kasar padanya."
" iya papa. Papa tenang aja aku pasti bakalan lindungin istriku."
" makasih."
__ADS_1
Tit tit tit tit suara komputer
" papa sayang sama kalian." itulah kata kata terakhir papa ray.
" papa papa .....papa hiks hiks hiks.... Papa." aulia memeluk tubuh papa ray.
" papa. Hiks hiks...hiks." ervin menangis dan memeluk papanya.
" inalilahi waiina ilaihi rajiun. Semoga papa kalian bersama ilahi. Dan diterima di sisi allah."
Aulia drop, dia di tenangkan oleh aldi dan ibu ana. Sahabatnya yang mendengar kematiannya pun berusaha menenangkan aulia.
Sejak kematian papa ray sudah satu minggu aulia tidak bekerja dan sejak saat satu minggu itu juga sahabat dan keluarga aulia setiap hari berkunjung kerumahnya.
Tritt triit triit.
Aulia dan yoga mendapat telfon bersamaan.
" Halo assalamualikum." kata orang di seberang sana.
" waalaikumsalam siapa yah." kata aulia dan yoga bersamaan. Mereka baru sadar ternyata telfon itu sambung tiga.
" apakah ini sahabat dan kekasih Laura Nuri Sulaiman."
" iya saya sahabatnya." ucap aulia saling memandang yoga.
" dan saya kekasihnya. Ada apa pak. Apa ada kabar tentang laura." tanya yoga yang juga memandang aulia.
" begini nak saya papi laura. Sudah hampir 4 tahun laura tidak mengabari kalian. Laura..."
" laura kenapa om."
" laura menderita penyakit kanker hati dan dia sekarang ada di jakarta tapi..."
__ADS_1
Wajah aulia dan yoga mulai tegang dan pucat.